“Sungguh, tidak serta merta kami bermaksud begitu. Kiranya engkau mengerti wahai dewi pemilik karya kriya tuhan nan dinamis. Serbuan molekul-molekul basa dalam tubuh ini tak mudah untuk dibendung. Bukan karna kami tak mampu menjaga gurita reseptor tubuh. Tapi entah. Erangan itu bergerak secepat respon indera kami pada makhluk sepertimu”
Naif, sejak kapan kata itu bisa manggantikan arti fitrah manusia? Semudah sifatnya-kah?
Bukankah sudah saatnya kenaifan itu menghilang lalu bertransformasi menjadi teorema yang lebih tinggi dejatnya?
Iqra! Bacalah apapun yang di-indera.
Teriakan ini tidak sesederhana kritik. Tapi menuntut kami, para kaum adam, berubah menjadi sebijaksana mungkin. Lapang dada untuk memahami, dan selalu mencoba untuk menolak segala bentuk penjerumusanya.
Kolaborasi aksara lapang dada dengan permintaan maaf, dari kami.
Wahai hawa, sadarkah dirimu akan perhatian kami? Terkadang begitu berlebihan. Hingga menuai benih-benih imajinasi. Maaf, karena sifat tersebut bukan semata karena kami mau. Tapi bolehkah jikalau kami meng-kambinghitam-kan dunia yang ikut andil dalam membentuk sabana fantasi di lembah lamunan ini.
Maaf, untuk kesekiankalinya. Walaupun kami terlihat gagah perkasa, ketahuilah bahwa kelemahan kami adalah bercermin pada diri sendiri. Jadi tolonglah kami, dengan tidak mengundang kelemahan itu hingga mewujud menjadi kekhilafan. Jangankan menatap strukturmu, memergoki dirimu yang sedang mengikat rambut~saja kami berubah lunglai. Serius. Begitupula seperti yang dijelaskan dalam kitab asbab.
Itulah kenyataanya. Jangan tanyakan kami. And please don’t blame us.
Pun diantara kami ada yang kemudian terbuai lalu terjerembab. Berubah dari pengguna, pelanggan lalu menjadi provider. Maka mereka itulah yang tak henti-hentinya memujimu, berlebihan. Dan ketahuilah wahai hawa, bahasa politik lelaki hanyalah kemenangan. Terlepas dari apapun bentuk prosesnya. Jangan sekali-kali kamu menjadi mudah. Karena mudahmu membuat kami lemah.
Mudah-mudahan kalian para hawa mengerti dan sudi menerima permohonan maaf kami.
fadilmfadil cc: dillazova