Sudah setahun terakhir ini saya bertanya pada diri saya sendiri, apa itu sahabat? Bagaimana jenis nya? Bagaimana kriteria sesorang berhak menyandang kata sahabat? Sekedar buat have fun kah atau harus kah dia mengetahui kita dari dalam dan luar, atas dan bawah bahkan sampai aib kita?
Yap kalian pasti berfikiran ini sebuah pertanyaan konyol. Tapi pernah kah kalian merasa sedih ketika seseorang yang kita beri logo sahabat justru tidak ada disekitar kita disaat susah? Atau kalian merasa sedih ketika kalian tidak bisa memberikan terbaik kepadanya dan dia malah mendapatkan segala nya dari orang lain. Coba bertanya sama diri kalian sendiri, seberapa jauh kalian sudah mengenal sahabat kalian.
Menurut saya ini penting, kenapa? Saya kerap kali merasa sedih ketika sahabat saya bersenang senang dengan sahabat nya yang lain dan saya tidak diajak. Bahkan sangat sedih, sampai muncul pertanyaan dalam benak, apa saya tidak pantas berada di tengah tengah kalian? Apa saya tidak menarik buat di ajak bersama? Apa yang salah dengan saya?
Tidak pernah saya merasa sesedih ini ketika memikirkan arti sahabat. Dari SMP saya punya sahabat 3 orang. Kita tidak pernah berkomunikasi, saling bertanya kabar yang rutin, atau bahkan untuk saling berjumpa sekena nya pun kita tidak punya waktu karena memang sudah memiliki kesibukan yang lain. Tapi haruskah saya menyebut mereka “mantan sahabat”?
Saat SMA saya ga tau punya berapa sahabat atau mungkin tidak punya. Pulang sekolah saya langsung les, sepulang les langsung latihan nari baru pulang. Tidak punya banyak waktu buat bermain seperti mereka. Orang tua saya tidak pernah memberikan saya izin untuk keluar malam, sementara mereka selalu mengadakan janji saat malam hari. Sedih? Ya saya sedih. Tapi saat itu saya punya pacar yang bahkan merangkap menjadi sahabat saya. saya bercerita apapun padanya. Tentang sekolah, rumah bakan tentang hal sepele. Mungkin dia lah satu satu nya sahabat yang saya punya saat itu. Yang ada disekolah bagaimana? Mereka Cuma sebatas teman yang ada untuk disekolah, bercerita konyol dan saling bully. Tapi masa itu sudah lewat, saya bertekat saat kuliah nanti saya harus memiliki banyak teman untuk menutupi masa masa SMA yang terlewatkan.
Tiba lah saat nya saya kuliah dan harus merantau. Disini saya harus ekstra hati hati dalam memilih sahabat. Salah melangkah, bisa hilang masa depan saya. Tidak ada yang tau skenario yang dibuat TUHAN seperti apa bentuk nya. Saya tidak pernah bisa menyangka akan seperantauan dengan sahabat SMP dan teman teman SMA saya. Tapi saya terlalu sibuk dengan kuliah sampai sama sekali TIDAK SEMPAT untuk mengunjungi mereka di tahun tahun awal. Kemudian pacar saya yang merangkap sebagai sahabat memberikan saran agar saya mulai membuka diri dengan mereka. Iya mungkin ini saat nya saya menaik tingkatkan dari temen dekat menjadi sahabat. Oh iya, kebetulan yang seperantauan ini memang teman yang lumayan dekat saat SMA. Dekat karena memang tempat duduk saat dikelas dekat, jadi mau ga mau ya saya berkomunikasi lebih banyak dengan mereka.
Saya di lahir kan dari keluarga yang cuek. Kenapa cuek? Ayah dan ibu saya sibuk dengan pekerjaan dari pagi sampai sore, malam jam 8 mereka sudah terlelap dikamar masing masing. Tak mengapa, saya sudah terbiasa 18 tahun hidup begitu. Tidak ada yang menanya kan saya sudah makan, sudah minum, sudah tidur, sudah mati, sudah naik kelas, apapun yang berbau perhatian yang “tidak penting” itu. Namun ayah ibu sangat menentang saya keluar malam karena rumah saya 50 menit dari kota. Ini lah yang menjadi alasan dulu masa SMA saya tidak pernah ikut ngumpul dengan mereka. Tapi sekarang saya berada di situasi yang berbeda. Jauh dari orang tua. Saya bahkan bebas mau pulang jam berapa, mau tidak balik sekalian kekos pun tidak akan ada yang mencari.
