Berbagai rasa syukur saya ucapkan kepada Sang Pencipta semua makhuk di muka bumi ini, Alhamdulillah saya melihat 2 garis merah setelah melaksanakan 2 rakaat. Ya! benar sekali I’M PREGNANT!! Hitungan pernikahan saya yang baru menginjak 2 bulan, saya diberi kepercayaan untuk menjaga janin mungil ini.
Saya mulai mengurangi aktivitas fisik yang berlebihan, menjaga asupan makan, dan mulai tidak menggunakan sedikit pun cosmetic yang menurut saya bisa membahayakan janin saya.
Trus mba nya langsung ke RS ga atau ke klinik gitu? mana tau kepo kan dengan umur janin yang sebener nya.
TIDAK. Saat saya ajak suami untuk memeriksakan kandungan, beliau menganut paham, orang jaman dulu juga bisa punya baby sehat tanpa sedikit sedikit ke RS. Yaa tidak bisa saya memaksakan beliau, saya pun menghormati keinginan beliau untuk memeriksakan nya saat saya sudah telat 1 bulan nanti saja. Pikir saya, tidak apa apa ya nak, kamu jangan nakal sampai kita periksa nanti. Sempat saya berfikir ada yang aneh dengan kandungan ini, tapi saya kan belum pernah hamil, jadi kayak sok tau kalau berfikiran buruk pada tubuh sendiri.
Baru memasuki hari ke empat setelah saya mengecek kehamilan yang hanya menggunakan testpact sedernaha yg harga 10 reboan dari apotek dekat rumah. Karena bosan dengan makanan sehat di rumah (sesuatu yang sehat selalu tidak ada rasa, dan membosankan hahaha) saya mengajak mas untuk sarapan di luar, walau hanya sekedar bubur ayam. Lagi pula sudah lama juga kami tidak keluar bareng karena mas selalu sibuk dengan pekerjaan nya.
“Mas, kok rasa nya badan beda ya, lebih enteng, ga kayak biasa nya” celetuk ku ke mas saat perjalanan.
Mas hanya menjawab sekedar nya “gapapa itu, mungkin karena tidur nya nyaman dan nyenyak tadi malam”
Ya selama sebulan lalu saya selalu mual sepanjang hari, tapi tidak hari itu. Aneh pikir batin ku, tapi tidak baik suudzon pada tubuh sendiri. Jadi saya abaikan saja hal ini. Tapi sayang nya setelah kita selesai sarapan dan kembali ke studio kerja mas, saya merasa keram perut seperti saat haid, namun beda nya kenapa tidak ada jeda keram.
Detik itu juga saya memanggil mas dan tiba tiba saya merasa mual luar biasa. Keluarlah semua sarapan yang tadi nya nikmat. Karena saya merasa lemas dan sesak yang begitu aneh, akhir nya mas membawa saya ke RS bersalin dekat studio. Mas yang identik dengan selalu tenang dalam situasi apapun itu mulai menunjukkan sedikit khawatir. Sesampai nya di IGD, dokter cuma mengatakan ini kram biasa, tapi mereka tetap mengambil urin dan darah saya untuk di check di lab. 30 menit berlalu, saya mengeluh sesak dada yang tidak tertahankan, perut ya terasa tertekan, namun sayangnya dokter khusus kandungan tak kunjung datang. Mungkin karena saat itu adalah tanggal merah sampai sulit sekali mereka mencari dokter yang siap melayani pasien di hari yang seharus bisa digunakan untuk keluarga nya.
60 menit berlalu, akhir nya ada dokter yang mau menangani saya, beliau langsung membawa saya ke ruang USG. Betapa terkejut nya kami yang ada disana, dengan sangat lantang dokter itu mengatakan “Baby anda di luar rahim dan sudah pendarahan, kita harus oprasi secepatnya! Ini KET, ga bisa di biarkan” Dan ternyata, baby saya sudah berumur 6 weeks.
KET itu kepanjangan dari Kehamilan Ektopik Terganggu, yang artinya kehamilan yang terjadi diluar rahim, seperti di serviks, tuba fallopi, ovarium dan abdomen
Oh Tuhan, apa lagi ini. Uang dari mana kami bisa oprasi? BPJS saja saya tidak punya. Dulu saya ASKES dibawah nama papa dan saat sudah menikah, sudah seharus nya saya membuat bpjs baru. Saya menatap mas, mas cuma bisa senyum ragu, mungkin kita satu pemikiran, tapi mas tetap ke administrasi menguruskan semua nya. Saat itu tepat Hari Jumat, dokter pamit sholat jumat, maspun setelah mengurus oprasi ijin ke masjid. Dan saya pun disuru puasa sebelum oprasi.
