Kisah Si Pengembara
Ada seorang pengembara, terjebak di hutan belantara. Entah kenapa ia bisa tiba di sana, panjang ceritanya.
Badannya kuyu, matanya sayu. Tiga hari tidak makan, yang ada teriaknya perut selalu ia tahan.
Malam ini masuk malam keempat ia tersesat. Rasa-rasanya derita hidupnya makin penat. Geraknya melambat. Sesekali ia terjatuh dan hanya bisa merayap lamat-lamat.
Ia terhenti oleh sesuatu yang keras mengganjal laju jalannya. Ia lihat hanya seonggok batu yang diam saja. Setengah tidak sadar ia mencecar. "Kenapa kau halangi aku? Dasar batu kurang ajar!"
Entah apa salah si batu. Beribu tahun ia diam di situ. Mendapat sumpah serapah. Hanya sesuatu yang ia tak perbuat salah.
Pengembara itu akhirnya terdiam. Marahnya membuat rasa hausnya membungkam. Rasa lemah dibadannya semakin hebat. Akhirnya pingsan karena sudah tak kuat.
***
Esok harinya ia tersadar. Terbangun oleh wangi bunga disampingnya yang sedang mekar. Dilihatnya daun-daun basah oleh embun pagi. Segera diminum hingga segar kembali.
Sang pengembara akhirnya mampu untuk duduk. Bersedekap memeluk lutut dengan pungguk membungkuk. Ia menangis tersedu-sedu. Disisa air matanya yang hanya bisa jatuh di hari itu.
Ia meronta dan merasa kecewa. Memaki Tuhan dan minta nyawanya agar segera diambil saja.
***
Seekor burung kecil terbang menari di sampingnya. Mengitari bunga dan menghisap sarinya.
Rumput-rumput yang semula kering cokelat layu di sekitarnya tumbuh kecil-kecil tunas baru. Lama termenug ia berpikir, ada yang mati maka akan ada yang lahir
Ia perhatikannya bumi sekelilingnya, nyatanya tak semurung yang ia duga. Tuhan ciptakan kemalangan, derita, bahagia serta suka cita.
Lambat laun mentari meninggi, sinarnya hangatkan bumi. Kilau cahayanya membuka mata si pegembara, seperti ada harapan ia bangkitkan badannya.
“Bumi ini luas!” ujarnya tegas. “Aku harus berusaha lebih keras, daripada mati meranggas.”
Ia pun bergegas berdiri, berjalan kemudian berlari. Yakinnya dalam hati, luasnya belantara pasti kan bertepi.
Maka tiap jangkah ia melangkah, ia jalani sambil bebenah. Mengambil pengalaman dan pelajaran dari dalam belantaranya hutan.
***
Ingatlah kawan kisah ini sebagai sebuah petuah. Bahwa hidup dengan sadar sabagai laku ibadah.
Petunjuk tuhan, ambil dan teladankan. Akar tak tersesat, pelajari lagi amalkan.