Ini lah kehidupan yang baru. Saat materikulasi, saya bertemu dengan banyak orang dari sabang sampai maraoke. Materikulasi adalah kelas khusus yang dibuat kampus saya untuk anak anak yang masuk universitas lewat jalur pemerintah. Ada 3 kelas, satu kelas nya berisi 22 mahasiswa. Memang dari awal saya bukan tipe yang pinter berteman, terkadang saya canggung untuk memulai berteman. Teman satu angkatan saat SMA aja yang sudah 3 tahun saya ga begitu kenal, apa lagi dengan mereka yang benar benar baru saya kenal. Ya memang saya punya teman banyak setelah materikulasi dan yang paling menyenangkan kita berbeda fakultas jadi merasa punya link untuk beda fakultas. Seperti biasa, tidak semua orang bisa terus bersama dalam jangka panjang saat sudah tidak di satu “tempat”.
Selesai materikulasi, maka selesailah pertemanan kami. Semua mulai sibuk dengan kampus masing masing. Hanya tersisa 5 orang yang paling dekat dengan saya. Tidak saya sebut sahabat, karena kita memang cuma dekat karena situasi. Waktu terus berlalu tik tok tik tok, hingga yang tersisa Cuma 4 orang hingga di tahun ke lima ini. Kami sedih bersama, senang bersama. Masih tetap saling bercerita kehidupan walaupun beda fakultas. Masih tetap saling mendukung walau sudah ada yang wisuda, masih tetap saling mengingatkan walau kadang untuk memulai chat pun susah kalau bukan untuk berjalan bersama. Saya pikir, tak mengapa, toh kita masih bisa bersama begini aja sudah luar biasa. Kita punya sifat yang berbeda beda, saya adalah anak yang paling mudah ceplas ceplos, bahkan kadang tidak mengenal tempat dan situasi. Kerap kali sebenarnya mereka sakit hati dengan joke yang saya lontar kan, tapi sejauh ini kita berkelahi cuma 2 kali (menurut hitungan saya), dan itu cukup buat saya. si A anak nya lebih pendiam, dalam arti dia tidak terlalu mengumbar atau bercerita tentang kisah cinta nya atau tenang keluarga nya, tapi kita semua tau saat dia ada masalah dia akan mencari kami untuk berbagi dan kami hanya bisa menunggu dia bercerita jika dia memang ingin bercerita. Terakhir si B dan si C yang lebih menjadi penengah kami. Mereka sepasang kekasih jadi kita anggap aja mereka sepaket. Mereka sering menjadi pendengar saat saya dan A bercerita. Walau kadang mereka juga suka saling menceritakan hubungan mereka kekami. Saya lihat si A dan si B masih berhubungan harmonis dengan teman teman SMA nya. Seneng sih walau kadang saya cemburu. Eeeiiiit ini bukan cemburu yang negatif ya, saya cemburu karena bukan hanya saya yang mereka butuh kan. Tapi itu baik untuk mereka dan saya senang melihat nya. Mereka masih saling chat dan teleponan walaupun mereka berbeda kota. Bukan kah itu luar biasa masih bisa berkomunikasi di saat kita jauh? Itu sungguh luar biasa menurut saya.
Emang nya teman teman sarah yang SMA kemana? Bukan nya sekota juga ya? Kok ga ada cerita nya? Sabar dulu, ini baru mau memulai. Ada sekitar 10 orang yang dulu sekelas dengan saya saat SMA dan sekarang merantau bersama. Kembali ke cerita awal, saat awal semester, saya agak menjarak dengan mereka. Bukan disengaja, tetapi memang karena kita beda aktifitas dan beda kampus. Yah alasan klasik, tapi mungkin bisa jadi juga saya lagi menikmati masa masa teman baru. Tapi itu tidak berlangsung lama, saat masuk semester 2 saya mulai berusaha meluangkan waktu untuk bertemu dengan mereka. Paling tidak sekali seminggu. Teman yang menurut saya paling dekat diantara 10 ini ada 4 orang, 2 wanita dan 2 lelaki. Bukan berarti yang lain tidak dekat, dekat namun kita benar benar jarang komunikasi karena kosan yang jauh, waktu kegiatan mereka untuk kampus lebih padat dan alasan yang lain nya. Kita mulai dari 2 wanita, yah ladies first, right? Kita sebut saja nama samaran mereka bunga dan kembang. bunga dan kembang kuliah pada 1 fakultas yang sama, jadi mereka lebih sering bersama dari awal kuliah. Wajar sih yaa, dari SMA mereka juga udah sangat dekat, jadi anggap aja kuliah ini hanya lanjutan masa perpanjangan untuk persahabatan mereka. Kembang adalah seorang yang lebih tua dalam hal umur. Kita menganggap nya seorang kakak yang selalu berusaha setrong tapi sayang, dia tetap lah seorang wanita yang sama dengan kami. Walau begitu dia selalu berusaha untuk menyatukan kami semua walau sesibuk apapun, karismatik nya sebagai kakak kadang sangat berguna dalam hal ini. Yang lain akan hadir kalau sudah di bujuk dengan bahasa nya yang lembut dan sopan. Tapi tetap, dia hanyalah seorang remaja yang sama dengan kami. Bagaimana dengan bunga? Dia adalah manusia yang paling tidak percaya kalau ada yang cerita ABCD sebelum dia bisa lihat sendiri atau mencari tahu sendiri. Dia lah wanita yang paling percfectionist diantara kita. Tak masalah sih, toh itu masih sangat positif. Walau kadang menyebalkan saat bercerita ke dia, dia akan menjawab “iyakah? Masa sih? Aaah masa iya?”.
