Jatuh Cinta Pada ITB
Hari ini, banyak kawan-kawan saya yang telah melaksanakan prosesi wisuda di ITB. Ada dua hal yang spesial dari wisuda kali ini, yang akan menjadi inti dari tulisan saya berikut. Yaitu, mengenai seseorang yang bernama Hifdhi Abdussalam, sahabat saya, dan jurusan Teknik Fisika sekaligus segala hal yang melekat dengannya, termasuk teman-teman angkatan saya sewaktu di jurusan tersebut. Mereka ini adalah penyebab saya begitu cinta dengan kampus terbaik yang pernah saya tempati di dunia ini. Karena kampus lain yang jadi pembanding hanya UNAS.
Di awali oleh perjalanan pulang kerja yang membosankan dan memakan waktu sekitar tiga jam.-- Memang, kekejaman Jakarta sangat parah. Pembangunan infrastruktur dibombardir dalam waktu yang cukup serentak, dengan mengorbankan kenyamanan bertransportasi masyarakat. Semoga pengorbanan rakyat ini (yang terpaksa, tanpa bisa kompromi) akan mendapat balasan yang memuaskan dengan fasilitas infrastruktur yang dapat memperlancar mobilitas kelas menengah songong seperti saya dan sejenis saya di seantero Jakarta.-- Karena jenuh dengan suara klakson dan nyala lampu rem mobil dan motor di sepanjang jalan Rasuna Said, saya memutuskan untuk membuka gawai saya. Begitu saya cek aplikasi perpesanan, Notifikasi di dalamnya mayoritas berisi ucapan selamat. Di grup komunitas, grup alumni, bahkan di lini masa media sosial saya seperti di Line dan Instagram juga ramai dengan gambaran bahagia dengan segala postingan penuh canda untuk merayakan suka cita wisuda oktober di ITB. Saya tahu teman-teman saya banyak yang baru saja menjadi sarjana hari ini, tapi saya merasa momen hari ini kurang menarik minat saya. Kenapa? Karena memang tidak menarik. Sesederhana jika seorang teman bertanya, "Kenapa kau tidak suka MU?" Dengan simpel pula saya jawab, "Maaf nih, ya. Hanya karena mereka tidak menarik perhatian. Itu saja. Titik." Namun, saya merasa tidak bijak jika melewatkan momen hari ini tanpa memberi ucapan selamat wisuda kepada salah seorang teman baik yang saya miliki. Sahabat saya yang namanya spesial telah saya tulis di atas. Meskipun saya kurang yakin jika Endho, panggilan akrab Hifdhi, juga menganggap saya sebagai sahabat. Mengingat dan menimbang seluruh sikap saya kepada dia yang selama ini cenderung parasit, yang sebenarnya saya lakukan hampir ke banyak teman-teman yang dekat dengan saya. Sebagai gambaran seberapa parasit saya adalah seperti berikut : Waktu tinggal di Bandung, saat saya kelaparan dan kehabisan uang, maka kontrakan Hifdhi dan kawan-kawan alumni MAN saya yang lain menjadi tujuan berlindung. Untuk apa? Apalagi yang dibutuhkan orang lapar selain makanan. Bukan duit. -- Ingat! Sekali lagi saya tegaskan. Orang lapar itu butuh makanan, bukan uang. Pikiran yang terbalik akan mengakibatkan anda kehilangan keadilan sejak dalam pikiran. Ikuti terus tulisan ini, nanti juga anda mengerti. Percayalah, saya sudah sangat ahli dalam dunia kelaparan. Bila diibaratkan jenjang karir pegawai, saya sudah melewati fase Trainee selama tiga tahun untuk perkara perut ini. Saya sudah selayaknya menempati jabatan Associate. Sayang sekali, saat ditawarkan perpanjangan kontrak saya memutuskan untuk berhenti dari dunia kelaparan dan beralih profesi menjadi desainer dadakan.-- Yang saya butuhkan saat itu adalah Hifdhi pergi membeli nasi serta seperangkat lauk di warteg terdekat. Sepulangnya dia membeli makanan, saya akan menawarkan bantuan dengan ucapan seperti berikut: "Endho, ana nebeng, aa?" Endho, saya ikut makan, ya? Begitulah kira-kira artinya dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai lidah orang Indonesia Barat.
