Fatherless
waktu itu hari minggu, minggu ke-3 setelah aku memutuskan untuk mengikuti sebuah kelas pra-nikah. agak aneh memang, seorang aku tiba-tiba ikut kelas semacam itu.
sebenarnya hal ini terjadi karena terlalu banyak orang membuat opini tentang “menikah”, sehingga banyak muncul pertanyaan yang aku tidak tau harus bertanya kepada siapa. lalu aku menemukan tempat belajar agama yang seru. belajar tentang akhlaq, sholat, tauhid, dst. sampai suatu ketika ada kelas pra-nikah. oke aku ikut.
hari itu materinya financial planning, yang ternyata narasumbernya lebih banyak membahas tentang family vision.
“di Indonesia sekarang itu sedang terjadi fenomena fatherless. jadi banyak anak yang kehilangan sosok seorang bapak”
wah.. apanih? batinku..
“bapak atau laki-laki itu beberapa nggak aware tentang parenting, jadi tugas pengasuhan diserahkan sepenuhnya ke ibu atau perempuan. tapi nanti kalau ada nakalnya anak, yang disalahkan ibunya. padahal kan harusnya jadi tanggungjawab bersama”
kata narasumbernya,
"sebagai tulang punggung keluarga, seorang ayah pasti sibuk dengan dunia kerjanya. tapi sebenarnya peran ayah itu selalu ditunggu sama anak-anaknya. jadi ya harus bisa meluangkan waktu, kayak semisal pas jam makan malam udah dirumah sehingga bisa makan malam bersama. dengan demikian, tumbuh kembang anaknya itu bisa dilihat sendiri nggak cuma ibunya aja yang tau"
pembahasan berlanjut hingga pembentukan karakter anak, yang tidak bisa dilakukan oleh satu sisi yaitu ibu saja atau ayah saja. harus kedua sisi. visi keluarga harus jelas, dan tujuan karakter yang ingin ditanamkan pun juga harus jelas. karena pada dasarnya, anak memiliki karakter bawaan yang apabila salah pola asuh, maka akan membawanya ke arah yang salah pula.Â
menikah tidak hanya sekedar memenuhi tuntutan orang-orang yang merasa kita sudah “berumur”. tidak hanya tentang resepsi. lebih dari itu semuaaaa menikah itu tentang mental, tujuan dan bekal untuk generasi yang lebih baik. sangat banyak yang harus dipelajari, karena ibadah seumur hidup itu ujiannya nggak pake jadwal. bisa tiba-tiba. dan memilih pasangan pun tidak hanya tentang kesamaan latarbelakang, karakter pribadi, pekerjaan, tapi juga tentang ilmu-ilmu lain yang harus dipahami sebelum ibadah besar itu.Â
“buat mbak-mbak nya nih.. kalau milih calon suami yang cerdas, biar anak-anak kalian nanti punya bapak yang pinter. nggak cuma mas-masnya aja yang boleh milih-milih calon istri, kalian juga”
abis denger kalimat itu, rasanya pengen ngajakin semua orang yang “buru-buru” mau nikah buat ikutan belajar dulu. hahaha...
source pict:Â https://id.pinterest.com/pin/349029039872349705/















