Parkiran UKM barat kampus telah menggelap beberapa saat setelah bubaran shalat magrib di masjid yang baru dibangun di sebrang sana. Ambience suara katak di danau kampus berubah menjadi kebisingan para mahasiswa yang beraktifitas di sekitar parkiran. Corps Padjadjaran menabuh drum dan meniup berbagai terompet sambil berbaris dan bergerak sesuai aba-aba pelatih yang berdiri di depan barisan. Lagu berinstrumen kendang menyusul dimainkan mengiringi empat orang mahasiswi yang berlatih jaipong. Situasi yang selalu membuatku betah berlama-lama di tempat ini. Selalu membawa ke dalam keceriaan saat menjadi mahasiswa dulu. Kali ini aku datang ke tempat ini menyusul permintaan seseorang, yang setauku adalah sahabat perempuan yang pernah ku kejar dulu.
“Kak sebelumnya maaf mengganggu.” Ratri membetulkan posisi kaca matanya sebelum membuang pandangannya ke arah tak tentu.
“Hahaha, tak apa. Hari ini memang ada jadwal lari keliling kampus,”
Aku berusaha tertawa untuk menghilangkan penasaran dengan perempuan di depanku itu. Tentu saja penasaran. Aku hanya tau namanya saat beraktifitas di kampus, tak pernah sekalipun bersapa kecuali dua hari lalu saat bertemu dalam meeting bersama beberapa pengusaha pertanian.
“Ada hal berat yang membuat harus segera bertemu?” tanyaku lagi.
Matanya mengisyaratkan bahwa dia sedang berusaha mengingat sesuatu hal yang buruk.
“Entahlah kak, aku tak tau apa yang akan kuceritakan ini tepat atau tidak.”
Sebenarnya sebelum berangkat untuk menemuinya, aku berusaha membuat dugaan untuk apa dibuat pertemuan ini. Setahuku dia bekerja di usaha perkebunan milik seorang teman seangkatanku yang gagal bekerja sama denganku sekitar empat tahun lalu. Alasan itu membuat asumsi bahwa dia akan memaparkan sesuatu tentang pekerjaan. Namun kufikir jika tentang pekerjaan maka dia salah memilih tempat bertemu yang cukup bising ini. Kemudian matanya yang mulai berlinang mulai merusak segala praduga yang kubuat sejak permintaan bertemu darinya dua hari lalu.
“Aku hanya ingin menceritakan sesuatu tentang sahabat saya.”
Ratri menarik nafas dalam sebelum menatap ke arahku.
“Anna?” tanyaku, tentu saja kusebut nama itu karena nama Ratri sering disebut Anna saat aku mengejar cintanya dulu.
Aku sedikit memicingkan mata, bukan berusaha melihat sesuatu, tapi nama Tari memang tak kukenal di lingkungan kampus.
“Mentari.” lanjutnya.
Kali ini aku berusaha mengingat lebih baik. Mencoba menyelami beberapa ingatan yang sekiranya berhubungan dengan orang di depanku ini, namun nyatanya dengan Ratri pun baru kali ini bertemu dan bertegur sapa sehingga sangat mustahil mengingat orang yang berada di dekatnya dulu.
“Ada fotonya?” harapan setelah aku menyerah mengingat nama Mentari.
Ratri membawa ponsel-nya, tak lama dia menyodorkan sebuah foto, lebih tepatnya pas foto yang dia ambil dari laman social media. Keadaan selanjutnya adalah bahwa saya sama sekali tak mengingat nama Mentari begitupula merasa tak mengenal parasnya.
“Ada foto yang lain?”
Walau aku sudah memastikan tak mengenalnya namun tetap berharap sedikit ada ingatan entah hanya berpapasan di koridor atau sekedar bertegur salam di sebuah rapat kampus.
Ratri menggeser ibu jari pada ponselnya, sekali lagi harus mengakui bahwa dia bukan orang yang pernah kukenal, bahkan aku ragu pernah berpapasan dengannya di satu event kampus.
