[this is how it feels]
seen from China

seen from United Kingdom
seen from China
seen from United States

seen from Italy

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from T1

seen from Italy

seen from T1
seen from United Kingdom

seen from T1

seen from T1
seen from Italy

seen from United States
seen from Egypt

seen from United States
seen from Italy
[this is how it feels]

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Koyunlarda embrio nakli, fertilize olmuş ve normal gelişmesine devam eden zigot'un (zigotların) ana hayvanın oviduct ya da uterusundan
Koyunlarda Embrio Nakli - Vet. Hek. Can Metin Yazıcı #koyun #embrio #embriyo #nakil #sheep #vet #pet #veterinary #veteriner #vetrehberi
Gamet vs. Embrio: Mana Yang Lebih Berharga?
Perdebatan antara mana yang lebih berharga antara sel-sel gamet yang dihasilkan sel seks germinal dengan sel embrionik yang berasal dari zigot merupakan hal yang sepatutnya giat dibicarakan dalam ilmu bioetika karena menyangkut banyak implementasi teknologi dan kontroversi moral dan hukum. Diskursus mengenai nilai dari suatu materi biologis sangat berdampak pada konsekuensi etik pada bidang teknologi bantuan reproduksi in-vitro, usaha kloning untuk keperluan terapeutik, masalah aborsi dan hak hidup embrio, penelitian terhadap sel punca, kontrasepsi, dan hak-hak LGBT untuk dapat memiliki keturunan.
Masalah etik yang ada dalam pengambilan, penyimpanan, dan penggunaan material biologis seperti sampel biopsi seringkali tidak mengganggu keamanan fisik dari donor material biologis tersebut secara langsung, akan tetapi distribusi informasi genetik yang terjadi sebagai konsekuensi proses penggunaan dan penelitian tetap dapat menyebabkan kerugian immaterial. Diperlukan suatu kerangka berpikir untuk menilai seberapa berharganya suatu material biologis yang diambil dari manusia untuk keperluan diagnostik, penelitian, dan terapi. Oleh karena sel gamet dan sel embrio merupakan suatu materi biologi yang dianggap lebih berharga daripada sel-sel somatik non-pluripoten lainnya yang tidak memiliki kemampuan untuk menciptakan kehidupan baru, maka kerangkat berpikir ini dapat digunakan untuk menjustifikasi diskursus etik lebih banyak tentang cara yang baik dan konsekuensi terhadap mishandling sel gamet dan sel embrionik di pusat penyimpanan materi biologis, disebut sebagai suatu institusi biobank.
Selain ditinjau dari kacamata biomedis, pentingnya diskusi bioetika mengenai nilai dari gamet dan embrio ini juga penting bagi perkembangan ilmu konservasi terutama hewan mamalia yang terancam kepunahan, dimana penelitian, penyimpanan, dan pemindahan materi genetik yang terkandung dalam sperma atau ovum lebih mudah dilakukan daripada membawa embrio yang di beberapa negara dapat dianggap memiliki status sebagai individu yang mungkin dilindungi undang-undang.
Kerangka berpikir yang sesuai dengan kaidah etika bertujuan untuk menjustifikasi penelitian, penyimpanan, dan pemindahan materi biologis yang ada tersebut secara tertib, misalnya dalam suatu institusi biobank. Memang, penggunaan kaidah etika yang jelas sangat penting untuk mendirikan suatu institusi biobank yang diperlukan. Namun, hal tersebut tidak cukup untuk memelihara keberlangsungan dari suatu institusi biobank yang diperlukan untuk melindungi materi biologis dan donornya tersebut. Dalam artikel pendek ini saya mengusulkan tiga kriteria untuk mengukur nilai dari sel gamet dan sel embrionik dan menentukan yang mana yang lebih berharga dan seharusnya mendapatkan porsi pembicaraan lebih dalam diskursus bioetik dengan menggunakan kaidah moral utilitarianisme yang menyangkut efisiensi dan efektivitas kerja suatu biobank. Ketiga alasan tersebut tersusun dalam argumen kelangkaan, argumen kepadatan, dan argumen kepraktisan.
