Urung berkomentar
Awalnya saya ingin mengomentari dua tulisan yang saling lempar argumen tentang fungsi dan tujuan LPDP, bahkan saya mengirim candaan lewat pesan singkat pada teman bagaimana andai saya punya program yang telah dijalankan namun saya ingin kuliah ke eropa dengan dasar niat main? Ah sudahlah, komentar saya urung kemukakan toh saat ini saya belum sepenuhnya berniat ingin mengejar s2, sehingga saya takutkan komentar saya tak berpondasi karena pengetahuan saya masih kurang.
Namun ada yang sedikit membuat gatal, yaitu kebiasaan dari masyarakat kita yang doyan saling lempar argumen di dalam media sosial, sehingga satu topik menjadi perbincangan viral yang membuat saya sedikit berfikiran buruk “orang tersebut telah melakukan apa sehingga sangat bebas berkomentar? ah mungkin orang yang tak punya kerjaan”. Terutama di lini masa politik yang sangat membuat kesal, bahkan dalam beberapa kasus viral sampai berakibat adu mulut dan cenderung melempar kata-kata tidak sopan dan berbau kasar.
Saya dulu sempat mengalami, baru sedikit merasa melakukan hal baik (udah mah baru, sedikit, pake perasaan sendiri pula hahhaa) saya suda berani melempar sindiran dan mencaci kepada orang yang sama sekali tak memiliki idealisme. Kemudian seiring wawasan dan kesadaran saya bertambah, akhirnya saya merasa malu sendiri telah berbuat hal konyol, karena difikir-fikir hal yang saya lakukan itu tak seberapa dibanding orang yang telah saya sindir tadi. astagfirullah.
Berdasarkan kesalahan tersebut akhirnya saya berani menyimpulkan sendiri, apakah karena kurangnya wawasan menjadikan banyak orang menjadi berani adu argumen tak mendidik? kemudian saya jawab sendiri, kemungkinan itulah salah satunya namun aspek lainnya belum saya ketahui. Bahkan untuk menulis tulisan ini pun saya sedikit malu sendiri karena secara kognisi, pengetahuan saya masih sangat kurang.
Balik lagi ke topik paling atas, intinya kita sebagai manusia telah diwajibkan belajar dimanapun dengan cara apapun secara tak terbatas waktu. Toh ternyata argumen itu merupakan proyeksi dari tingkat pengetahuan seseorang. So, bisa jadi suatu saat argumen yang hendak urung kemukakan saat ini berubah total seandainya saya tau atau mengalami bagimana rasanya kuliah di luar negeri mulai dari proses, lulus, hingga bergaining apa yang akan saya lakukan untuk negeri tercinta ini. Harus diingat bahwa hidup tak sendirian, butuh menyatukan argumen untuk dapat menjadi besar sehingga kita sadar bahwa sebenarnarnya argumen kita adalah serpihan kecil yang dibutuhkan dari konsep besar dalam membangun Indonesia.
Salam.











