Aku menemukanmu terbaring di tengah jalanan yang sibuk dengan kendaraan berlalu lalang; terluka parah, sayapmu patah dan dari sudut bibirmu ada jejak bekas darah. Kupapah kau perlahan ke trotoar demi memastikan apakah masih ada sisa tanda kehidupan. Untunglah. Aku merasakan ada denyut lemah saat meraba lehermu yang sudah sepucat cairan susu. Tidak perlu waktu lama, kau kini sudah kubaringkan di ranjangku, dengan selembar kain penyeka dan sebaskom air hangat aku mulai membersihkan luka-luka yang membuatmu terlihat menyedihkan. Tak banyak reaksi yang kau berikan terhadap sentuhanku di atas lukamu. Yang terparah, pelipismu robek tak kurang dari lima senti. Tampak juga lebam biru membayang di sekitar permukaan kulit keningmu. Aku tak bisa menebak kiranya benda keras apa yang telah dibenturkan kesana, atau jatuh macam apa yang membuatmu harus menanggung bilur itu. Sayapmu yang patah satu telah kubebat erat-erat, berharap tidak menambah banyak pergeseran tulang saat kau sedikit saja melakukan pergerakan--nanti--andai saja kau sadarkan diri. Aku khawatir kau terlalu sekarat untuk diselamatkan, selain itu aku tak punya terlalu banyak waktu untuk menunggu kau siuman. Tak ada pilihan lain, aku membuka lemari di sisi kamar yang menghadap jendela, tapi sebelum melakukan gerakan selanjutnya aku urungkan karena khawatir ada sosok lain yang memata-mataiku di luar sana. Maka kemudian dengan satu gerakan kilat kusentakkan kerai penutup jendela kamarku, lantas dengan sejurus langkah terburu-buru aku membuka laci yang dilindungi dengan kunci kombinasi, di dalamnya tampak sebentuk amulet--kalung dengan liontin kristal berbentuk tabung--yang memantulkan cahaya ganjil dari cairan biru bening di balik permukaannya. Aku meraih benda itu, masih dengan tergesa, karena aku mengkhawatirkan banyak hal yang mungkin saja tak tampak oleh mataku tapi sewaktu-waktu bisa membahayakan keselamatanmu. Sedetik kemudian aku sudah mensejajari kepalamu yang terkulai ke sisi kiri, tepat menghadap padaku andai saja kau bisa membuka mata. Aku mengusap lembut bibirmu yang nampak sobek di ujungnya, sekalipun aku berusaha membersihkannya dengan seksama, ternyata luka itu tak bisa bersembunyi dan malah membuatku bergidig ngeri. Tanpa banyak mengulur waktu lagi, dan tentunya tanpa perlu meminta persetujuan darimu, aku kerucutkan mulutmu dengan tanganku sehingga tampak agak menganga, lantas cairan biru bening yang selalu tampak bersinar ganjil dari dalam amuletku mengalir, berpindah ke lidahmu dan menyelusup di antara gigi geligi. Aku menunggu dengan cemas. Sedetik. Tiga detik. Tampak tak ada reaksi dan aku hampir saja memaki diriku sendiri, sampai tiba-tiba... Kau tersedak hebat, mukamu sesaat membiru-pucat pasi, berganti-ganti, seperti keracunan cairan pengawet mayat. Aku yakin mataku pasti membelalak sampai batas maksimalnya demi menyaksikan tubuhmu yang menggelinjang seperti ikan yang terlempar ke daratan. Aku menahan kedua tanganmu agar tidak terlalu banyak melakukan gerakan yang membuat sepasang sayapmu menggelepak tak beraturan, pasti kau tak tahu kalau sayapmu telah patah satu. Ternyata kau melakukan perlawanan. Aku tak menyangka akan sebanyak ini tenaga yang terkuras demi menenangkanmu dan membiarkan cairan biruku bekerja untuk menggenapi kembali nyawamu. Entah sudah berapa lama kau dan aku seperti sedang bergumul dengan kesadaran yang berat sebelah, tentunya aku yang memegang kendali atas kesadaranmu yang belum kembali, hingga akhirnya kau menegang dengan satu sentakan keras--seolah-olah ada seekor naga yang menerabas keluar dari dalam tubuhmu--lalu kau mulai tampak lemas seketika, seakan tulang belulang di seluruh tubuhmu dilucuti. Aku menatap ke dalam matamu yang semula sekosong kastil berhantu, kini tampak mengedip perlahan, semacam penyesuaian terhadap