Romansa 5 Bulan Jatuh Cinta
Nicaa, wanita yang tiba-tiba menghampiri kesendirianku pada tanggal 14 Mei 2025 jam 21:24, rasanya aneh ada seseorang yang begitu menggemaskan, parasnya cantik, senyumnya manis, pola pikir yang dewasa dan status yang cukup, mendadak tertarik dengan orang sepertiku, sosok laki-laki menyedihkan yang tidak punya tujuan, yang hanya hidup untuk bertahan, melihat sudut dunia berwarna hitam putih.
Ia memintaku menemani malamnya lewat voice call, menanyakan kabar, memberi perhatian, melemparkan pertanyaan berat pada awal perkenalan, aku yang awalnya hanya menyapa balik dan menanggapi sautnya tanpa membawa harapan seolah dibawa pada lorong yang banyak pintu disetiap sudutnya, ia tak menuntunku, hanya saja aku sangat tertarik memasuki berbagai pintu bersamanya, seolah pundak, langkah dan tekadku kuat untuk menyusurinya.
Diawal kenal banyak cerita bertaut dari ucapnya, aku ingat ketika ia berkata: hal apa yang ngga bisa ditoleransi dalam sebuah hubungan? Aku pun menjawab 'kalo gua selingkuh', lalu ia berkata 'kalo gua bohong dan selingkuh'. Disitu aku menyadari bahwa kita memiliki paham yang sejalan.
Hari demi hari, minggu ke minggu, kedekatan kita semakin intens, kita bertukar cerita: aku masih ingat awal kamu mau resign kantor, preassurenya, frustasinya, emosinya, aku cuma bisa temenin kamu lewat chat dan voice call kita saling saut. Sampe akhirnya aku beraniin ngajak kamu main ke puncak, pertama kalinya jemput kamu, walau ketemuan hehe, mungkin disitu pertama kali aku jatuh cinta sama kamu, senyum manismu yang sepanjang jalan aku liatin lewat spion motor mio lusuhku, mata indah sedikit tajam yang bawa banyak pesan, paras cantik nan lugu walau suka prengat-prengut. Aku terkesima.
Aku mulai merasa percakapan kita tidak hanya sebatas ingin berteman, entah ini harapanku untuk terus berinteraksi dengannya atau memang aku mulai menaruh rasa padanya, yang jelas aku mulai nyaman dengan warna yang ia hadirkan dikanvas hitam putihku.
Di bulan pertama, kita banyak bertukar cerita, aku baru paham bahwa dia adalah sosok yang rapuh, background keluarga, perjalanan cinta, tempaan kehidupan yang membuat ia rentan sekaligus kuat. Karenanya aku semakin ingin melindunginya, tapi entah kenapa semesta membuat alur cerita kita bak roller coaster, minggu ini kita seperti Rangga dan Cinta dalam film AADC, minggu berikutnya seperti Tom dan Jerry, tak hanya senang yang kita tumpahkan, sedih, marah perasaan campur aduk pun tertuang di cerita, kuasnya menari pada kanvas, dan kita tetap bertahan walau terus seperti itu.
Di bulan kedua kita semakin intens, ini adalah titik balik ku untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan untuk pertama kalinya aku merasakan ambisi dan konsistensi yang tinggi, mungkin karena value yang ia punya membuatku merasa ingin mengejar kesenjangan yang terlalu jauh, setidaknya trigger awal agar komunikasi kita tetap terhubung.
Aku tak tahu pasti perasaannya selaras denganku juga atau tidak, satu momen ia berkata kalau ia masih belum berdamai dengan dirinya sendiri dan itu juga yang membuatku belum berani menyatakannya.
Layaknya hubungan tanpa status, kita pun tak luput dari drama, ia sosok yang baik dalam ceritaku, tak jarang ia meminta maaf, dan tak jarang pula ia memaafkan kala kita berselisih paham.
