Gendhing lara
Semenjak kau beranjak dari jarak. Aku perlahan mengenal arah arti sebuah detak. Bunyinya seperti sepi yang takut untuk terungkap juga malu menyebutnya sebagai perihal sesak. Bila bukan dengan sengal napas semakin menderu entah selama apa aku menahan deru kalbu. Padahal air mata bergelantungan tak sabar terjun pada kedalaman tebing pipiku. Meluncur bebas sampai ke pinggiran bibir dengan deras. Dengan basah dan terbata aku menyebut namamu dalam jarak dan setengah ambigu.
Dalam hatiku, aku mengalami gempa dari bayang hampa. Patahaannya terukir bersama rumit sungai arteri. Menembus katup dan mencampuraduk sirkulasi perasaan yang tak sempat menyebut sebuah nama. Segalanya runyam, ketika langit-langit dada menjadi muram. Hilang tenggelam dibanjiri darah yang pecah dari ketakutan mengenal sebuah wajah. Sampai akhirnya, mataku menjadi basah pada gugup tubuh dan resah jiwa.
Inilah mungkin keinginan untuk bertemu yang sudah tak bisa lagi dibendung ragu. Seketika dada bergemuruh tak peduli jeda luka makin melepuh. Seketika darah menyerah mengalir dalam liuk yang tak pernah kita mengerti, kemana ia berujung menemui sumber denyut nadi. Seandainya pertemuan tak perlu berhulu pada titik perpisahan, aku cukup menjadi aliran darah dalam tubuhmu. Hanya sebatas darah yang cukup dengan memperhatikanmu tanpa pernah peduli kapan kau merasakanku. Aku yang sebatas darah, adalah padamu dan kau adalah aku yang menjelma segumpal rindu.
Selama ini, aku adalah jarak dalam hembus napasmu. Mengudara menemui lentera, menyalakan bianglala yang hendak bersua di kedua bola matamu
Di penghujung langit, matahari tertelan bulan, menemui ajal menjelma sinyal kepada mata yang tak pernah siap mengeja arah senja. Sejauh mana kita perlu siap, ketika raut sudah gugup dan mulut tertelan gagap. Tak ada jalan lain, menemuimu bukanlah perkara siap, tapilah sekadar sekuat apa aku kelak menahan gegap.
Semenjak kau beranjak, aku perlahan mengerti arah gelisah menuntun sebuah langkah. Barangkali aku mulai tersesat di antara gelap rongga dermaga yang mulai hampa. Tak ada sampan kecuali beberapa bising suara yang masih tersimpan. Tak ada layar terkembang kecuali sedikit bisik angin dari laut yang menyampaikan kabar samar nan bimbang.
Sebelum laut kian pasang, tiang penyangga kapal telah terpancang. Menjadi sandar teruntuk diriku yang bangun di antara sadar dan nanar. Kau yang kutuju, hanyalah rindu dan debar yang perlu ditenangkan lebih dulu.
Barangkali aku akan berjalan dengan nyala mata lilin di sebuah tangan. Cahaya redup dan teduh, hidup sebagai peta penata langkah yang resah menuju arah pelukanmu. Meniti sungai yang sepi dan syahdu dilantun kicau burung kenari. Deras air beradu batu, melahirkan riak-riak menyanyikan jarak. Ini adalah sungai dari pantai yang tak pernah disinggahi. Tubuh berpasirnya perawan dari jejak seorang perempuan. Harapan perlahan santun membangunkan arca yang kian dingin di kepalamu. Dan angin tak terekam keadaan, sungai masih sepi dan aku perlahan sampai. Bilamana jemari tak beruas, tak mungkin aku ingin menemuimu. Sebab tangan tak tercipta sekadar hampar, ia ada untuk melahirkan sebuah genggaman.
Ketika jarak telah melahirkan nama, maka beranjak akan melahirkan duka. Tak ada yang bisa kau sabarkan pada debar, kecuali aku yang tegar menunggu rindu saling bertemu.
Barangkali aku adalah benang sari yang kerap berlari beradu detik untuk sampai kepada putik. Bagaimanapun angin kerap menyesatkanku, barangkali rindu akan tetap sampai ke ingatanmu.
Setelah nanti kau beranjak, aku adalah detak yang kehilangan resonansi bunyi. Seperti gendhing ketawang lara; Kepergianmu adalah kelahiran perih bertubi. Dan barangkali nisan adalah semayam di dada kiriku nanti.
—April 2024