“Oke maaf nampaknya aku tak mengenali.” belum tau pasti apa yang akan dibicarakan namun aku merasa tak nyaman karena harus bilang tak mengenali temannya itu.
“Semoga aku gak salah tentang ini,” Ratri berlinang air mata. “Kamu mungkin tau dan kenal aku saat banyak tukar cerita dengan Anna, tapi ada cerita lain diluar usahamu mengejar dia kak.”
“Ya, saat kamu gencar mengejar Anna, disisi lain Tari yang juga sahabatku, selalu bercerita tentang perasaanya.” Aku menggeser posisi dudukku mendekati tempat duduk Ratri, penasaran dengan apa yang akan dia ceritakan selanjutnya.
“Tari adalah orang yang punya perasaan terhadap kamu kak, dari sejak kamu mengejar-ngejar Anna hingga seantero kampus tau,” Aku melemparkan senyum. Jika dikaitkan mungkin cerita seperti ini sudah lumrah terjadi di drama sinetron dimana seorang perempuan menyembunyikan perasaanya kepada laki-laki yang jelas sedang mengejar-ngejar teman sekampusnya, dan kali ini diluar dugaan aku mengalaminya.
“Dia hebat dalam menyimpan perasaanya, begitu lama, hingga dia tak ada lagi.”
Tiba-tiba perasaanku tak jelas, antara berusaha mencerna apa yang berusaha disampaikan Ratri atau tak ingin tau apa sebenarnya yang sedang kuhadapi. Fakta yang tadi kukaitkan dengan drama sinetron pada kenyataanya naik tingkat menjadi drama tragis tentang kasih tak sampai hingga terbawa mati. Akhirnya aku menentukan untuk berempati pada orang dihadapanku yang tentunya punya pertimbangan khusus kenapa dia harus berusaha bertemu denganku sekadar untuk menceritakan apa yang terjadi dengan temannya.
“Aku turut berduka,” sebenarnya bukan itu yang ingin kukatakan, tapi perasaan kikuk menuntunku pada ucapan stereotype tentang menyambut berita duka.
“Hmmm coba ceritakan tentang dia.” Ucapku.
“Intinya aku ada rasa menyesal, kenapa aku tak berusaha mencari kamu saat dia jatuh sakit, aku membayangkan jika kulakukan mungkin situasinya tak seperti sekarang, mungkin ada harapan dia agar bersemangat untuk sembuh. Aku menganggap sepele sakit yang dia alami, aku merasa membiarkannya jatuh sakit padahal kondisi saat itu dia begitu denial dengan banyak orang yang berusaha menjenguknya. Dia tak mau bertemu orang asing. Kemudian saat kita tak sengaja bertemu dalam meeting tempo hari, aku merasa tertuntut harus menyampaikan hal ini. Bayangkan saat kamu mengejar Anna, disisi lain ada orang yang begitu hangat menyatakan perasaanya. Saat itu aku menganggap hanya celotehan sepele dari seorang yang mengagumi secara rahasia. Namun aku salah saat tau bahwa celotehan itu selalu dia utarakan hingga dia jatuh sakit hingga kita tak dapat bertemu lagi. Selamanya.”
Situasi ini membuatku sedikit berfikir dan mengingat berbagai hal yang telah kubaca tentang jodoh. Pertama adalah hubungan antara jodoh dan rejeki bahwa seberapa kuat kita berusaha, jika bukan atau belum waktunya berjodoh maka dia tak akan kunjung di tautkan. Sebaliknya, seberapa kuat kita berlari untuk menghindari, maka senantiasa dia akan tetap datang. Prinsip yang sebenarnya diperuntukan untuk kematian. Hal ini menjadi perbincangan bersama teman beberapa pekan lalu setelah mendengar khatib bercerama tentang kematian.
“Dia selalu mengikuti keberadaan kamu, di tiap event yang kamu jalankan dia tak pernah absen terdaftar sebagai panitia dengan divisi yang bersebrangan. Bagaimana dia menjadi sangat kuat tiap kali bertanya bagaimana perasaan Anna yang tak kunjung menerimamu. Dia selalu ikhlas saat kamu tampil di hadapan orang-orang dan ahhh sialnya saat itu beberapa orang juga masuk ke daftar orang yang mengagumimu! Bayangkan bagaimana merasa tersingkirnya dia.”