Singkat cerita pada bulan ke tiga, sampai diminggu saat kita mau naik gunung: malam sebelumnya kamu bilang ada seseorang yang dulu pernah dekat denganmu dan kamu minta maaf jika dia nge-treat kamu lebih. Aku bilang akan observasi kedekatan kalian. Tibalah waktu naik gunung, aku ngga nyangka kamu sangat dekat dengannya, kamu tertawa lepas, bercanda tanpa ada sekat, bak pasangan yang lama haus temu, aku hanya tersenyum, kamu bilang kamu tak memiliki rasa, nyatanya kaupun menyambut dia. Hingga perjalanan naik gunung menjadi perjalanan paling mengikhlaskan untukku, disini aku belajar, aku tak ingin membenci siapapun, selagi tubuhku bisa digunakan untuk kebaikan akan ku upayakan, walau rasa kecewa masih ada ketika melihat kedekatannya. Hingga saat aku sudah hampir membulatkan tekad untuk cukup merelakannya, tiba-tiba tangan hangatnya menggenggamku pada 1/3 jalan pulang, ya tak lama, tapi itu lebih dari cukup untuk meleburkan tekadku yang hampir bulat. Ia tak banyak berbicara, hanya hati kita saling menatap dan menetap walau sebentar, tidak adil bukan, rasa cemburuku yang ku pendam dari awal perjalanan, hingga kubuang pada puncak gunung, kini ia malah kembali menggenggam tangan penuh luka ini, seakan bicara mari kita perbaiki semuanya, ya aku luluh dan semua rasa itu kalah oleh rasa sayang.
Awal agustus dibulan keempat kedekatan kita, masih dalam romansa cinta, voice call masih menjadi perantara hubungan itu berbicara, obrolan kita masih baik-baik saja hingga ia mengutarakan perasaannya, "digunung kemarin kenapa kamu seolah menarik diri?", siapa yang tak menarik diri jika harus terus melihat kemesraan kalian yang bahkan belum pernah aku lakukan ke kamu, tapi dengan sabar aku menjelaskan agar hati rapuhmu tak tertusuk oleh ucapan "iri" ku. Kau tetap menangis walau hatimu lebih tenang karena akulah yang menanggung luka lebih. Disitu aku hanya menekankan, bagaimana membedakan "sikap friendly" kamu dengan kedekatan menggunakan perasaan, kau pun bingung tak bisa menjawab, baiklah, lagi, aku mengalah dan menjawab aku belajar mengerti keadaanmu, mungkin aku akan terbiasa dengan itu.
Tiga hari kita voice call tiap malam yang diakhir waktu selalu ada kalimat "sikap fiendly" yang selalu ku sebut, tiba-tiba kau menarik diri, mungkin kau tertusuk pada kata itu, aku masih tak sadar akan hal yang mengganggumu.
Sapaan hangat yang biasa kita lontarkan tak ada balasan satupun, aku merasa ada hal yang mengganjal, hingga ia membalas pesan maafku, poin pada kalimat itu berkata: 'Aku memilih mundur dari kedekatan kita'. Seketika gusar tak tertahankan.
Perbedaan pandangan ini memakan waktu dua hari.
Hari pertama aku menelpon ia untuk mendiskusikan hal itu, kupikir kata yang beberapa kali ku lontarkan itu menusuk hatinya, ternyata ada hal yang lebih dalam dan akhirnya membuat ia menarik kedekatan kita. Ia memilih mundur karena merasa terabaikan, merasa cemburu, merasa obrolan bukan lagi tentang kita, karena seseorang yang kuceritakan dengan antusias bahwa dia mirip kamu secara pola pikir. Disini egoku tergoyahkan dan aku tersadarkan, seolah mirrorring dari kedekatan ia dengan seseorang di pendakian, aku membalas dengan keasikanku berinteraksi dengan orang lain dan mengabaikan ia, lalu aku masih menuntut ia untuk memberikan hatinya. Betapa bodohnya laki-laki ini.
Pada sela-sela renungan aku memahami bahwa cinta dan sayang bukanlah saling menuntut tapi memberi, tak perduli dengan balasan. Pada saat itu aku tak perduli dengan apapun, yang ku inginkan hanya memberi yang terbaik untuknya.
Pada diskusi kedua aku melibatkan persona marketing pada diriku, setidaknya jadi upaya terakhirku mempertahankan hubungan ini. Aku membuang egoku jauh-jauh, aku membicarakan benefit jika kita tetap bersama. Dan iyaa, perjuanganku tak sia-sia, ia kembali membuka hatinya.