Memasuki tahun ke 2 saya, bunga dan kembang ngontrak 1 rumah. Ini luar biasa, saya jadi bisa bersama dengan mereka 12 jam paling tidak. Saat mereka mulai mengajak saya untuk mengontrak saya berfikir keras, dengan sifat yang berbeda beda ini akan kah kami bisa bersatu? Apakah akan cocok saat satu atap? Saya yang sedikit “berantakan” apa bisa bersama dengan mereka yang “rapi”? saya yang lebih suka bebas apa bisa jika setiap hari ditanyain mau kemana, sama siapa, udah makan? Mereka memiliki keluarga yang luar biasa perhatian. Setiap langkah mereka selalu mereka jadi kan alat komunikasi dengan keluarga nya. Sangat berbeda bukan dengan saya? awal nya sangat risih ketika saya yang biasa di acuh kan, malah mulai di perhatikan sama mereka. Saya berfikir, kenapa sih mereka repot banget menanyakan hal sepele. Kalau lapar toh saya akan makan, kalau mau keluar kenapa sih harus ngasi tau dengan siapa dan kemana? Kenapa? Beberapa bulan saya beradaptasi dengan itu semua, dan akhir nya saya dapatkan jawaban nya. Tidak lain dan tidak bukan karena mereka memang peduli dengan saya. Mereka ingin saya aman ketika keluar dengan orang yang tidak mereka kenal. Dan itu sangat menyentuh hati saya. Mereka seperti pengganti keluarga yang senantiasa mengingatkan saya akan banyak hal. Dibalik rasa senang ini, terselip rasa sedih yang sebener nya tidak ada yang tau.
Kembang yang kita semua tau beliau lebih tua (actually cuma beda setahun dari kami semua) lebih merasa senang mencerita kan hidupnya ke pada bunga dari pada saya. Jujur saya sedih. Kenapa sih harus sedih? Kok masalah simple di buat ribet? Yaaa memang benar adanya. Setiap sahabat tidak semua nya menjadi tempat kita mengadu. Bisa jadi kembang lebih nyaman untuk bercerita hal hal pribadi tersebut ke bunga. Seharus nya itu tidak menjadi masalah. Tapi saya sedih, apa saya tidak di anggap? Apa saya dirumah ini terlalu berbahaya kah untuk dibagikan kesedihan nya? Saya ingin juga diberi kepercayaan untuk mendengar kan saat mereka dalam kesulitan. Bukan saya senang mereka dalam kesulitan, hanya saja berbeda rasa nya cuma saya yang tidak tahu apapun tentang mereka. Setiap apa yang saya lihat, saya alami baik masalah percintaan, kehidupan, kuliah. Semua saya bagi bersama mereka. Bukan ingin berbagi beban. Bukan ingin membuat mereka kerepotan mencari jalan keluar buat semua permasalahan saya. Saya bisa mencari jalan keluar dari semua masalah saya, setiap saran orang tidak semua nya saya dengarkan, toh wanita ketika dalam masalah hanya ingin bercerita bukan menerima saran. Saya hanya ingin mereka tau saya pernah mengalami ini, dan jangan sampai terjadi ke mereka. Atau mungkin jika nanti mereka punya anak dan terjadi hal yang sama dengan saya, mereka bisa tersenyum sambil bercerita kalau semua masalah ada jalan keluar nya. Bagaimana dengan bunga? Dia mungkin tidak punya masalah (yang saya tau dan kelihatan nya). Toh kalau punya masalah dia ada kakak dan mama nya sebagai tempat mengadu. Jadi inti nya saya tidak tau apapun tentang mereka. Ya bukan apapun pake banget ya, tapi ya you know what i mean lah. Ketika ada yang tanya, “siapa pacar kembang dan bunga?” saya cuma bisa tersenyum, saya tidak tahu. Awal nya saya anggap itu tidak harus menjadi permasalahan saya. ya biarlah terus begini, saya tidak mau kehilangan persahabatan hanya karena rasa ingin tau saya. Mungkin akan tiba saat nya mereka akan bercerita jika memang sudah saat nya. iya saya yakin itu kok. Tak mengapa~