Argumen kelangkaan
Cara mendapatkan, menyimpan, dan memelihara materi biologis. Semakin kompleks teknik ektraksi dan cara penyimpanan suatu materi biologis maka dapat dikatakan kelangkaan dan kerepotan tersebut meningkatkan nilai materi biologis tersebut menjadi semakin berharga. Dalam hal ini, jumlah sel folikel germinal yang dapat menumbuhkan oosit terbatas jumlahnya dan waktunya. Semakin tua usia donor maka kualitas oositnya menurun, sehingga sebaiknya dilakukan pemanenan telur saat usia dibawah 35 tahun. Tingkat kerumitan ini menyebabkan ovum memiliki nilai lebih tinggi daripada sperma. Nilai materi biologis yang berharga kemudian diikuti oleh sperma karena laki-laki dapat terus menghasilkan spermatozoa selama sel-sel folikel germinalnya masih ada dan donor masih hidup. Yang paling bawah adalah embrio, karena untuk membuat embrio baik secara in-vivo maupun in-vitro terlebih dahulu dibutuhkan keberadaan ovum dan sperma, yang tetap dapat dilakukan meskipun donor telah mati.
Berdasarkan cara penyimpanannya, sperma dan ovum memiliki sensitivitas tinggi terhadap cryopreservation dengan cara slow freezing sehingga lebih sulit disimpan karena mudah rusak. Metode vitrifikasi atau desikasi memiliki prosentasi keberhasilan yang lebih besar, sehingga beberapa orang tetap memilih untuk menyimpan gamet daripada embrio karena pertimbangan budaya dan agama. Pembentukan embrio dengan intracytoplasmic sperm injection (ICSI) telah mengabaikan faktor rusaknya motilitas sperma akibat penyimpanan karena pada akhirnya sperma disuntukkan secara langsung ke dalam sel. Oleh karena itu, penyimpanan materi biologis berupa gamet seperti sperma dan ovum memiliki nilai yang lebih tinggi daripada embrio karena cara yang kompleks dan permintaan yang tinggi.
Argumen kepadatan
Potensi riset dan pemanfaatan yang lebih luas meningkatkan nilai dari suatu materi biologis. Semakin tinggi potensial penggalian informasi yang dapat dihasilkan dari proses riset menggunakan suatu bahan, maka dapat dianggap nilai materi biologis tersebut semakin berharga. Sel gamet yang bersifat haploid lebih fleksibel sehingga memiliki nilai guna yang lebih tinggi dalam riset biologi molekuler. Pertama, hal ini disebabkan volume gamet yang lebih kecil dibandingkan embrio, sehingga dalam suatu wadah medium yang sama dapat disimpan lebih banyak informasi genetik. Selain itu, sel gamet memiliki peluang lebih besar untuk menghasilkan keanekaragaman ekspresi genetik ketika difusikan dengan sel gamet lainnya, entah yang sudah disimpan sebelumnya maupun yang baru saja diambil dari donor (fresh). Sel embrio yang berkembang dari zigot tidak memiliki keluwesan yang sama karena telah kehilangan pemrograman epigenetik yang teratur setelah proses fertilisasi hingga blastokista, sementara sel gamet masih memiliki identitas epigenetik yang tersimpan dalam genom haploidnya. Penggunaan gamet ini memiliki peluang penelitian yang lebih luas ketimbang embrio karena pada akhirnya untuk membuat embrio juga dibutuhkan gamet.
Argumen kepraktisan
Masalah etik yang timbul apabila materi biologis tersebut dijadikan sebagai bahan atau subjek penelitian atau pemanfaatan di bidang terapan. Semakin tinggi potensial konflik etika yang ada, maka penggunaan materi biologis menjadi semakin terbatas dan sulit untuk digunakan, sehingga nilainya semakin kurang berharga untuk riset dan pemanfaatan. Sel embrionik sangat rawan mengalami kontroversi etik karena melibatkan dua donor, sedangkan pada sel-sel gamet hanya satu donor untuk setiap tipe sehingga proses permohonan advance directive atau informed consent lebih fleksibel dan langsung. Masalah lain yang muncul akibat penyimpanan embrio adalah privasi dari dua orang sebagai induk dari