Hi, kamu tahu?
Aku menulis ini sambil tersenyum, rasanya seperti ada kupu-kupu yang beterbangan di kepala.
Ternyata jatuh cinta seindah ini, ya. Aku benar-benar tidak pernah menyangka bisa jatuh hati kepadamu, dan yang lebih tidak kusangka lagi, kamu menyambutnya dengan begitu hangat.
Aku masih sangat ingat ketika kemarin kamu mengantarku pulang. Kamu bahkan rela memutar rute agar aku tidak tersasar. Hal sederhana, mungkin. Tapi bagiku, itu terasa begitu berarti.
Dan aku pun diam-diam melakukan hal yang sama. Aku memilih agar tetap bisa duduk di kereta, padahal yang sebenarnya kuinginkan hanyalah memperpanjang waktu bersamamu. Beberapa menit tambahan itu terasa begitu berharga, seolah perjalanan pulang tidak perlu terburu-buru untuk selesai.
Lucu, ya. Bagaimana hal-hal yang sebelumnya terasa biasa, kini berubah menjadi kenangan yang terus ingin kuputar ulang. Jalan yang kita lewati, percakapan sederhana, tawamu, caramu memastikan aku baik-baik saja. Semuanya menetap dengan tenang di kepalaku.
Aku jadi mengerti, ternyata jatuh cinta bukan hanya tentang jantung yang berdebar lebih cepat. Ia juga tentang rasa tenang. Tentang seseorang yang membuat perjalanan pulang terasa lebih hangat. Tentang seseorang yang membuatmu merasa tidak perlu menjadi siapa-siapa selain dirimu sendiri.
Dan yang paling kusyukuri, bukan hanya karena aku menyukaimu. Tetapi karena kamu tidak membuatku berjalan sendirian.
Aku tidak tahu akan sejauh apa cerita ini berjalan. Namun, untuk saat ini, aku ingin menikmati setiap langkahnya. Menikmati setiap kesempatan untuk mengenalmu lebih dekat. Menikmati setiap obrolan yang selalu terasa kurang lama.
Kalau suatu hari nanti kamu membaca tulisan ini, semoga kamu tahu, ada seseorang yang pernah merasa sangat bahagia hanya karena dipertemukan denganmu. Seseorang yang tersenyum sendiri setiap kali mengingat perjalanan pulang itu.
Seseorang yang akhirnya percaya bahwa cinta memang bisa datang dengan cara yang sangat sederhana.
Lewat seseorang yang memilih memastikan aku tidak tersesat, sementara tanpa sadar, justru dialah yang menjadi tempatku pulang.











