Jumat sore usai acara GJBN, semua rombongan pulang mengenakan mobil. Tampak rasa lelah di wajah semua panitia, tapi tak mengurangi rasa bahagia dan rasa syukur. Justru merasa senang, semakin bertambah rasa syukurnya. Diri ini masih Allah ijinkan untuk bisa berada di jalannya, menebar kebaikan dan kebermanfaatan, padahal diri ini adalah pendosa yang hebat.
Lepas itu terjadi percakapan ringan di dalam mobil. Seperti biasa, ciri khas Abi ketika bertemu tidak pernah lupa bertanya satu hal. Apa itu? Ya, pertanyaan sama dan berulang, karena aku belum penuhi tugas darinya.
Abi memulai percakapan.
"Tadi sama siapa dan naik apa Han, ke rumah Bu Yuni?"
"Naik angkot Abi. Hana sendiri ke sana, Bi."
Jeda beberapa menit, bertanya kembali.
"Gimana Han, udah berproses sama seseorang?"
Untung saja aku mengenakan masker, kalau tidak sudah nampak jelas tawaku mendapati pertanyaan itu. Aku tahu, sejatinya yang bertanya bukan Abi. Itu Allah yang bertanya, dengan penuh ketenangan aku menjawab.
"Ehm, belum Abi. Masih belum ketemu yang cocok. Kemarin sempet ada yang ajak, tapi gak mau jalur taaruf, Abi. Terus mundur deh."
Jawabku polos, tanpa ada yang ditutupi. Ya, memang begitu adanya. Kadang kala, saat kita berjuang jemput jalan mulia ada tantangan yang buat kita harus berpegang teguh pada prinsip awal.
Jemput jalur mulia tidak mudah. Bahkan berkali kena sasaran perkataan "Sok Jual Mahal" padahal nyatanya tidak begitu. Seindah apapun merangkai kata penolakan, tetap saja kita tidak bisa memprediksi jawaban serta penerimaan orang yang dituju.
Kemudian aku melanjutkan jawaban.
"Sejujurnya, hana sudah berkali gagal, Bi. Hampir ... kali gagal. Sampai akhirnya, minta Mas Yosi buat kasih pilihan tanggal."
"Oh, gitu." Jawab Abi pelan sambil menganggukan kepala.
"Tadi Hana ke Bu Yuni naik apa?" Tanya kembali, mengulang pertanyaan awal.
"Mobil angkot Abi. Kenapa Bi?" Jawabku penuh tanya dalam benak.
Teringat flash back pertama kali ikut private class, ketemu Abi. Tanya impian, jawabnya kuliah. Abi mengulang pertanyaan yang sama sebanyak tiga kali, "Kenapa harus kuliah dulu? Udah nikah dulu aja, nanti Allah permudah kuliahnya." Dan situ membuatku terdiam. Bertanya pada hati kecil, "Benarkah aku sudah siap menikah?"
Kali ini Abi mengulang pertanyaan, dengan menekankan kata pada perjalanan menuju ke tempat persiapan GJBN.
Aku mengubah fokus pandangan. Menunggu Abi melanjutkan kata. Sudah firasat, sepertinya ada pesan tertentu yang ingin di sampaikan. Abi membuat sebuah perumpaan, agar aku bisa belajar dari kehidupan. Cara didik guru dengan MK sensing memang seperti itu. Mereka menekankan untuk praktek lebih optimal dari sisi kuantitas, sesuai pengalaman di lapangan dan cenderung menuntut sebuah pembuktian.
"Han, gimana rasanya saat kamu mau naik angkot, mau berhentikan tapi gak ada satu pun angkot yang berhenti?"
Tak perlu menunggu lama, aku menjawab dengan cepat.
"Sedih, sakit hati, bahkan bisa kecewa, Bi."
"Nah, itulah. Yang kamu rasakan ini ada di posisi itu. Coba deh diterima takdir pahitnya, syukuri kesendirian dan minta sama Allah agar terus ditemani ketika penjemputan. Bahkan titipkan sama Allah segala hal diluar dari kemampuan kita sebagai hamba."
Aku masih mencerna kata-kata Abi. Tanpa menyela, ataupun mempertanyakan. Masih fokus menatap Abi, seakan menunggu kalimat lanjutan darinya.
"Kadang kala dalam kehidupan, sesuatu yang kita cari itu tidak kita dapatkan. Namun, ketika kita pasrah, ikhlas menyerahkan semuanya sama Allah akan ada keajaiban yang hadir dalam hidup kita."
"Jodoh itu ibarat kamu mau naik angkot. Berkali-kali coba cari dan hentikan, kamu gagal. Tapi, saat tidak mencari bisa jadi ada yang menawarkan. Yang dituju tukang angkot, tapi bisa jadi yang datang bukan tukang angkot."
"Maksudnya gimana, Bi? Hana kok bingung. Yang dituju tukang angkot, tapi yang datang bukan tukang angkot."