Hifdhi adalah orang yang baik dan senang membantu. Dia tentu sangat senang jika dapat membantu seorang teman yang kelaparan dengan berbagi. Dan saya juga bukan orang yang tidak tahu diri. Saya sadar, jika Endho memiliki telur dadar di makanannya, maka saya tidak boleh mengambil kecuali seperempat bagian saja. Cukup. Bahkan itu kebanyakan menurut saya. Yang sering kali membuat saya tekejut adalah Endho lebih mulia dari itu. Dia sering dengan senang hati berucap begini, "Sudah jo, jangan malu-malu bagitu. Kita tau so paham ngana ini." Tidak perlu terjemahan untuk logat gorontalo tersebut. Pokoknya, Hifdhi itu orang yang baik. Dan sebagai teman yang baik juga, tangan saya selalu terbuka untuk luapan dan limpahan kebaikan tersebut. Kebaikan membutuhkan saluran untuk mengalir, begitu kata teman saya yang bijak. Mirip-miriplah sama ucapan Nietzche yang sombong, diwakilkan oleh sosok alter ego-nya dalam diri Zarathustra. Sayangnya, Hifdhi dan Zarathustra memiliki perbedaan yang mencolok. Nietzche menulis hingga gila karena Zarathustra-nya menjadi bahan olok-olokan dalam bukunya, pun dalam kehidupaan nyata. Dia, Zarathustra maupun Nietzche, mendapat cap kehilangan kewarasan disebabkan rasa percaya diri yang terlalu tinggi. Tentu saja. Seperti halnya dalam pergaulan sehari-hari, selalu hadir salah seorang manusia di antara kita yang seolah tahu segala tentang dunia, paham semua hal kosmis, dan seolah kebaikan dan kebenaran hanya berkisar pada dirinya sendiri. Teman yang enggak asik parah. Maka kita kucilkan dia, hingga akhirnya dia sadar bahwa dirinya begitu hina. Kemudian dia gila, atau secara kolektif kita semua menganggapnya tidak waras. Sakit jiwa. Hilanglah masa depannya. Deskripsi barusan terasa familiar buat saya. Saya lalu mengambil cermin dan seketika saya ingat siapa yang saya maksud. Hifdhi tentu bukan orang seperti itu. Endho terlalu pemalu dan agak malas mengurusi persoalan sepele yang dibesar-besarkan seperti tadi. Dia adalah praktisi sejati. Calon teknokrat berbakat. Dibalut kebaikan jiwa penuh senyum yang tersembunyi di balik brewoknya. Saya percaya, dia akan menjadi orang besar yang akan mengganti hutang uang kuliah kepada orang tua seperti yang dia impi-impikan
Atas dasar perasaan menggebu-gebu, malam ini saya menulis terlalu dangkal. Saya lelah. Sekarang pukul 11.45. Padahal masih banyak yang ingin saya kenang tentang Hifdhi. Yang dapat mengingatkan saya momen-momen angkut barang sepanjang dua kilometer jalan kaki Babakan Siliwangi-taman hewan. Atau saat pulang dari Sabuga, di kamar kos saya berkata, "Apa kita ambil UGM jo harusnya, ndho? Kita bahkan gagal di ITB talalu cepat, sub", karena berkas pendaftaran ulang saya yang kurang. Dan momen-momen minor yang biasa saja untuk dikenang atau ditulis. Ah, sudahlah, Lutfi. Tidak penting tulisan ini. Sekarang, Endho telah lulus dan kau belum. Semoga, kau tidak dianggap sakit jiwa.
Bagaimana dengan Teknik Fisika dan teman-teman angkatan? Saya sudah sangat mengantuk dan tidak bisa menyisihkan waktu buat mengenang poin nomor dua yang saya sebut di paragraf pertama tadi. Lelah, kawan. Yang jelas kehidupan di kampus ITB itu sangat spesial. Saya tahu artinya menjadi bodoh, munafik, korupsi, dan penjilat. Karena saya telah menjadi bagian dari itu semua.
Semoga momen kelulusan teman-teman dapat menjadi fase untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Saya juga berharap, sekedar melihat kalian wisuda membuat saya ketumpahan kebaikan-kebaikan itu. Bagi anda para pembaca, yang merupakan orang tua calon mahasiswa, ITB adalah tempat yang mendapat rekomendasi mutlak dari saya.
Karena pembandingnya hanya UNAS.
Kantuk, bos.
ย Pinggir Kali Pesanggarahan
19 (22.15) - 20 (00.11) Oktober 2017










