Anak Bukan Proyek Orang Tua
Minta support ternyata jauh lebih rumit daripada memutuskan berjalan sendiri tanpa mengikutsertakan orang lain, walau itu orang tua sendiri. Aku sangat paham bahwa orang tua punya cara berpikir yang lebih jauh ke depan dibanding anak muda yang baru menapaki dunia dewasa. Namun, itu bukan berarti anak boleh dikerdilkan, apalagi jejak masa lalu dijadikan senjata untuk melemahkan jiwa berjuangnya.
Terutama ketika anak disamakan dengan orang lain hanya dari sisi negatifnya. Apakah orang tua benar-benar tahu apa yang dipikirkan anak selama masa perjuangannya? Kebanyakan tidak. Yang terlihat justru kalimat-kalimat yang melemahkan. Seidealnya, anak ditanya dan dipahami lebih dulu: apa yang membuatnya gagal, apa yang membuatnya takut, apa yang sedang ia usahakan. Bukan hanya diingatkan sisi buruknya saja. Bukankah setiap anak punya cara sendiri untuk berubah ke arah yang lebih membanggakan?
Aku percaya, orang tua yang sadar akan pendidikan dan perkembangan anak bisa menjadi teman diskusi terbaik. Bukan sosok yang hanya memerintah, tetapi yang mau mendengarkan gagasan dengan semangat. Jangan seperti pola lama: membungkam diri, menahan gejolak hati, lalu menurunkannya lagi ke anak. Jika anak meminta pendapat, beri dengan bijaksana. Jika tidak meminta, mungkin ia hanya butuh didengar, bukan diarahkan.
Tak perlu takut disanggah. Anak yang dibekali ilmu agama dan nilai baik tidak akan menjadi durhaka hanya karena berbeda pendapat. Masalahnya sering bukan pada anak, tetapi pada orang tua yang enggan mendengarkan isi hati anak-anaknya.
Sering kali orang tua terlalu cepat menjastifikasi, bahkan melabeli anak dengan cap buruk. Padahal anak punya perasaan dan pikirannya sendiri. Saat mereka berani bicara, seharusnya kita bisa menjadi penyeimbang dan teman diskusi yang asyik. Pengalaman orang tua mestinya jadi bahan bakar semangat, bukan palu penghakiman. Bukankah indah jika begitu?
Orang tua dan anak hidup di era yang berbeda. Cara berjuang mereka tidak bisa disamakan. Alangkah bijaksananya jika orang tua memahami semua itu. Ironisnya, kadang orang tua lebih mudah mengerti orang lain daripada anak sendiri. Di titik itu, ada yang terasa janggal. Tak heran jika anak justru merasa lebih nyaman bercerita pada teman atau orang tua temannya. Harusnya ada rasa cemburu yang sehat di hati ibu dan bapak: ada yang perlu dibenahi, meski terasa terlambat.
Sayangnya, banyak orang tua tak menyadari hal ini. Anak tetap dituntut memahami cara berpikir mereka dan memikul cita-cita yang bukan miliknya. Lalu anak tumbuh dewasa dengan caranya sendiri. Ada yang kehilangan arah dan memelihara amarah terus-menerus hingga menurun ke generasi berikutnya. Ada juga yang memilih berubah, membenahi diri, bahkan mendatangi ahli jika diperlukan. Namun, berapa persen yang benar-benar mau memutus pola salah itu?
Jadi, mau memilih yang mana?