Pengalamanku berkali-kali membuatnya terluka membawaku pada kehati-hatian dalam berbicara, sampai ia berkata 'dalam hubungan yang sehat, ketika kamu tidak menahan dan terbebani untuk bercerita apapun', dan kita punya meja diskusi dan kompromi, akupun lega mendengarnya.
Hingga pada 13 September 2025, aku mengajaknya jalan mewujudkan beberapa bucket list nya, ia menginginkan sunmori naik vespa, aku berniat mengajaknya ke bandung, walau realisasinya kurang berjalan seiringan dengan niat, nyatanya ia sangat senang, usaha yang ku berikan membuatku tenang dan nyaman berada bersamanya, kita beristirahat makan siang, mendengarkannya bercerita tentang banyak hal, masalah pribadi, keyakinannya, sudut pandangnya.
Tuhan, terima kasih banyak, aku sangat bersyukur Kau telah menghadirkan ia di kehidupanku, banyak pembelajaran yang Kau berikan padaku melaluinya, rasanya kehadirannya seolah selalu menarikku ke atas, ke sesuatu yang lebih baik, sesederhana mindset yang tak pernah terbayangkan padaku sebelumnya.
Perjalanan kita berlanjut hingga berhenti sejenak di Masjid Raya Mega Mendung, pukul 18:45 sambil menunggu hujan reda, kita berbincang, aku bercerita 'mulli yang dulu itu sosok yang humoris dan ceria, lalu berubah menjadi sosok yang lebih serius', ia melontarkan pertanyaan 'apa yang membuat perilaku kamu berubah? patah hati' iya aku merasakan demikian, perubahanku dilandaskan karena patah hati dan banyak trauma yang ku buang dan kumodifikasi dalam ceritaku. Hingga obrolan itu menjalar menjelaskan masa laluku, aku berbohong tentang masa laluku, sebelumnya aku menjelaskan bahwa aku hanya pacaran satu kali, lalu kemarin aku bilang aku pernah pacaran di 2011 dan 2014, karna banyak trauma yang aku sembunyikan aku mulai belajar menyelesaikan trauma tersebut, aku mulai terbuka jujur padanya, ini yang membuat ia kecewa, bohong, itu menabrak keyakinanya, lalu suasana berubah dari menyenangkan menjadi gemuruh riuh. Aku salah.
Akupun kecewa dengan diri sendiri, berawal dari membohongi diri sendiri untuk menutup trauma masa laluku berimpact pada orang yang sangat ku sayang. Aku salah. Dan harus menerima konsekuensinya walau seberat apapun.
Jujur sampai detik ini, tulisan ini dibuat, aku masih belum oke, aku sangat ingin memperjuangkanmu kembali. Tapi aku lebih khawatir jika kau lebih jauh terluka bersamaku.
Berat memang mengikhlaskannya, tapi aku sadar ia layak dapat seseorang yang lebih jujur dariku, yang lebih baik, lebih bisa memprovide ia lebih dariku.
Perjalanan pulang mengantarnya jadi perjalanan paling menyedihkan seumur hidupku, aku harus mengikhlaskan orang yang sangat ku sayang berhenti berbagi kisah denganku, meruntuhkan keinginan dan angan-angan yang pernah kita bicarakan.
Dalam kecewa aku sadar, kau tetaplah bentuk pembelajaran dan selaras oleh quotes-quotes algoritma instagram yang sesuai dengan perasaan.
Sial seakan semesta mendukung kepergiannya.
Dan entah garis takdir mengikat kita dikemudian hari atau tidak, aku sangat bersyukur dengan skenario terbaik yang Allah berikan.
Entah harus bersyukur bagaimana lagi padaMu, bahkan kecewa dan kepergiannya yang Engkau hadirkan tetap lembut, tak ada rasa amarah sedikitpun, aku berharap kita tetap bisa berhubungan baik dikemudian hari.
Walau cerita ini singkat, kau tetap akan abadi dihatiku, setidaknya pada karya ini.
Iya karyaku disini diawali karenamu dan diakhiri mengikhlaskanmu, terima kasih banyak.











