Merelakanmu pun juga Harus Belajar
Ada sepasang hati yang bila bersama seperti sepasang burung di pagi hari, bernyanyi, terbang kesana kemari, begitu menyenangkan, begitu menentramkan. Adapula sepasang hati yang bila bersama, seperti dua kutub magnet yang searah, saling menolak, saling menarik kutub sebaliknya, begitu melelahkan. Dan aku yakin, Puan, kita bukan sepasang hati seperti kutub magnet itu.
--
Tuan, aku masih Ingat bagaimana rasanya sewaktu pertama kali rasa ini hadir bersama denganmu. Temu yang diatur oleh sang waktu itu, menjadi takdir bagi hati kita untuk saling beradu rasa. Seperti sepasang burung yang melayang di udara, bebas lepas dan saling menyeimbangi, dan kau selalu mengibaratkan kita seperti itu, pun dengan rasa yang makin membara di dalam dada, tak ada paksaan, semua berjalan sesuai ritmenya.
--
Namun, Puan, ada pula sepasang hati tak seperti sepasang burung, ataupun dua kutub magnet yang selalu kuibaratkan itu. Mungkin karena terlalu besar cinta yang saling diluapkan, menjadikan kita lupa adanya kenyataan-kenyataan yang tak saling beriringan. Cinta yang diberikan seperti memberi bahan bakar untuk rasa serta ego kita yang makin membara, logika hanya kepulan-kepulan asap yang membumbung tinggi kemudian hilang entah kemana. Lalu kenyataan semacam bom waktu, lambat laun bertumbuh lalu meledak pada masa-masa yang tak kita inginkan. Sanggupkah kita menanggungnya?
--
Bagiku, tak ada yang lebih berat dari kenyataan jika harus kehilangan sosokmu. Tak masalah jika arah langkah kedepan menjadi berat, tak masalah jika jalan terjal harus kulalui tanpa alas kaki sekalipun, tapi jika perpisahan yang menjadi penyebab akan kehilanganmu, aku rasa aku tak akan sanggup menanggungnya. Tuan, cinta hadir untuk menjadi pelengkap dalam hidup kita. Cinta sering kali mengacau-balaukan nalar agar ego pun logika menjadi tak karuan. Namun, seperti kata pepatah, semua hanyalah sementara, sebab kini, cintamu terasa redup, dan aku mulai takut.
--
Cinta tak redup, Puan. Ia menyala, terang seperti sediakala. Hanya saja pelan-pelan aku sadar, hanya cintakah yang kita inginkan? Sadarkah Puan, jika hidup tak akan berjalan sebagaimana mestinya jika yang kita tahu hanyalah cinta. Kita perlu menikmati asam garam kehidupan untuk bisa menjadi kuat menghadapi apapun. Seperti menghadapi perpisahan pun kehilangan yang menjadi mimpi buruk nyata bagi siapa saja, hadirnya mengacak-acak perasaan kita dan membuat kita jatuh sejatuhnya. Nyatanya, ada esok yang harus kita beri makan. Ada esok yang jauh lebih berharga untuk kita jalani ketimbang terpuruk untuk sebuah kehilangan. Tapi, tenang saja, aku tidak hilang Puan, aku masih di sini. Aku masih melihatmu seperti sepasang burung itu, meski kini bukan aku yang terbang di sebelahmu.
--
Haruskah kini kita mulai mengucapkan selamat datang pada kehilangan? Haruskah kini aku mulai belajar merelakan pertemuan kita yang harap-harap berakhir pada sebuah perpisahan? Haruskah semua ini terjadi? Tuan, aku tahu pun mengerti, bahwa cintamu memang tak redup, tapi harapmu kepadakulah yang kini meragu. Jujur saja, tak pernah ada sebelumnya yang bisa membuatku hidup, bahkan bertahan dalam keterpurukan selain dirimu, bahkan tak ada raga yang siap menopangku saat terjatuh sekalipun selain dirimu. Lalu kini apakah aku harus mengulang keterpurukan yang sama? Mengulang rasa sakit yang sama? Apakah harus terjadi kembali? Namun, aku sadar, definisi bahagia adalah melihat orang yang kita sayangi berbahagia meski tanpa ada kita bersamanya, dan aku rasa mungkin ini jalan satu-satunya untuk membuat kita menjadi sosok yang bahagia; tanpa saling bersama, tanpa lagi melangkah di jalan yang sama dengan harapan yang sama pula. Tuan, jika bahagiamu memang tanpa ada aku bersamamu, kini aku akan belajar merelakan kepergianmu meski pahit sekalipun.
--
Puan, sebenarnya tak menjadi sebuah keharusan untuk kita mengucapkan selamat datang atau selamat tinggal pada apapun, dan pada siapapun. Karena siapakah yang benar-benar hilang, sedang aku tetap di sini. Sesederhana sebaris pepatah 'Mati satu tumbuh seribu', sesederhana itu pula perpisahan melahirkan pertemuan-pertemuan. Pertemuan yang terjadi bukan karena terbenturnya sebuah kecelakaan dan keajaiban, seperti pertemuan kita kala itu, sungguh bukan itu yang kita inginkan. Lalu apakah guna harapku jika yang kuragukan hanyalah keraguan-keraguan untuk diriku sendiri. Cukup, kau tak perlu risau, akan selalu ada yang terbaik di atas yang baik-baik, dan aku bukan termasuk seorang yang baik, apalagi yang terbaik, aku rasa bukan. Dan keadaan terpuruk akan menjadikannya semakin terasa menyakitkan, tolong lupakan dan ingatlah, Puan, setidaknya pernah ada waktu kita saling mengobati, merawat, lalu menumbuhkan kembali cinta yang mati oleh karena luka yang begitu pilu dari reruntuhan peristiwa-peristiwa masa lalu. Puan, takdir memang pahit, tapi cinta tak boleh kembali mati, aku tak ingin waktuku yang lalu sia-sia karena ia kembali mati. Dan yang terakhir, Puan, Bahagiaku akan selalu ada bersama dengan bahagiamu, Selalu.
--
Tangerang – Malang, 22 Februari 2019
Kolaborasi Prosa Februari kesembilan bersama @kertasnasi dan @ayuriskiyana .













