Ada yang baru di dalam rangkaian acara Dieng Culture Festival 2019 dan pastinya ditunggu-tunggu oleh pecinta serta penggemar kopi nusantara. Berjudul Java Coffee Festival (JCF) dengan tajuk “Wani Ngopi Luhur Wekasane” ini merupakan sub even DCF 2019 yang diinisiasi oleh komunitas Join Kopi Wonosobo dan Dieng Pandawa. Dani Wahyu Satria, korlap sub even Java Coffee Festival ini mengungkapkan bahwa sebenarnya even ini sudah direncanakan sejak lama.
“Java Coffee Festival ini merupakan judul spesifik ide Mas Eed, teman saya dari Bowongso. Saat itu, dia punya cita-cita untuk membuat acara berjudul JCF ini di Wonosobo. Tapi di Wonosobo sendiri belum bisa terlaksana, setelah ter-pending sekitar 1,5 tahun akhirnya kita bisa mewujudkan cita-cita, konsep dan konten acara di sub event DCF tahun ini”, terangnya.
Dani menjelaskan, penamaan JCF juga punya alasan. Beberapa diantaranya yaitu Java yang ber-asosiasi sangat lekat dengan kopi, dan Java juga sebagai penanda bahwa even ini melibatkan pelaku kopi yang mewakili daerah-daerah di Pulau Jawa.
Akan ada tiga narasumber dengan topik menarik yang berbeda. Eko Purnomowidi, co-Founder Klasik Beans akan membagikan pengalamannya tentang konservasi melalui budidaya pohon kopi; Muhammad Aga, jawara IBC 2018 dan juga pemeran barista dalam film Filosofi Kopi akan berbagi kisahnya sebagai barista serta cita-citanya tentang kopi Indonesia; selain itu hadir pula Budi Kurniawan, film maker yang akan bercerita tentang bagaimana mencari sejarah dan sebuah visi tentang warisan pulau Jawa. Dipandu oleh moderator Radiv Annaba, peneliti muda yang fokus mengolah data tentang coffee chain di Indonesia dan baru saja pulang dari Berlin berkesempatan mempresentasikan salah satu jurnal penelitiannya pada acara SCA-Lecture series.
Buat generasi milenial yang masih termehek-mehek sama film Filosofi Kopi, niiihhh, ada Mas Aga niiih!
Padahal saya nulisnya juga sambil deg-degan, hahaha. See you, mas Aga :*
“Talkshow besok akan menghadirkan para petani lokal Dieng, petani Wonosobo-Banjarnegara, perangkat desa, tokoh, pejabat terkait, ini harapannya adalah laku konservasi & reforestasi yang dilakukan Pak Eko, prestasi Mas Aga di bidang perkopian, cerita Mas Budi tentang sejarah kopi Indonesia, dan data riset jabaran Mas Radiv, akan bisa memotivasi para undangan untuk lebih peduli dengan alam, dengan cara laku konservasi melalui budidaya pohon kopi.”, harapnya.
Selain talkshow yang menghadirkan narasumber dan moderator nomer satu di bidangnya, akan ada bazaar kopi dengan jumlah 20-an booth dari pelaku industri lokal maupun luar daerah seperti Jogja, Bandung, Jakarta, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan masih banyak lagi.
“Bazar ini sebagai connection bridge. Kami sebagai penyelenggara, mencoba menginisiasi acara yang menghubungkan antarlini, dari hulu hingga hilir. Selain mengakomodir peserta DCF yang kebanyakan generasi milenial penikmat kopi pecinta senja, bazaar juga bertujuan untuk mempertemukan penjual dan pembeli pada level petani/pengolah/produsen dengan coffeeshop-coffeeshop ternama. Jadi harapannya akan ada inisiasi untuk saling bekerjasama pasca event JCF”, ungkapnya.
Harapan secara umum, tambah Dani, karena industri kopi itu luas, even ini bisa menjadi sarana to colaborate and to connect. Selain itu, sub even JCF ini merupakan bentuk komitmen untuk tidak meributkan Dieng Wonosobo atau Dieng Banjarnegara.
“Ini menjadi tanda bahwa Wonosobo atau Banjarnegara atau siapapun yang punya konsep dan pemikiran yang apik untuk Dieng, pasti akan diakomodir dan diberikan kesempatan. Tidak peduli dia berasal dari kabupaten mana.”, tegas Dani.
Yang ini penting pake banget! Sampe pusing saya denger Dieng Banjarnegara atau Dieng Wonosobo. Harusnya, bisa kolaborasi ya! Semoga niat baik mas Dani dan kawan-kawan diaminkan paling serius sama Sal Priadi, eh sama saya-lah, eh sama semua orang yaaa!
Sub even Java Coffee Festival akan dihelat mulai hari Jumat, 2 Agustus 2019 sampai hari Minggu, 4 Agustus 2019. Acara puncak JCF ada pada kegiatan talkshow yang akan dilaksanakan hari Sabtu, 3 Agustus 2019, tepatnya di panggung Setyaki pukul 12.30 hingga 17.00 ini akan lebih meriah dengan hiburan pertunjukan Mapping Projection yang dibawakan oleh seniman Woohoo Art Space yang juga pertama kali diadakan di DCF.
Mas Lukman dan teman-teman dari Woohoo Art Space ini yang paling bisa bikin pertunjukan nggak masuk akal, hahaha. Selamat penasaran dan selamat menikmati pokoknya. Kalian yang dateng bakalan melongo, akan ada yang ginian di Dieng!
Oiya, untuk masuk ke area sub even JCF ini, baik dalam acara talkshow dan juga bazaar tidak dibutuhkan tiket DCF, sehingga pengunjung umum boleh menempati tempat duduk yang disediakan panitia. Jika butuh info lebih lanjut, bisa melalui akun @bowongso_ atau @festivaldieng. Persiapkan diri, jaga kesehatan dan bawa jaket yang tebal! Jadi, sampai ketemu di Dieng yaaaa! Satu lagi, jangan lupa bawa yang bisa dipeluk!
Java Coffee Festival, Yang Baru di DCF 2019! Ada yang baru di dalam rangkaian acara Dieng Culture Festival 2019 dan pastinya ditunggu-tunggu oleh pecinta serta penggemar kopi nusantara.