Ketika Kehilangan Pijakan
Selamat pagi menjelang siang pembaca!
Mohon maaf atas keterlambatan saya kali ini dalam membuat tulisan. Seperti judul yang saya tulis, kita mungkin akan sedikit terlambat dibandingkan teman-teman yang lain bila sedang “kehilangan pijakan”.
Pembaca di mana pun engkau berada, sungguh bukan sesuatu yang mustahil diri kita ini mengalami masa yang kurang baik, tak bisa dibanggakan dan justru ingin dikubur dalam-dalam.
Situasi ini bagaikan hadiah kejutan dari Sang Pencipta, tanpa ada aba-aba dan isyarat kapan ia bisa hadir ke pangkuan kita. Kaget! itu adalah respon pada umumnya yang kita rasakan bila dirundung sesuatu yang kurang baik.
Seperti ketika kita kehilangan pijakan yang sudah kita susun rapi dan apik. Kita mengira bahwa satu pijakan lagi kita akan sampai pada tujuan kita. Kita mengira bahwa satu pijakan lagi kita akan menemui yang sudah lama kita tunggu-tunggu.
Aih, salah besar.
Ternyata yang kita pijak adalah bantalan awan yang sedang menyamar. Akhirnya diri ini terjatuh hingga ke dasar, bersama puing-puing pijakan. Suatu hal yang tidak menyenangkan tetapi kita memang tidak bisa mencegahnya terjadi, karena memang hal seperti itu sudah jadi takdir tiap insan di bumi.
Lalu bagaimana setelah kita “kehilangan pijakan”?
Tentunya kita akan jatuh, pijakan-pijakan rencana kita akan runtuh menimpa, bisa jadi tak ada yang menolong, karena mereka kira itu hanya tumpukan benda yang kosong.
Lalu setelah itu apa?
Bangkit! sudah sewajarnya refleks tubuh ini akan meronta, mencoba melepaskan diri dari pijakan-pijakan yang sudah runtuk, berusaha sekuat tenaga melawan gravitasi. Kecuali memang tabiat kita senang tenggelam dalam reruntuhan, senang terkubur dan jadi tak bernilai, senang menunggu belas kasih orang dengan sesekali merengek untuk diperhatikan.
Semua tergantung pada akhirnya
Akhirnya kamu akan terus meratapi kehilangan pijakanmu? atau menyusun lagi yang baru?
Bukan kah menyenangkan memulai sesuatu yang baru lagi? :)















