Seraut Srikandi
Terlalu cantik untuk menjadi pria, namun terlalu tampan untuk jadi wanita. Ah, sebetulnya dia itu siapa? Srikandi?
Aku tak mau dianggap gila karena memandanginya terus-terusan, seperti gadis-gadis pendamba pangeran. Tapi wajahnya seperti memiliki magnet yang membuatku enggan melepas lekatan pandangan. Dia cantik, namun tampan. Manusia macam apa itu?
Dan kalau tingkahku yang memandanginya terus itu belum cukup sinting, biar kutambahkan satu hal lagi: Dia lebih muda 6 tahun dariku. Saat dia baru lahir, aku sudah berlari-larian di jam istirahat memakai seragam merah-putih. Sekarang? Aku seperti tante-tante yang terpikat pada berondong muda. Astaga!
Dia mendongak, pandangan kami bertubrukan. Cepat aku melempar tatapanku ke layar laptop, kembali membaca sebuah artikel yang sejak setengah jam lalu masih kubaca di kalimat yang itu-itu saja. Berkutat pada keinginan untuk terus memandangi seraut wajah cantik yang tampan itu, dan berperang pada diri sendiri karena di satu sisi aku memang ingin memandanginya terus, tapi di sisi lain, segumpal kewarasan menghantam-hantam: Dasar gila! Dia masih bocah!
Ugh, sebetulnya dia bukan lagi bocah. Tapi dibanding diriku, jelas dia bocah!
Aku tahu namanya, namun dia tidak tahu namaku. Tentu saja aku tahu dia (Informanku di mana-mana!), walau kami hanya sesekali bertemu dan berpapasan di ruang duduk. Kalau dia ada, segala konsentrasiku buyar karena otakku terlalu bising, ingin terus menatapnya sambil merutuki diri sendiri. Bisa-bisanya wanita seumuranmu curi-curi pandang pada anak muda itu!
Ah, dunia sinting. Aku sinting.
Atau mungkin,
lebih tepatnya,
aku terlalu lama terkungkung sepi?
Makanya jadi sinting.
BSD,
4 Desember 2019










