Troiaās How To: Menulis Cerita Romansa Dengan Tokoh Yang Seimbang
Warning: ini cuma opini gue tentang apa yang menurut gue seimbang. Karena gue pikir, kadang tuh bukan tokohnya yang salah, kadang juga bukan dua tokoh utamanya yang tidak seimbang, kadang yang salah tuh adalah penulisnya yang nggak cukup seimbang dalam showing kebaikan dan keburukan para tokoh.
Dari tahun 2009-2013, gue sering nemu novel-novel YA Fantasy terjemahan yang polanya sama semua: cewek yang menganggap dirinya b aja atau ājust your average girlā yang kehidupannya membosankan, kemudian dia ketemu cowok ganteng hot yang ternyata nephilim/vampir/imortal/werewolf/penyihir/raja kegelapan, lalu mereka jatuh cinta dan ternyata si cewek ini adalah cinta sejatinya si cowok āastralā. Penokohannya pada mirip-mirip sih walau beda cerita dan beda penulis. Dan meski gue masih bisa tahan baca dua-tiga novel dengan premis yang sama (cuma universe aja yang agak beda), melihat belasan bahkan puluhan novel berpremis dan berpola sama ya lama-lama bikin gue eneg juga. Berasa kayak manusia tuh sifatnya itu-itu doang gitu. Atau kisah hidup remaja menjelang dewasa yang masuk dunia fantasi ya gitu-gitu juga.
Karena bosan dengan pola-pola ini, akhirnya gue beralih ke novel-novel Indonesia. Dan meski gue menemukan beberapa novel yang tidak menggunakan pola tadi, ternyata jauh lebih banyak novel romansa atau fiksi remaja yang pake pola ala YA Fantasy terjemahan di tahun-tahun tersebut. Bedanya cuma nggak ada sisi fantasi aja. Murni tentang tokoh di dunia kita. Dan cerita dengan pola tersebut paling banyak gue temukan di Wattpad.
Nggak sedikit pula dari novel-novel itu yang cuma nunjukkin sisi badass atau sisi hot si tokoh cowok, sedangkan si tokoh cewek selalu digambarkan b aja, nggak pinter, inferior (tapi anehnya tetap dibucinin si tokoh cowok hot). Gue paham merasa inferior itu manusiawi. Tapi kenapa inferioritas si tokoh cewek di-showing lebih sering dibanding adegan si cewek dengan struggle-nya dan sisi positifnya? Sedangkan sisi merasa inferior si tokoh cowok biasanya cuma takut kehilangan si cewek/takut dia nggak cukup baik untuk si cewek, sisanya dia sempurna: sayang keluarga, atau kalau keluarganya berantakan, dia tipe yang loyal ke teman, berani take over suatu masalah, pinter, jago gombal, dsb. Aneh aja gitu kenapa si cewek lebih banyak ditunjukkan kekurangannya sedangkan si cowok lebih sering ditunjukkan kelebihannya. Itu sih jatohnya timpang, bukan opposites attract. Jadi nggak seimbang gitu showing kekurangan dan kelebihan tokoh cewek dan cowoknya.
Makanya untuk bikin dua tokoh utamanya balance, cara gue simpel sih. Tinggal bikin adegan-adegan showing kekurangan dan kelebihan si tokoh cewek dan tokoh cowok seimbang jumlahnya. Kalau gue udah showing kualitas baik si cowok, gue juga tunjukkin kualitas baik si cewek. Begitu pun dengan kekurangan-kekurangan mereka.
Dan karena gue menulis cerita romansa yang tokoh-tokohnya berusia dewasa, pembicaraan tentang prinsip-prinsip fundamental itu penting banget nget nget. Karena kalau tokohnya berusia dewasa, hubungan yang mau dijalin itu hubungan asmara berkomitmen (walau ada aja tokoh yang cuma mau main-main sih, jadi gue sesuaikan berdasarkan karakter). Tapi tokoh-tokoh gue yang udah dewasa mostly emang niatnya nyari hubungan yang buat nikah (tidak dalam waktu dekat, kalo ada tokoh gue yang nikah kilat, akhirnya pasti ancur). Dan untuk tahu prinsip-prinsip fundamental orang, ya dibutuhkan pengakraban satu sama lain, butuh ngobrol. Lo kan nggak mungkin kenalan sama gebetan terus langsung berekspektasi dia sudah pasti memiliki prinsip yang sama kayak lo tanpa harus berbicara. Pasti ada komunikasi. Gebetan atau pasangan lo kan bukan ahli nujum.
