Cerita Singkat tentang Rumah ep.1
Di sebuah rumah kecil, sempit. Hanya cukup aku seorang.
Terkadang tamu datang, kemudian pergi.
Seorang lelaki datang mengetuk pintu rumahku,
Kami memang saling tahu satu sama lain, namun tetap terasa asing.
Tak ku bukakan pintu, takut kalau-kalau ia berniat buruk.
Tak ku sangka ia menunggu di tempat yang sama, di depan pintu rumahku, tanpa jemu.
Hari demi hari, minggu demi minggu, berbulan-bulan. Musim demi musim berlalu, tahun sudah berganti angka.
Cuaca diluar tak menentu, terkadang begitu terik, kadang juga hujan lebat. Namun ia tetap berdiri tegap.
Tetap meyakinkanku tidak ada niat jahat, mengajarkanku soal kesabaran.
Aku buka pintu pelan-pelan dengan penuh ragu, melihat badannya masih tegap di depan rumahku, bibirnya tersenyum.
Ia jadi sering bertamu, entah hanya untuk meminum kopi hangat atau membicarakan topik yang cukup berat.
Aku mulai menyebutnya "kamu", kamu ku.
Sampai pada suatu hari kamu menawarkanku untuk membangun sebuah rumah, untuk bersama. Katamu begitu.
Aku mulai goyah, "kamu yakin?" Tanyaku
"Sangat" kamu jawab begitu.
Aku mengiyakan tawaranmu, aku senang. Sangat senang.
Kami mulai membangun rumah bersama, dindingnya dari kepercayaan, atapnya merupakan cita-cita bersama, dicat dengan kehangatan dan kenyamanan. Dipagari kesetiaan. Aku siapkan banyak rak-rak buku karena aku tahu kamu sangat suka membaca.
Rumah impian kami, saat itu.
Sampai suatu hari kau memintaku untuk keluar, mengusirku tanpa aba-aba.
"Sudah, akhiri saja. Rumah ini bukan rumahmu lagi"
Aku tak tahu apa yang salah saat itu, mungkin aku tak membangun sesuai inginmu.
Aku pergi, tak membawa apa-apa dari rumah kami. Semuanya telah ku tinggalkan selain luka yang kau sayat sore itu.
Di tengah jalan, aku melihatmu di sebuah rumah. Namun bukan rumah kita yang dulu.
Ada perempuan disitu, cantik.
Akhirnya aku tahu mengapa kau memutuskan untuk tidak melanjutkan rumah kita. Nampaknya kamu juga tengah membangun rumah bersama perempuan lain. Sayangnya, rumah yang hampir jadi itu diserang taufan besar. Dindingnya retak, pagarnya hancur.
Kamu meninggalkan rumah kita karena sibuk memperbaiki rumahmu yang lain, yang kini hampir roboh. Baiklah aku mulai mengerti.
Aku berpura-pura tak melihat, mencoba melupakan semua kejadian di hari itu.
Malam itu seseorang mengetuk pintu rumahku. Aku kira itu kamu.
Aku bukakan pintu untuknya, mengijinkannya masuk.
Ternyata benar, itu dia. Perempuan yang bersamamu sore itu. Kamu tak salah memilih, memang dia perempuan baik.
Dia cerita banyak soal kamu, cerita juga soal rumah kalian yang diserang taufan besar.
Aku tahu apa maksudnya, dia mengisyaratkanku untuk meninggalkanmu.
Bukannya sudah aku lakukan?
Sementara perempuan itu menginap, karena rumah satu-satunya adalah rumah bersamamu. Yang kini hampir roboh.