Menjadi pemain atau penonton ?
Kita semua tahu jumlah pemain sepak bola pasti lebih sedikit daripada penontonnya. Pemain inti yang hanya 11 (sebelas) orang dibandingkan dengan penonton yang mengelilingi stadion, sudah terlihat jelas perbedaannya. Karena tidak semua orang mau dan mampu untuk menjadi pemain. Ada banyak orang yang mau, tapi mereka tak mampu. Dan ada pula yang mampu, tapi tak mau.
Untuk menjadi pemain pun perlu usaha yang ekstra, pengorbanan, dan kegigihan mental. Mereka mungkin pernah dan sering terjatuh hingga cedera, tapi karena keinginan yang kuat mereka tak gampang menyerah. Selalu menjadi sorotan saat permainan bahkan di luar lapangan sekalipun. Itulah resiko seorang pemain.
Apa yang didapat sebanding dengan usaha yang sudah dilakukan.
selepas pertandingan biasanya penonton langsung bubar jalan. Memang ada kepuasan tersendiri yang mereka dapat, tapi tak jarang pula yang justru ribut gara-gara masalah yang mungkin sepele (udah ngeluarin duit, capek, dan ujung-ujungnya berantem pula *paket komplit).Â
Lalu apa yang didapat pemain ? Banyak. Dan yang pasti lebih banyak kepuasan dan kebermanfaatan yang didapat pemain selepas acara (yahh meskipun capek juga). Sama-sama capek tapi dengan hasil berbeda, pilih yang mana ? Capek plus rugi atau capek plus untung yang plus plus ?
...
Begitupun dalam dakwah ini, kita mau jadi pemain atau penonton semua terserah kita. Tergantung kita mau mendapat hasil yang seperti apa. Apakah mau menjadi penonton yang hanya bersorak-sorai, atau jadi pemain yang ikut berjuang demi kemenangan. Tentukan pilihan dan kontribusi apa yang bisa kita lakukan. Karena sekecil apa pun kebaikan yang kita lakukan demi menegakkan syari’at-Nya Insyaa Allah akan menjadi amal kebaikan, yang semoga bisa meringankan beban timbangan kita kelak di sana.
____
Cibubur,Â
Selasa, 30 April 2019 15:15 WIB

