Kalimat tersebut jelas agak sedikit menggelitik. Kenyataanya secara fisik, aku merasa tak cukup layak untuk diidolai perempuan, satu pun rasanya sulit sekedar meyakinkan orang bahwa aku harus dipilih dan enak dipandang. Rambut gondrong, baju itu-itu aja dengan jeans bolong sebetulnya memudahkan para perempuan untuk bilang tidak dengan keberadaanku.
“Rat…” aku melemparkan senyuman sambil mensejajarkan kepalaku sehingga aku dapat lebih jelas melihat mukanya yang terganggu perasaan bersalah.
“Kapan dia meninggal?”
“Satu tahun lalu.” jawabnya singkat.
“Satu tahun ya, dan kamu merasa bersalah dengan hal ini,” Dia mengangguk ragu.
“Biar kamu merasa lega, aku akan sedikit bercerita.”
Ratri menarik nafas panjang sambil menegakkan badannya.
“Betul katamu, andai satu tahun lalu aku dipertemukan dengannya mungkin cerita temanmu tak akan seperti sekarang. Tapi aku ceritakan sedikit apa yang sedang kualami satu tahun lalu. Kamu pernah mencari di halaman blog ku?”
“Satu tahun lalu, kufikir jika kamu mempertemukanku dengannya satu tahun lalu, maka kamu akan mempertemukan sahabat kamu dengan laki-laki yang sedang kacau. Kamu akan mendatangkan seseorang dengan tanpa tujuan, seseorang yang yang pesimis dengan hidupnya dan tak punya kalender masa depan dalam catatanya. Jika kamu merasa bersalah kali ini, maka kupastikan bahwa itulah cara tuhan untuk menyayanginya.”
Aku membuat penekanan pada kalimat terakhirku, Ratri mengarahkan telinganya ke arahku yang makin menurunkan volume bicara. Raut muka nya berubah total seperti buah dari pasar yang baru saja dicuci menjadi segar kembali. Dia menyeka air matanya yang tak banyak menggunakan ibu jari dan telunjuknya.
“Kufikir memang benar bahwa kematian adalah salah satu cara tuhan menyayangi kita.”
Mendengar ucapanku barusan Ratri kembali menegakan badannya sambil menarik nafas dalam. Mukanya tak begitu kusut seperti pertama berbicara tadi. Tak terasa percakapan telah menenggelamkan kami pada satu jam yang tak berasa. Adzan isya telah berkumandang beberapa menit lalu, dan lagi-lagi hingar bingar kembali berdengung setelah berhenti karena adzan barusan.
Jika dibadingkan dengan cerita luar biasa yang lainnya, mungkin ini adalah cerita dengan akhir yang terdengar kurang menyenangkan. Bahkan kufikir telah tertulis dalam beberapa script film drama romansa yang tak akan membuatku berfikir untuk tidak menontonnya. Namun pada kenyataanya membawaku ke dalam ruang ingatan lagi satu tahun lalu dimana emosi masih menjadi hal besar yang selalu terlibat dalam keseharianku. Tahun lalu memang bukan keadaanku yang terburuk, disana telah terjadi proses turn back setelah setahun lebih ditinggal orang yang paling disayangi. Menurutku cara tuhan itu memang selalu yang terbaik, dia yang kendalikan inti hidup bernama waktu.
“Lega?” tanyaku, sekali lagi Ratri menarik nafas dalam kemudian tersenyum sambil mengangguk cepat.
“Makasih ya kak.” ucapnya.
“Eh coba kamu fikir, kenapa tiba-tiba kita dipertemukan secara tak terduga dalam sebuah meeting? Mungkin ada hal luar biasa yang akan aku atau kamu bawa berdasarkan kasus ini.”
“Hahahaha, iya tadinya tak ingin ikut, tapi bos sedikit memaksa.”