embrio tersebut. Pada kasus ini, pemilik gamet hanya satu namun memiliki materi genetika yang lebih banyak sehingga lebih menguntungkan secara efisiensi pemeliharaan informasi pribadi yang menyangkut privasi. Jika advance directive didapatkan, maka masing-masing donor gamet dapat memberikan izin secara terpisah kepada peneliti untuk membuat kultur selama proses penelitian. Pada sel embrio, izin ini hanya dapat diberikan apabila kedua pihak sebagai induk embrio sudah setuju. Selain itu, kontroversi etik mengenai status dari embrio juga memberatkan beberapa peneliti dan donor dengan latar belakang budaya atau agama tertentu untuk melakukan penelitian, penyimpanan, dan pemindahan materi biologis tersebut. Dalam beberapa pandangan, embrio dapat disebut sebagai person maupun property, sedangkan gamet pada umumnya disebut sebagai property dan bisa dibahas secara komersial. Dalam hal ini, penyimpanan berupa gamet memiliki risiko yang lebih kecil untuk menghindari konflik dan dapat dinilai lebih berharga ketimbang embrio atas alasan kepraktisan.
Gamet juga bisa diturunkan dari sel embrionik?
Argumen yang saya berikan tentu saja tidak serta merta dapat diterima oleh kalangan-kalangan tertentu, khususnya yang memilih untuk memberikan nilai lebih pada embrio karena alasan tertentu. Mereka mungkin boleh berpendapat bahwa sel-sel gamet juga dapat dihasilkan dari sel embrionik yang disebut memiliki sifat pluripoten sehingga dapat menurunkan sel-sel somatik dan juga sel-sel germinal. Akan tetapi, izinkan saya menjawab peluang kritik tersebut dengan suatu counter-example yang merangkum kelemahan usulan ini, yakni masalah kemungkinan keberhasilan fusi gamet turunan (gamet sintetik) dengan gamet natural.
Perkembangan makhluk hidup hingga dewasa sangat bergantung pada pengaturan epigenetik yang dibawa oleh gamet induknya. Sperma dan ovum merupakan sel yang memiliki dua karakter khusus yang membedakan mereka dengan induknya. Meskipun sperma dan ovum membawa separuh informasi dari komponen genom induknya sehingga dapat menyebabkan peluang rekombinasi saat fertilisasi, kedua gamet tersebut tidak pernah bisa dianggap ekuivalen satu sama lain, karena beberapa gen tertentu merefleksikan kekhasan parentalnya dalam bentuk imprint genomik.
Hal ini menjelaskan mengapa usaha kloning embrio seringkali berujung kepada kegagalan karena terdapat informasi epigenetik yang tidak berhasil terprogram ulang ketika sel embrio tersebut diklon. Tanpa sel-sel gamet, peneliti akan mengalami kesulitan untuk mengidentifikasi kelainan yang disebabkan oleh mutase epigenomik tersebut, apalagi jika induk donor sel embrio tersebut tidak lagi dapat menghasilkan sel-sel gamet atau telah meninggal.
Referensi
We are all children of this planet. She created us for love. That we rejoice in the present moment and take care of nature, which gave us life. Be wise to love and respect your roots.🌳 Eden by Agni Dasein, 2012. Acrylic on canvas. . . #embrio #lovenature💚 #treepainting #contemporarypainting #acrylicart #luminous #reborn #figurativeart #psyhodelicart #veins #babies #paintingforinterior #viennart #wienkunst #viennaartists #ovum #reproductiverights #savenature #fridayforfuture (at Vienna, Austria) https://www.instagram.com/p/B8HRRPJHetD/?igshid=1s0kvzrd66dpd

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Branimir Vugdelija of Embrio and his girlfriend, Silvia Rančić
Este video de 6 minutos se titula "Becoming" y muestra el desarrollo embrionario del tritón alpino, desde su inicio como una única célula hasta su salida del huevo. El director, Jan van Ijken, presenta este proceso con calidad cinematográfica, logrando que el espectador se sorprenda una vez más al ver el milagro de la vida.
Simplicity and complexity