An Empty Heart
“Hujan membuatku berharap, hujan membuatku menanti kemudian”
Ah, rasanya tak sesakit itu ditinggalkan melepas lajang. Hanya sedikit ingin berkata-kata kasar tapi urung kulakukan. Aku benci mengingatnya, tapi kata terakhir yang dia ucapkan adalah “doa terbaik darimu akan kembali kepadamu, La”. Baiknya pikiranku adalah ingin mendapatkan doa terbaik juga dan kasih sayang yang Besar dari Yang Maha Penyayang.
Langit sepertinya sedang senang menggodaku, dengan rintikan hujan yang turun setiap harinya, pada akhir masa study ku. Semua itu berarti, ketika aku sudah tak banyak kegiatan di rumah, keseharianku adalah berada dalam petak 5x4 kamarku dan aku harus berpikir serta menyeleksi apa kegiatan yang aku lakukan. Menyeleksi?
Aku akan membatasi penggunaan sosial media instagram pribadiku dan hanya akan sering membukanya dalam akun resmi yang aku pegang. Mengapa? Begini….
16 Februari 2018 , masih di awal tahun genap yang aku suka angkanya. Bukan karena suatu ramalan atau ke hoki an. Aku memang suka angka genap, apalagi angka delapan yang terlihat tanpa garis putus. Awal tahun yang banyak hujan diturunkan, itu berarti tahun ini juga padi akan di panen berlimpah jika tak ada gangguan alam lain. Awal tahun yang mendebarkan karena siding skripsiku dilaksanakan pada tanggal 02 Februari 2018, pada hari jumat dan aku rasa aku berhasil. Awal tahun yang juga dalam waktu singkat hatiku di buat tertarik dan dipatahkan kasar setelah sebelumnya segalanya berjalan baik-baik saja.
Bulan Agustus 2017, seorang pria baik berkenan mengenalku dan memberitahukan niatnya. Aku biasa saja awalnya, tapi benar saja peribahasa jawa “Within trisno jalaran saka kulino”. Yap, aku berhasil dibuatnya yakin. Aku menyelesaikan pekerjaanku mengubur masa laluku setelah gagal menikah, dan berhasil melupakan. Obrolan kami sering terjadi di instagram. Dia punya selera humor sama sepertiku, dia punya gaya obrolan yang sama denganku, dan aku tak percaya, dia sangat-sangat mirip Ayahku.
Bagaimanapun usaha, kalau Tuhanku berkata bukan dan tidak, ya tak akan terjadi benar pertautan antara kami. Bulan Oktober dia memutuskan mundur dari proses karena suatu ketidak cocokan. Ah, lukaku bagai infeksi yang tak tuntas diberi antibiotik, hingga dosis antibiotiknya harus dinaikkan. Ya, aku lebih gigih lagi menyembuhkan luka itu kini, karena rasa sakitnya bertambah dan meradang. Baru dengannya lukaku yang kemarin sembuh, namun kini dengannya ternyata luka tak jadi sembuh.
Aku mengobati sendiri lagi, segalanya. Segala lukaku dari dulu aku rawat sendiri. Lebih keras aku pada tubuhku agar lukanya lekas sembuh. Hingga bulan Januari 2018, segalanya mulai membaik tanpanya, tanpa kabarnya, tanpa obrolannya, walau teramat sering dia muncul sebagai penonton dari story instagramku. Aku biarkan, walau ada harap juga yang sering muncul, dan berbagai kata andai.
Namun ketika aku mulai terbiasa tanpanya, lukaku semakin membaik, dia datang lagi. Entah bagaimana aku memaafkan segala darinya. Berbagai obrolan kami buka, berbagai candaan kami lontarkan. Aku heran ada apa, mengapa ia? Apa dia menyesal? Mengganjal memang, tapi aku wanita yang sangat sangat perasa. Ah, mugkin juga terlalu GR. Semua berjalan biasa saja sampai pada tanggal 16 Februari 2018, Undangan pernikahannya tersenyum lebar di beranda utama instagramku. Aku menatapnya sangat lama. Background hitam dengan hiasan bunga merah muda. Manis, aku suka tapi tidak dengan hatiku. Aku tak menangis, aku tak bisa menangis, ada yang mengganjal tapi aku tak bisa dan tak ingin menangis.
Entah berapa banyak istighfar aku ucapkan hari itu. Mugkin semuanya terasa mengawang, tapi pekerjaan desainku bisa aku selesaikan. Aku tak kehilangan nafsu makan walau hatiku berdebar sangat kencang. Usai shalat maghrib, Dia membuatku haru dan barulah keluar pertanyaanku pada-Nya “Allah, Engkau tak akan membiarkanku sendiri, kan?”
Begitulah















