Namanya Dzifa, tapi lebih enak dipanggil Jipa, maklum logat jawa.
Pertama ketemu di student corner unit 4 lantai 2 Farmasi UGM. Lagi sama-sama buka laptop. Terus kita kenalan. Eh nyambung, eh sama2 curcol. Dia asli jogja, dia itu santri di Inayatullah, salah satu ponpes di Condong Catur. Semangat belajar dan jadi aktivisnya tinggi banget. Baiknya pol. Kagum banget sama kemampuannya buat bagi 2 dunia yang berbeda. Dia juga anak piogama dan CCRC, jago bikin esai dan LKTI, keren banget dah.
Kemarin Ahad, 23 Juli 2017
Kita ziaroh ke makam Mbah Kyai Munawwir, pendiri ponpes di Krapyak, Al-Munawwir. Kita berangkat ba'da dzuhur. Sampai sana sepi, nggak ada orang, maklum bukan kamis sore atau jumat pagi yang biasanya rame. Damai banget rasanya di sana. Kita baca surah ya sin dan doa tahlil. Di sana banyak makam keluarga Mbah Kyai Munawwri, termasuk juga makam Bapak, Pak Kyai Warson Munawwir, salah satu putra beliau yang menulis kamus Arab-Indonesia “Al-Munawwir”- yang belajar bahasa Arab pada umumnya kenal kamus ini, beliau juga pendiri Al-Munawwir Komplek Q, salah satu komplek Putri di Al-Munawwir.
Setelah itu kita mampir ke salah satu tempat minum, Tombo Ngelak, yang juga nggak jauh dari krapyak. Kita cuma beli minum, ngobrol banyak, dari kuliah, kesibukan kita, keluarga, madin, mengaji, rencana masa depan.
Jam 15.30 balik ke asrama, sholat ashar, terus Jipa ikutan ngaji bandongan di Aula komplek Q. Kitabnya موعظة المؤمنين من احياء علوم الدين karya Al ‘Alamah Asy Syaikh Muhammad Jamaluddin Al Qasimi rahimahullahu ta'ala. Guru yang mengajar asmanya Bp Muslih, beliau sangat istiqomah mengajar tepat waktu, tidak pernah izin kalau tidak ada halangan, dan selalu memaklumi kalau kita sering tertidur saat mengaji. Haha. Waktu itu telah sampai pada bab tentang تفكر. Kita mendapat banyak nasehat tentang pentingnya berpikir. Karena jika ingin selamat di dunia harus dengan ilmu, dan ilmu hanya dapat diperoleh dengan berpikir. Diingatkan juga betapa kita lengah terhadap aggota tubuh kita, yang tak menjadikannya sarana berpikir dan beribadah, padahal kita sebenarnya mampu.
Ada banyak sekali nasehat yang baik, salah satunya tentang sedekah. Betapa mudahnya untuk bersedekah seperti dengan senyum yang tulus dan perkataan yang baik, yang tidak menyinggung dan tidak menyakiti hati orang lain. Aku jadi inget ketika Bapakku berpura2 tidak mengetahui suatu info, dan masih menyimak dan menanggapi, walaupun sebenarnya Bapakku sudah sangat tau hal itu. Lalu aku bertanya kenapa bapakku melakukan hal itu. Padahal bapakku bisa menjelaskan lebih dari itu. Bapakku menjawab “Biar orang itu nggak sakit hati, melegakan hati orang lain nggak ada buruknya kan?”
Lalu tentang sedekah mal atau harta. Kita dinasehati bahwa kita harus punya program sedekah, harus dilatih sejak dini. Bila kita merasa kita pun juga masih butuh uang tersebut, hiburlah diri kita dengan mengatakan terhadap diri sendiri, bahwa
“Allah maha Mengetahui apa yang dibutuhkan hamba-Nya, pasti nanti Allah ganti dengan yang lebih baik”
Bila masih terasa berat untuk bersedekah, ingatkan lagi pada diri sendiri.
“Aku mungkin memang mebutuhkan harta itu di dunia, tapi aku lebih membutuhkan pahala dari Allah di akhirat nanti”
Kita juga dinasehati untuk selalu bertaubat bersyukur terhadap hal-hal kecil yang sering tidak kita sadari, bersyukurlah karena bisa menuntut ilmu di pondok, karena nggak semua orang bisa memperoleh kesempatan itu. Mungkin karena faktor lingkungan, biaya, restu orang tua dan lain2. Bertaubat dengan refleksi diri terhadap apa saja yang kita lakukan dalam satu hari itu, banyak mana ibadah dan maksiat, ibadah mana yang ikhlas ataukah ada riya’. Jika ingin tau seberapa ikhlas kita dalam beribadah, lakukanlah logika terbalik, yakni jangan lakukan apa yang biasa kita lakukan ketika banyak orang, tapi lakukanlah ketika kita sendirian. Beliau mencontohkan, seperti sholat sunnah rawatib. Akan sangat mudah bagi kita untuk melakukannya ketika di musholla, di mana di sana banyak orang. Tapi sulit bila kita sedang berada di kamar misalnya. Coba lakukan hal yang sebaliknya. Jangan sholat rawatib di musholla, tapi lakukan ketika sendirian di kamar.
Masih banyak nasehat dari beliau sembari menerangkan kitab yang kami kaji.
Mengaji selesai pukul 17.00 Jipa balik ke Inayatullah karena dia juga gaboleh nginep haha. Seneng punya temen kaya dia, sejalan, seperjuangan, saling menyemangati :)