Menembus Kabut Selepas Mengaksara
“Keramaian Jalan Kaliurang terlewati,
menyusuri ruas jalanan minim cahaya lampu,
menuju berakhirnya hari.”
Begitulah gambaran perjalanan pulang malam ini. Pertama kali di tahun ini, pukul 22.00 masih di sekitaran kampus bukan untuk kegiatan perkuliahan atau organisasi, tetapi berkumpul bersama orang-orang baru, lingkaran baru yang tentu saja memberikan suasana baru setelah beberapa hari ini merasakan kebosanan dan kekosongan hidup. Mungkin hanya sudut pandang pribadi, ketika diri ini mahasiswa yang baru lulus tidak memiliki pekerjaan, belum memiliki gambaran seperti apa ke depan, kemudian merasa betapa kosongnya hidup. Hidup tanpa melakukan sesuatu yang ‘menghasilkan’, dan hanya terasa membuang-buang waktu. Hingga pada akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti sesuatu yang secara tidak sengaja saya ketahui ketika mencoba menengok akun Instagram ‘Kopi Aksara’.
Ya. Saya bukan followers akun tersebut, namun sedikit tahu Kopi Aksara dari seorang teman yang beberapa kali kesana, dan kebetulan memang lokasi masih di seputaran kampus. Secara kebetulan, teman saya mengajak ngopi karena memang saya terlalu gabut berdiam diri di rumah dan teman saya ini membutuhkan ruang untuk mengerjakan tugas akhir. Ajakan ngopi pun saya iya-kan, kemudian saya iseng melihat akun Instagram kedai ini untuk melihat bagaimana tempat dan suasannya. Ternyata niat sekedar ngopi di Kopi Aksara-pun dikesampingkan ketika melihat pamflet agenda Mini Workshop tentang kepenulisan yang secara ajaib dilangsungkan di hari berikutnya dan masih terdapat sisa kursi untuk mengikuti Workshop tersebut. Yaaa.. kalau memang sudah rezeki dan takdir tidak akan kemana. Kami pun mendaftar namun ternyata hanya saya yang diberi kesempatan mengikuti diskusi tersebut. Teman saya tidak keberatan dan tetap menemani saya ke Kopi Aksara meski dengan tujuan yang berbeda.
Kopi Aksara, dari namanya pun terlihat sangat identik dengan kepenulisan dan literasi. Ketika memasuki kedai ini akan terlihat rak-rak ukuran kecil namun diisi berbagai koleksi buku yang cukup untuk memuaskan dahaga membaca, dengan beberapa hiasan dinding bertuliskan kutipan-kutipan tentang menulis. Tentu saja kopi ini sangat mengaksara, sesuai dengan namanya, dan sangat sesuai bagi arena Workshop kali ini.
Workshop dimulai pukul 19.30 WIB, lebih 30 menit dari jadwal karena pukul 19.00 beberapa peserta masih belum terlihat mungkin karena kendala cuaca. Akhirnya Workshop pun dimulai ketika lebih dari 50% peserta sudah hadir. Kesan pertama? Agak canggung. Masing-masing sibuk dengan gadget masing-masing, takut memecah kesunyian. Namun sedikit cair ketika diskusi dimulai. Pun menurut saya, ketika diskusi berjalan memang beberapa berani mengungkapkan pendapat, berbagi pengalaman, namun terlihat beberapa diam mendengarkan, sibuk dengan isi kepala masing-masing, bergejolak dengan pikiran masing-masing, namun tidak berani mengungkapkan gejolak itu. Salah satunya adalah saya. ‘Penyakit’, memang. Sesuatu yang sudah lama ingin saya tinggalkan namun tetap saja bersarang. Masih saja tidak memiliki keberanian untuk bertanya atau mengungkapkan pendapat. Saya selalu iri dengan orang-orang yang mampu menyampaikan apa isi pikirannya secara berani, menyampaikan isi kepala dengan baik sesuai dengan apa yang dipikirkan. Saya sendiri takut, takut jika apa yang saya tuturkan tidak bermutu, salah, dan berbagai pikiran toxic lainnya. Saya selalu berpikir apakah orang yang memiliki public speaking yang baik memang berbakat akan hal tersebut atau juga didukung dengan lingkungan.
Terlepas dari itu semua, saya cukup senang dengan apa yang saya lakukan hari ini. Sedikit keluar dari zona aman, bertemu orang-orang baru dengan segala karakter yang berbeda, menuai pengetahuan dan pengalaman baru. Banyak hal yang harus saya lakukan. Menulis, menulis, menulis. Membaca, membaca, membaca. Berlatih, berlatih, dan berlatih.
Berakhir di pukul 12.02 AM, September 28, 2017.