Pertemanan di lingkup pesantren
Sabtu, 08 Juli 2017 , sebagai seorang santri yang merindukan ârumah keduaânya setelah beberapa bulan tidak menginjakkan kaki dipesantren tercinta dan mungkin sudah tidak lagi berstatus âmenetap dipondok pesantrenâ untuk seterusnya, rasa rindu yang sangat mengantarkan kakiku berjalan kembali ditempat penuh kenangan dan kedamaian. Ya, pesantren. Sebuah tempat yang kata orang sangat menyebalkan, tempat yang katanya membosankan malah berhasil membuatku rindu serindu-rindunya akan keramaian , kekonyolan, keagamaan , kekeluargaan dan ke-ke an lainnya. Seperti yang pernah diposting oleh teman sekamar saya mbak @babyneptunesblogâ bahwasanya santri tidak hanya mengaji,mengantri,mencuci,memakai peci, memakai sarung, memakai jilbab, makan susah, mau tidur kerepotan, mau mandi antri, semua antri, gak ada yg instan. Ya harus kuakui hal yang disebut temanku itu emang bener, kalo makan susah , selalu antri dan laen-laen. Tapi serius nggak hanya itu, justru di pesantren kamu akan menemukan banyak hal yang tidak pernah kamu dapatkan di pendidikan formal luar pesantren.
okee, sekarang aku mau bahas salah satu dari sekian banyak hal tersebut. Hmm tentang pertemanan dilingkup pesantren.
Siapa coba yang gak mau punya temen yang selalu membuatmu bahagia, temen yang selalu ada buat kamu bahkan saat kamu jatuh sekalipun, pasti semua orang pengen punya temen kayak gitu dong ? ahha. Kamu harus tau , dipesantren kamu bakal nemuin temen kayak gitu bahkan lebih, seorang temen yang sangat peduli dan sangat menyayangimu. Gak percaya ? kalo gak percaya silahkan berkunjung kerumahku dan kutunjukkan kebenaranya wkwk atau boleh juga kamu rasain sendiri.Â
Saat merenung , aku pernah sempat berfikir begitu beruntungnya aku disekolahkan dilingkup pesantren, karena disana aku bertemu dengan orang-orang hebat yang benar-benar mempunyai ketulusan hati yang sangat. Kalo tentang teman bisa diambil contoh, misal saat kamu sedang sakit, siapa yang ngerawat kamu , yang memberikan kamu obat, makanan, minuman, siapa peduli sama kamu saat nggak punya uang karena belum dapet kiriman dari orang tua atau saat kamu patah hati misalnya, siapa yang mau mendengarkan celotehmu sampai larut malam, memberikan pundak saat tangisanmu pecah karena orang yang kamu suka, suka sama orang lain *eh kok jadi cucol* , kalo nggak mereka ?Â
temen-temen dipesantren tuh nggak hanya nemenin kamu dari pagi hingga sore aja, tapi seharian full selama beberapa tahun, ngapa-ngapain bareng, makan bareng jalan bareng, suka sama orang bareng bahkan sampai mandi pun kadang suka ngerameni kamar mandi. Jadi, bisa ditarik kesimpulan bahwa temen dipesaantren itu sudah kayak keluarga sendiri , bunyai ibarat ibu sendiri, pak kyai ibarat bapak sendiri, temen-temen ibarat saudara kandung sendiri yang sekalinya dipisah jadi malah bikin hati gundah, udah kayak magnet yang pengennya lengket mulu *eaak, eh serius ini aku gak gombal wkwk!
Aku punya sedikit cerita tentang saudaraku yang dulunya pernah merasakan mondok walau sebentar, begini.
waktu aku maen kerumahnya, dia pernah bilang
 âim rasane due konco wong njobo ambek santri iki bedo yoâ (baca : im rasanya punya teman orang luar  sama anak santri itu beda ya)
âiyotaa? mosok seh ? bedo piye emang?â (baca : iya ? masak sih? beda gimana emang) aku ngomong gitu soalnya aku sudah 6 tahun emang gak pernah sekolah luar hehe
âiyo, aku ngerasakno dewe . Nek koncoan ambek arek pondok ki lek nesu-nesuan mesti gak suwe, trus gak memandang kasta, kabeh podoâ (baca : iya, aku merasakannya sendiri. Kalau berteman dengan anak pesantren itu kalau marah-marahan gak bakal lama, trus tidak memandang kasta, semua sama)
jadi, pernah suatu ketika waktu awal kelas 10, saudaraku tadi sengaja disuruh ibunya sekolah naik angkot dan tidak boleh sama sekali naik motorlah apalagi dianter pake mobil. Alhasil, disekolah dia dipandang sebelah mata, dikira dia orang yang âkereâ tapi sebenernya sungguh dia anak orang berada, bahkan dia cucu dari salah satu kyai ternama di Tebuireng. Lama-kelamaan dia nggak betah dengan kelakuan temannya akhirnya merengek nangis dipangkuan ibunya, dan ibunya bilang âyo iku nduk, ibu sengaja menyuruh naik angkot supaya kamu tau hidup susah itu seperti apaâ, oke didikan yang hebat budee!! wkwk
Dia bercerita, sangat nyaman sekali berteman dengan anak pesantren dibanding anak SMAnya sekarang, yang paling membuatku terkejut selama 3 tahun dia bersekolah di SMA negeri luar, setiap harinya dia masih bergaul dengan teman-temannya dulu sewaktu di pesantren yang sekarang se SMA dengannya.
Intinya , temen dipondok pesantren justru lebih menerimamu apa adanya, entah latar belakangmu seperti apa mereka tidak pernah peduli. Lha wong ngejalanin kegiatan apapun bareng. Dari pesantrenlah kalian juga tau berbagai macam karakter orang. kamu akan lebih paham bagaimana menghadapi setiap orang yang punya sifat yang berbeda-beda, bahasa berbeda-beda dan kultur budaya yang berbeda-beda. Dijamin asyikk deh!
Duh cerita kek gini malah bikin aku kangen sama teman-temanku disana Loveyuu somucch guyss, aku mencintaimu. hehe
 Bagaimana ? masih menganggap bahwa menjadi santri itu tidak menyenangkan ? coba pikirkan lagi.