Sudah 360 menit saya berada di igd, namun belum juga di bawa ke ruang oprasi. Akhir nya mama papa saya tiba di RS untuk memastikan keadaan saya. Saya yakin mereka sangat khawatir, sampai memarahi 1 RS karena menelantarkan saya. Ah badan ini terlalu lemah sampai tidak kuat lagi memeluk mereka agar mereka bisa tenang. Betapa marah nya mama setelah mengetahui saya belum di bawa ke ruang oprasi karena belum ada nya uang jaminan. Ya, disinilah untuk pertama kalinya saya benar benar menjadi pemeran utama dalam permasalahan RS yang tidak mau menangani orang yang tidak berduit.
Dengan perasaan yang marah, kecewa, khawatir mama melemparkan uang sejumlah 5jt ke administrasi dan berteriak “bisa bisa nya kalian memikirkan ini kepada org yang sekarat, sekarang juga oprasi anak saya, saya bayar berapaun”
oh mama, malu nya saya yang selalu melawan dan berkata kasar padamu. Selalu dirimu yang memasang badan untuk anak nya. Love u mom.
Daaaaaan, akhir nya saya berada di ruang oprasi. Selama 1 jam saya disana, tapi tidak ada tindakan. Ternyata mereka tidak bisa menemukan pembuluh darah saya yang bisa untuk di pasang infus. oh TUHAAAAN, para suster ini pas kuliah nya ngapain aja sih. Ah saya sudah tidak kuat nahan rasa sakit ditubuh ini. Dokter pun memutuskan untuk “mengoper” saya ke RSUD dengan modal infus yang akhir nya berada di leher ya. YA BENAR! pertama kali nya saya di infus di leher karena keputusasaan para perawat ini. Its okay, Thanks God akhir nya saya diinfus walau saya harus menahan kepala menoleh pada sebelah kanan terus agar infus nya ga nyumbat.
Suara ambulance yang biasa saya jadikan candaan saat macet di jalan, kini terasa menakutkan. Sesampai nya di RSUD, betapa terharu nya saya semua keluarga besar sudah menunggu saya disana. Mereka menemani saya sampai saya masuk ruang oprasi. Sebagian tante yang memang dekat dengan saya, mereka menangis terisak isak. Mungkin muka saya yang sudah tidak berbentuk (memang nya muka saya blur sampai dibilang ga jelas) sampai membuat mereka begitu iba dengan saya. Mereka yang mengetahui saya ini seorang yang ceria, tidak pernah menunjukkan kesedihan, dan sekarang terkapar dengan nafas satu satu krn desakkan darah yg mulai nyesak di dalam tubuh. Sebelum masuk ruang oprasi saya bilang ke semua sambil tersenyum, “tidak apa apa, ini tidak sakit, pasti cepat selelsai” mereka tertawa sambil nangis, hahahahaha Allah begitu baik memberikan saya keluarga semanis mereka.
Dokter koas nyeletuk “si mba nya disayang banget ya sampai pada nangis gitu, yuk mba kita mulai oprasinya”
Dari RS awal saya sudah req untuk bius total, namun mereka menolak nya. Syukur alhamdulillah di RSUD ini mengabulkan permohonan saya untuk membuat saya dibius total. Saya sudah terlalu lelah untuk tetap terjaga mendengarkan alat alat yang saling beradu.
Dalam hitungan detik saya pun tertidur, Baru kali ini merasakan bius. Dalam tidur saya yang terasa panjang, saya pasrah, apapun yang terjadi ya terjadi lah, saya ikhlas, Tuhan yang sudah mengatur semua ini. Mungkin ini juga jawaban dari pertanyaan saya kemaren, saya pernah bertanya,
“apa saya tidak boleh kerja sampai sampai kehamilan menjadi alasan sebuah institusi untuk menolak saya, apa saya tunda dulu punya anak nya?”
Setelah oprasi, saya pun menyadari. Yang nama nya rezeky itu bukan hanya uang, tapi juga kesehatan, kasih sayang keluarga, perhatian dari orang sekitar, dan BABY. Bagi kalian yang masih ingin menunda punya baby untuk alasan duniawi, ingat, ga semua orang bisa diberi kesempatan “memilikinya”, ada yang sampai umur 40 baru di beri kepercayaan memiliki baby, ada yang sampai bayi tabung.
Tetap Semangat untuk ibu ibu di luar sana yang memiliki cerita sama dengan saya. Banyak juga yang akhir nya mereka bisa punya banyak anak. Dan saya berharap, saya tidak perlu harus menunggu 6 bulan untuk segera punya anak. Biar lah yang dedek yang pergi duluan ini menjadi tabungan teman hidup saya di akhirat kelak.
Jaga pola makan, tidak hanya anda calon ibu, tetapi juga untuk calon ayah. Next time saya akan share apa apa saja usaha yang bisa kita lakukan agar tubuh kita bisa lebih subur dan cepat mendapatkan kehamilan. Karena saya basic nya Nutritionist jadi akan saya ceritakan menu makanan yang baik bagi kalian yang ingin cepat hamil.