Aku bukanlah orang yang ambisius dalam memiliki mimpi atau harapan.
Yang selama ini aku tahu, adalah menyelesaikan semua yang sudah aku mulai dengan yang terbaik.
Aku tidak memiliki cita-cita yang muluk-muluk.
Ketika masih SD, SMP, dan SMA, aku hanya berharap bisa bertahan di peringkat 3 besar.
Tapi, ternyata aku mendapat peringkat satu paralel di setiap semeseternya.
Ketika teman-temanku berlomba untuk memilih universitas terbaik dengan jurusan paling bergengsi, aku hanya berharap bisa diterima di PTN manapun, yang penting negeri.
Karena aku sadar, bahwa keuangan keluargaku hanya cukup untuk menguliahkanku di kampus negeri.
Saat kuliah, aku memang tidak kekurangan apapun. Tapi, aku juga masih harus sangat berhemat.
Aku harus menabung untuk membeli sesuatu. Aku harus menunggu uang beasiswa ketika ingin membeli laptop, atau hal-hal lainnya.
Tetap saja, aku menjalani masa kuliahku dengan mulus dan lancar.
Ketika lulus, aku sedikit kesulitan mendapat pekerjaan karena lapangan pekerjaan untuk jurusanku memang sedikit sulit.
Lalu, ada peluang dimana aku bisa menjadi aparatur negara.
Aku dan teman-temanku yang lebih dahulu lulus bersama-sama mencoba.
Kami bersaing dengan adil dan saling mendukung.
Ketika pengumuman, ternyata hanya aku yang lulus.
Sekali lagi, hidup terasa lebih mudah dan mulus bagiku.
Berkata bahwa jalan yang aku lalui selalu diberkati dan dipermudah.
Aku juga merasakan hal yang sama.
Dengan pekerjaan baruku, aku mulai sedikit demi sedikit meraih apa yang dulu selalu aku impikan.
Membeli apapun tanpa harus berpikir apakah uangnya lebih baik digunakan untuk keperluan lain.
Aku juga menjalani hobi-hobi yang dulu hanya bisa aku bayangkan.
Takdir memang selucu itu.
Ketika aku merasa bahwa hidupku mulus dan baik-baik saja, babak baru hidupku ternyata baru dimulai.
Sebuah penyakit yang merubah semua pola pikir dan cara pandangku terhadap orang lain dan dunia.
Aku menjadi pesimis dan rendah diri.
Tidak ada lagi diriku yang dulu penuh semangat mempelajari hal-hal baru.
Hidupku mulai stagnan. Bukan jalan di tempat, tapi berjalan mundur.
Aku berada di titik dimana aku takut untuk mengenali diriku sendiri.
Aku takut membiarkan orang lain mengenaliku.
Dan tanpa aku sadari, aku mulai memakai topeng untuk menyembunyikan semua ketakutan dan kekosongan hatiku.
Aku mulai kehilangan arah.
Aku mulai kehilangan cahaya.
Tidak tahu harus berjalan kemana.
Tidak tahu harus memulai darimana.