Hai, lalu yang 2 lelaki itu bagaimana? Tidak mungkin kan kalian 1 kontarakan? Hahaha tentu saja kita beda tempat tinggal. Mereka dengan nama samaran joko dan bambang menjadi teman yang lumayan dekat dengan saya. Selain bercerita dengan kembang dan bunga, saya juga sering bercerita tentang hidup saya kepada 2 lelaki ini. Saya malah jadi seperti cerita kesemua tempat yaa hahaha. Ya karena terkadang saran dari pandangan lelaki lebih masuk akal dari pada wanita yang selalu membawa hati. Jadi saya butuh mereka sebagai penetral hati dan lebih membuka fikiran. Joko adalah mantan ketua kelas saya dulu. Dia dan kembang sama sama hebat dalam hal mengumpulkan kami semua agar selalu bersama. Joko berwawasan luas, dengan gaya nya yang bersahabat dengan siapa aja. Dia lebih ceplas ceplos dari pada saya. Tapi saya suka itu, saya justru merasa sangat tidak nyaman kalau dia mulai diam dan tidak banyak bicara. Sama hal nya dengan bambang. Dia juga teman lelaki yang cerdas, selalu bercita cita menjadi pejabat. Obsesi nya terhadap pendidikan sangat luar biasa, walau pun dulu dia suka ngambek karena hal sepele, saya rasa itu masih wajar. Siapapun bisa ngambek dan dia berhak untuk itu. Dari awal kuliah saya lebih sering chat dengan bambang. Saling bercerita tentang siapa yang dia suka, dia lagi berkegiatan apa. Pokoknya mereka berdua luar biasa. Mereka yang selalu membuat saya bersemangat untuk menyelesaikan skripsi saya, ya teman dirumah juga berjasa kok. Walau kita beda fakultas, mereka tetap mengajak saya mengerjakan skripsi bersama di cafe. Awal nya saya sih males juga harus mengeluarkan uang ekstra buat beli coklat panas dari uang jajan yang tak seberapa, tapi mereka selalu mengingatkan, masa skripsi akan cepat kelar kalau kita bersama dan di zona yang tidak nyaman. See? Saya bisa menyelesaikan skripsi dalam waktu singkat. Bahakan skripsi saya selesai walaupun masa untuk memperbaiki nilai saya belum selesai. Luar biasakan pengaruh mereka kepada saya? dulu bambang pernah berfikiran untuk tidak bareng dengan kami yang bersembilan ini lagi. Karena dia berfikir dari awal SMA mereka juga tidak dekat. Tapi saya berfikir itu sangat kekanakan walau kadang saya juga berfikir begitu. Dia pernah mempermasalahkan arti keluarga, dan dia benar adanya, walau tidak semua nya benar. Ketika kita sakit, dan ada orang yang selalu merawat kita dan membantu saat kita sangat susah, itulah keluarga. Dan menurut nya, hanya teman teman kosan nya lah yang pantas disebut keluarga. Lalu saat semua keluarga nya sibuk, dia datang ke kami yang bukan keluarga nya. sedih, saya sangat sedih. Seiring berjalan nya waktu dan penuh pertikaian, akhir nya dia mengerti, terkadang keluarga juga butuh komunikasi agar mereka tau kalau kamu dalam keadaan yang sangat membutuhkan pertolongan.
Lalu bagaimana sekarang? Satu persatu telah selesai masa study nya dan kembali ke dunia asal. Bunga walaupun sudah selesai s1 nya dia masih di jogja untuk melanjutkan study. Kembang masih berjuang dengan skripsi. Bambang sudah bekerja di luar kota dan joko... joko adalah orang yang sampai sekarang tidak saya pahami. Dari dulu saya berusaha agar dia terbuka dengan saya. ya tidak segampang memancing wanita, dia lebih tertutup walau sehari hari nya riang. Mungkin karena dia masih punya teman teman lain yang memang dekat dari SMA. Ya saya kenal kok dengan mereka semua. Joko lebih banyak bercerita tentang hidup kepada mereka. Kembali lagi saya berfikir, mungkin saya bukan orang yang tepat untuk di ajak berdiskusi. Toh semua orang punya hak untuk menutupi kehidupan nya. lalu bertanya kembali, saya ini siapanya kah?