Eh, tapi porsi pembicaraan ini menurut gue nggak perlu dimasukkan ke dalam cerita teenfiction karena, yah, kejauhan bok, masa abege gak perlu terlalu serius gitu. Ya boleh aja sih. Cuma??? Buat apa??? Teenfiction kan genre yang mengulas tentang pencarian jati diri remaja. Mikir serius tentang nikah tuh agak kejauhan. Pikirin kuliah atau kerja dulu aja kali.
Sangat penting bagi gue untuk menulis tokoh yang sama-sama tahu bahwa mereka seprinsip dalam menjalani hubungan berkomitmen. Ini salah satu cara bikin mereka balance. Karena jika melihat apa yang terjadi di dunia nyata, pasangan yang nggak seprinsip tapi maksain tetep lanjutin hubungan itu jadinya kayak menekan satu sama lain untuk berubah gitu. Misal si cewek mau punya pasangan yang berprinsip no sex before marriage, sementara si cowok yang deket sama dia itu menganggap seks ketika pacaran tuh normal. Tapi si cewek maksain tetep jadian, dengan keyakinan si cowoknya saking sayangnya sama dia jadi jagain dia dan mengikuti prinsip si cewek. Terus, pas udah pacaran sih emang bener si cowok ga minta seks, tapi tau-tau si cowok ternyata ngelakuin seksnya sama cewek lain di belakang dia. Atau kadang si ceweknya akhirnya ngalah sama kemauan si cowok yang minta seks, dan akhirnya berani ngelakuin supaya si cowok nggak lepas dari dia, tapi tau-tau si cowok mutusin dia karena bosen, trus si cowok cepet dapet cewek baru. Sering terjadi di kota-kota besar.
Buat gue, orang-orang yang menggadaikan prinsip-prinsip utama hidupnya demi cinta itu kekanakan. Soalnya prinsip-prinsip yang manusia pegang itu adalah salah satu faktor bagaimana karakter kita terbentuk. Tanpa prinsip, kita cuma manusia tanpa kepribadian yang cuma iya-iyain segalanya. Dan dalam cerita apa pun, tokoh yang nggak punya kepribadian itu nggak menarik buat gue simak.
Tapi itu gue sih. Gue lihat masih banyak kok pembaca yang menganggap banyak tokoh menarik meski nggak punya kepribadian. So, you do you.
Nah, orang yang udah dewasa secara pemikiran pasti juga udah berkontemplasi cukup panjang untuk memegang suatu prinsip tertentu. Ada alasan kenapa dia memegang prinsip-prinsip hidupnya sekarang. Plus, melihat masih cukup banyak orang Indonesia yang mau berkeluarga, prinsip berikut nilai-nilai hidup yang menurut kita penting itu bakal diturunin ke anak-anak kita. Itulah kenapa (berhubung sebagian besar tokoh-tokoh novel gue pada ingin berkeluarga), showing adegan pembicaraan tentang prinsip fundamental dan nilai-nilai yang mereka pegang itu penting. Bahkan kalau pun mereka nggak berniat punya anak, tetep harus gue buat seprinsip sama love interest-nya. Kalau gue bikin mereka prinsipnya beda, bisa jadi gue satukan hanya untuk gue pisahkan lagi. Yeay, kalian dapet spoiler.