Melihat aku yang kebingungan Abi tersenyum. Mungkin aku tidak memiliki ikatan darah, dengan sosok lelaki yang ada di hadapanku ini. Namun, aku merasa dekat layaknya seorang ayah. Nasihat dari Abi, menjadi acuan ataupun bekal mengarungi kehidupan.
Dia menolah sekilas ke belakang, melihat reaksiku. Mungkin karena lelah, aku sulit mencerna kata-kata Abi.
"Han, tukang angkot itu ibarat sosok yang selama ini mendekat. Tujuan kamu tukang angkot, ternyata menurut Allah itu nggak baik. Mereka pergi dengan caranya Allah. Nah, di perjalanan, lagi nggak niat nyari ada orang yang berhenti di hadapan Hana. Dia bukan tukang angkot yang selama ini di tuju, tapi dia punya standar yang lebih baik dari tukang angkot. Bisa jadi mobilnya bagus, orang yang ada di dalamnya memiliki kualitas lebih bagus, dan yang paling penting dia ajak Hana buat naik bareng ke tujuan yang sama."
So, speechless. Hatiku bergetar, sedikit mengeluarkan air mata di ujung. Kuhapus dengan jari telunjuk dan jempol secara bersamaan.
Aku merasa ini Allah yang berbicara lewat lisan Abi. Kegagalan itu sempat membuat takut untuk membuka hati dan membuka diri untuk cinta yang baru. Aku tak mudah untuk mencintai. Namun, saat sudah mencintai tidak untuk berpindah ke lain hati.
Itulah alasan, mengapa aku sedikit menutup diri. Aku hanya ingin hati dan cinta ini berlabuh pada orang yang tepat. Beruntungnya ada Mas, Abi, Abang dan sosok lainnya yang Allah kirimkan untuk mengingatkan. Sampai aku percaya kembali, bahwa ada lelaki baik yang layak untuk kuterima.
"Sudah paham, Han?"
Pertanyaan itu memecah lamunanku. Sedikit terkejut. Beberapa detik berlalu, ternyata aku berlarut dalam anganku.
Refleks saja aku menganggukan kepala, pertanda aku paham yang abi ucapkan.
"Abi paham, terlewat tanggal berkali itu sakit. Kayak gimana gitu rasanya. Tapi harus ingat, Allah melakukan hal itu sedang menyiapkan seseorang yang terbaik buat Hana. Abi titip pilih yang soleh ya. Biar dia bisa bimbing Hana. Abi doakan Hana bisa segera bertemu jodoh tahun ini."
"Aamiin Ya Rabb." Aku menutup mata, hingga perlahan bulir air berjatuhan.
Umi yang menyadari hal itu mengusap punggungku. Mencoba menenangkan dengan kata-kata.
"Han, doa di waktu jumat sore itu mustajab. Umi doakan Hana segera bertemu jodoh. Insyaallah, semua akan terkabul di tahun ini."
Rasanya hatiku berkecambuk. Antara senang dan bingung tumbuh menjadi satu. Senang karena di doakan Abi dan Umi. Bingung, karena lidahku seketika kelu. Tak mampu berkata lagi.
Aku percaya Allah Maha Mendengar permintaan hambanya. Tak sedikit pun aku meragu pada-Nya. Semua hanya perlu waktu yang tepat.
Aku pun tahu, bukan karena ikhtiar ataupun doa kita yang hebat. Bisa jadi karena doa dari para gurunda, dan kemurahan juga rahmatnya Allah hingga menghadirkan dia yang menjadi pasangan kita.
Hari yang indah, moment yang hebat. Seolah semesta mendukung niatanku untuk menikah.
Perjalanan menjemput cinta ini terasa lebih indah dan tenang. Sepertinya, esok aku akan lebih banyak tersenyum. Tentu bukan karena jodoh yang terasa semakin dekat getarannya. Semua karena nikmat Allah, yang tidak pernah berhenti hadir dalam hidup kita.
Salah satu nikmatnya adalah Allah kirimkan guru terbaik, saat diri ini carut marut keimanannya.
Menutup hari, dengan sebuah puisi. Mewakili hati yang tengah merindu separuh agama.
_Menemukan Cinta_
Patidusa, pola : 1-2-3-4, 4-3-2-1,
4-3-2-1, 4-3-5-3, 4-6-5-9.
Terdiam.
Bukan sedih.
Semua itu karena.
Aku khusu dalam penantian.
Penantian panjang yang kudamba.
Berakhir di pelaminan.
Bahagia kurasa.
Damai.
Belahan jiwa yang dicari.
Kini hadir dihadapan.
Tanpa ragu.
Menggenggam.
Aku tersenyum menatap dirinya.
Seakan tak percaya.
Bahwa dia sosok selama ini.
Terucap dalam doa.
Wahai Sang pemilik Cinta.
Ridai cinta kami agar terus bersama.
Biarkan kami memiliki cinta abadi.
Cinta di dunia sampai menuju cinta abadi di surga.