Tidak akan pernah terbentuk tulisan ini jika joko tidak bertanya, apa arti sahabat. Sebelum dia bertanya, saya jauh lebih dulu bertanya. Tapi saya urungkan bertanya kepada mereka. Biar pendewasaan saja yang menjawab nya. Toh buktinya saya dan teman SMP masih terus bersama sampai sekarang walau dengan tanpa komunikasi. Yah, komunikasi memang sangat penting. Bukan saja untuk pasangan yang dimabuk asmara, untuk persahabatan komunikasi pun menjadi patokan utama.
Benar adanya, terkadang kita jaim untuk memulai komunikasi lebih dulu, sering timbul pertanyaan kenapa tidak dia duluan? Ah paling dia baik baik saja, kalau ada masalah dia pasti cerita. Namun di satu pihak malah berharap di tanya dan ditebak tentang suasana hati nya. Tidak hanya sepasang kekasih yang penyakit nya begini, persahabatan pun sama. Kita terlalu malu untuk mengganggu kehidupan teman kita yang dulu sangat akrab. Melihat postingan mereka bersama dengan teman teman baru, kadang berfikir, dulu saya looooh yang di tag nya, dulu saya yang tersenyum di sebelah nya, dia ingat ga yaa? Kemudian datang permasalahan baru tentang ulang tahun. Setiap tahun kita berharap ada yang ingat dengan tanggal kelahiran kita. Heeeelooooooo, ada puluhan kepala yang harus diingat tanggal nya, dan tidak semua orang punya ingatan yang cemerlang. Mungkin saja dia ingin memberikan kejutan, namun waktu nya tidak pernah tepat sampai akhir nya dia lupa untuk memberikan ucapan. Saat giliran kita, yang tidak diucapkan tadi udah merasa males karena dulu kita tidak mengucapkan ke dia. Simple bukan? Tapi ini penting untuk jiwa jiwa yang haus akan perhatian dari saudara nya.
Apa arti sahabat? Kembali saya bertanya. Apakah buat dia yang selalu mengalah? Apakah buat dia yang selalu sabar? Apakah untuk dia yang selalu bertenggang rasa dalam hal apapun? Apakah untuk dia yang selalu dihargai? Atau apakah untuk dia yang selalu kita pertanyakan kesehatan nya? apa? Lalu timbul lagi pertanyaan, kenapa sih ini saya harus nulis begini? Curhat ya karena pada jauh semua. Atau mau buka aib pertemanan? Atau mungkin mau menjelek jelek kan teman teman yang lain? Saya akan menjawab dengan tegas, TIDAK! Sampai detik ini saya sangat menyayangi mereka. Mereka sangat berperan dalam hidup saya. Tanpa mereka mungkin sekarang saya sudah balik kekota asal tanpa gelar. Saya Cuma ingin berbagi, setiap manusia memiliki sifat nya masing masing. Tidak semua bisa kita sama ratakan. Tidak semua orang bisa memahami. Justru mereka yang mau menerima kekurangan kita dan mengajak kita menjadi lebih baik adalah seseorang yang patut kita kasi hadiah. Namun ingat, setiap orang ingin dibalas dihargai walau tidak pernah mereka mengharapkan lebih. Mungkin sekarang kita tidak berkomunikasi, tapi yakin dan percayalah, dalam setiap doa selalu tersebut nama nama kalian. Mungkin sudah saat nya kita jujur kepada sahabat kita tentang perasaan kita, bukan untuk memecah belahkan, namun untuk kebaikan bersama. Komunikasi itu penting, jangan hanya pacar saja yang di absen, tapi sahabat juga perlu. Jangan pernah ragu datang saat sedih maupun senang. Berbicaralah jika merasa tidak senang, jangan hanya diam di saat yang lain mulai pergi. Karena kita tidak akan pernah tau kapan perpisahan abadi akan datang. Paling tidak, saya bisa bercerita nanti untuk anak cucu bahwa dulu sahabat sahabat saya orang yang hebat dan luar biasa. Saya yang penuh dengan ketidak sempurnaan ini hanya bisa meminta maaf jika belum mampu melengkapi kriteria sahabat kalian.
Dari sahabatmu yang dianggap atau mungkin tidak di anggap