cahaya muram yang ada di sekitar kamar tidurku. Sepuluh detik kemudian, aku yakin kau sudah menatapku sepenuhnya, dan aku tahu bahwa kau pasti benar-benar menyadari siapa aku--orang yang sejak berabad silam kau cari, sampai harus bersulih rupa menjadi belasan wujud inkarnasi. Ya, hari ini orang itu tepat ada di depan matamu, duduk di tepi ranjang sedang berusaha menyelamatkan nyawamu, dan kau masih saja menatapku dengan pandangan yang sama seperti berabad lalu, waktu kau mati-matian memburuku dengan cara yang tidak biasa. Aku sadar, sekarang kau berusaha bangkit--atau setidaknya menegakkan tubuhmu yang terlalu terluka--untuk memastikan bahwa kau sedang berhadapan dengan apa yang kau cari selama ini. Aku. Tapi sekarang kau bahkan terlalu ringkih untuk menegakkan telinga, maka kutahan agar kau tak bergerak lagi. Kau menurutiku. Ratusan tahun tidak membuatku lupa dengan parasmu. Dengan sepasang sayap yang jika berkepak akan tampak memendarkan cahaya. Kau masih sama, sekalipun aku telah malih rupa dalam beragam reinkarnasi dan bermacam-macam kehidupan, aku yakin kau pun masih mengenaliku sebaik dulu. Begitulah cara Penguasa menciptakanmu, lengkap dengan naluri sekuat indera hiu yang membaui anyir darah mangsa di sekitar perairan kekuasaannya, berusaha memburuku. Sesaat waktu seolah memberi jeda hening di antara kita berdua. Kau memberikan tatapan seolah merindukanku sepanjang hayatmu, sebagai balasan kulemparkan senyuman yang entah terlihat seperti apa di matamu. Aku tak biasa bersimpati dengan musuhku. Mungkin Penguasa yang mengatur skenario ini, sampai-sampai aku yang menemukanmu, tidak seperti sebagaimana mestinya; bahwa kaulah yang seharusnya melakukan pencarian. Melihat tatapan mata itu, aku seolah berhenti peduli dengan apa yang telah terjadi antara kita berabad belakangan. Pelarian yang tak kunjung berakhir, kau seperti momok mengertikan yang selalu menakutiku. Tapi saat itu, anehnya yang kuinginkan hanyalah melakukan satu hal gila yang bahkan tak akan pernah kau duga juga. Aku tak bisa lagi mengendalikan tubuhku, seolah-olah semua pergerakan yang terjadi berjalan di luar nalar dan bukan atas perintah otakku sendiri. Tak berselang lama, aku sudah membungkuk di atas tubuhmu, mengulum sepasang bibir yang terluka itu. Anyir, masih ada tetesan darah yang tersisa disana. Aku tak sempat merasakan keheranan atas reaksi aneh selanjutnya, kau membalas, memagut lembut. Dan aku begitu menikmati semua ini. Lagi-lagi, aku yakin ini adalah rekayasa Penguasa dalam usahanya melumpuhkanku lewat perantaramu. Aku tidak tahu kapan kau mengeluarkannya, tapi semua terlalu rapi untuk dibilang sembunyi-sembunyi sampai mataku yang jeli mampu dikelabui. Selepas cumbuan itu kau melepaskan bibirku, sejurus melempar tatapan kasihan lengkap dengan senyum sinis terkembang--khas seperti kau yang selalu serampangan di musim perburuan. Aku hanya bisa mengedipkan mata, nafasku tercekat, keluar satu per satu dari rongga paru-paru dengan rasa nyeri yang tak tertanggungkan. Aku mulai bisa merasakan, ada cairan hangat yang mengalir dari rongga yang kuyakini tempat jantungku seharusnya berada. Aku menatapmu kali ini, tak percaya. Ada belati perak di tangan kananmu, yang sebelumnya entah kau selipkan dimana. Cairan merah pekat menetes-netes dari ujungnya. Senyum itu rekah di wajahmu sekali lagi. Penuh kemenangan. Tubuhku mulai terasa berat, terlalu berat untuk kutegakkan dan memberi perlawanan. Aku hanya bisa terus menatapmu, menghakimi dengan kedipan mataku yang memburam. Kau mengusap rambutku, bahkan rasanya kau mengecup keningku, sebelum pandanganku yang mulai nanar tersapu bayangan hitam. Gelap. Tugas malaikat pencabut nyawa bisa kau tunaikan dengan sempurna. Aku tersungkur, tepat di pelukan mautmu. 50% fiksi | Pembaringan, 25 September 2015, 02:17