Sementara untuk perbedaan traits tokoh, kayak beda dari selera fashion, selera musik, selera film, selera makan, pendiem atau bawel, itu hal yang superfisial banget, karena itu perbedaan yang normal, yang mana kebanyakan manusia nggak merasa berkewajiban menurunkan traits itu ke anak. Walau tentu tiap orang pasti punya pet peeves sendiri yang mungkin buat orang lain āIh apa sih, lebay banget, biasa aja kali.ā Contohnya, ada yang ilfeel kalau lihat gebetannya pake sandal Crocs, ada juga yang ilfeel kalau gebetannya ngecap-cap kalau makan (makannya nggak mingkem, jadi berisik), ada juga yang jijik kalau gebetannya malah nyebut āseksā pakai istilah āHBā (HB: Hubungan Badan, bukan jenis pensil) karena berasa kayak ngomong sama sender @/cerminlelaki, ada juga yang ilfeel kalau lihat orang ngomong tapi menyebut dirinya sendiri pakai namanya (misal namanya Anik, terus si Anik kalo ngomong ke orang tuh āAnik nggak tahu, Anik juga nanyain dari tadi.ā), ada juga yang ilfeel kalau gebetannya nyebut IGstory/Instastory pakai istilah āsnapgramā, dan pokoknya banyak deh macem-macem pet peeves orang. Dan, itu sah-sah aja. Sama sahnya seperti orang yang mau cari pasangan seagama. Walau pet peeves itu lebih ke ketidaksukaan karena preferensi pribadi aja, bukan karena nilai-nilai utama hidup kita.
Tapi intinya kalo di novel, entah apa prinsip hidup si tokoh, gue akan show adegan mereka mengkomunikasikannya ke love interest mereka.
Balik lagi ke penokohan yang seimbang. Gue merasa tokoh cewek lebih sering digambarkan b aja karena gue lihat, jarang ada showing tokoh cewek yang keren gitu. Bukan berarti harus bikin tokoh ceweknya jadi bad girl jagoan, bos perusahaan, Ketua OSIS andalan, atau petarung jalanan sih. Showing mereka melakukan hal-hal kecil yang bikin terkesima aja. Gue sih terkesima sama orang yang tetap tenang terkendali di saat suasana tertekan, atau orang yang pandai bikin suasana cair (humoris!), atau orang yang humble tanpa jadi pretensius, atau yang mampu memberikan argumen masuk akal, atau yang berani menolak lelaki gantengmapanCEOtapibrengsek karena si cewek ini memegang teguh prinsipnya. Gue langsung refer ke tokoh cewek karena gue lebih sering menemukan tokoh cewek yang banyak ditunjukkin kekurangannya dibanding tokoh cowok yang begitu.
To sums it all, hereās my tips:
-Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ketahui apa yang menurut lo keren dari cewek (plis banget hindari cuma showing betapa keren pekerjaan si cewek atau betapa kecantikannya beda dari cewek lainnya. I mean, Iām okay with perfect characters, I even made some since some of my characters are goddesses (literally), tapi untuk tokoh manusia, kalau cuma pekerjaan dan kecantikan aja yang di-show, kesannya lo jadi menilai kekerenan seorang cewek cuma dari pekerjaan dan kecantikannya aja, padahal banyak yang keren dari perempuan selain dari itu (tapi itu menurut gue sih, barangkali menurut lo gaada yang keren dari mahkluk beruterus, who knows?).
-Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Tulis hal-hal yang lo suka dari perempuan ke tokoh cewek lo.
-Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Bikin showing adegan yang menunjukkan traits yang lo suka ke tokoh cewek ini.
-Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Inget, jumlah adegan yang nge-show sisi kekurangan dan kelebihan si tokoh cewek dan cowok harus seimbang.
-Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Ā Walau lo udah bikin kelebihan si tokoh cewek, pasti ada aja yang nggak suka sama ākekuranganā dia. And thatās totally normal. It means she is human.
So thatās a wrap! Gue emang lebih fokus ke tokoh cewek di sini, sehingga judul lain dari tips ini adalah: How to build a female character in novel. Semoga membantu. Kalau menurut lo hal kayak gini nggak perlu dilakukan karena āYaelah ribet amat sih, suka-suka gue dong mau nulis apa namanya juga fiksiā ya silakan saja abaikan tulisan gue ya baik oke sip.
Ā p.s.
Padahal kalau dipikir-pikir, kan di Wattpad kebanyakan penulisnya cewek. Emangnya mereka (yang lebih sering showing kekurangan tokoh cewek dibanding kekurangan tokoh cowok) nggak pernah nemuin cewek keren kah di hidupnya? Apa jangan-jangan menurut cewek-cewek itu, orang yang bisa keren cuma cowok doang? Ck, nggak mungkin gitulah ya. Julid sekali diri ini.










