Sesuatu yang pernah terjadi dalam episode kehidupan tidak pernah ada yang sia-sia, entah itu kepingan kejadian masa lalu yang meninggalkan kesan baik maupun buruk. Semuanya menyisakan hikmah yang siap dipetik diwaktu yang berbeda.
Kalau kata teman saya yang berprofesi sebagai psikolog, "belajar menerima yang baik sangat mudah fi, tapi menerima diri kamu utuh kembali setelah beberapa kejadian yang tidak mengenakkan memang tidak bisa hitungan hari, but believe me, one day mungkin kamu akan berterimakasih kepada Allah atas pembelajaran hidup yang kamu lalui".
Beberapa tahun lalu, saat rasanya sedang di fase puncak crisis sebagai anak muda (sekarang juga masih muda :D) pernah berada disituasi betapa sulitnya memaafkan diri sendiri, menyesali keputusan yang diambil, merangkai hari demi hari untuk pulih dari luka. Tidak mudah, walau kelihatannya baik-baik saja. Menutup diri dari segala kemungkinan agar kejadian yang sama tak berulang.
Pembelajaran tentang pentingnya memiliki hati yang lapang benar-benar terasa, keajaiban dan keyakinan atas doa begitu dekat. Waktu berlalu, perlahan Allah mudahkan untuk tumbuh kembali, melanjutkan proses yang pernah patah. Menyerahkan, memohon ampun kepadaNya.
Kumulasi dari rapalan doa kepada-Nya, nyatanya benar terbukti saat ini. Proses yang dibangun tidak dalam sehari membuahkan hasil yang excited.
Saya tidak pernah membayangkan akan selapang ini menghadapi situasinya ketika dipertemukan kembali secara tiba-tiba. Ada rasa shock? Hati berkecamuk? Sudah pasti. Seketika ngobrol pada diri sendiri "Terima kasih ya telah sangat koperatif menghadapinya".
Sebuah pola pikir yang selalu berusaha saya stimulus dalam diri, Allah saja maha pemaaf. Bagaimana bisa saya terus menaikkan ego? Allah selalu menerima siapapun yang yang mendekat dan kembali kepada-Nya. Bagaimana bisa saya tidak menerima proses untuk memaafkan diri dan orang yang terlibat di dalamnya?
Apakah bayangan rasa sakit, luka dan penyesalan itu sirna seutuhnya? Tentu saja tidak! Tapi akumulasi proses itulah yang membuat hari ini saya bisa bertumbuh untuk mengusahakan diri menjadi lebih baik (Aamiin). Menyakinkan dan ngobrol pada diri saya bahwa saya hari ini adalah produk dari pembelajaran baik yang dibawa oleh luka masa lalu. Tanpa kejadian itu, saya tak akan pernah tahu kesalahan saya terletak dimana. Saya pun merasa punya kesempatan untuk kembali, mendekat, dan percaya hanya kepadaNya.
Maha baik Allah yang telah menjadikan setiap luka dan perjuangan sebagai jalan untuk mendekat, menghadirkan pemaknaan yang baik, menyadari bahwa proses menahun yang dibangun salah satu bukti Cinta-Nya.
Pada akhirnya, hadirnya kekuatan diri mengembalikan saya pada konsep utama bahwa Allah adalah sebaik-baik tempat menggantungkan harapan. Teriring doa-doa terbaik semoga Allah mampukan kita untuk terus belajar menerima ketetapan-Nya.
- 14 April 2022/12 Ramadan 1443-