Selalu ada sesuatu yang datang di hidupmu hanya untuk memberimu pembelajaran.
Pembelajaran untuk menyadari bahwa seringkali kita salah dalam mengambil tindakan saat menghadapi sesuatu..
Kesalahan yang disebabkan oleh kita yang terlalu sibuk mencari arti / makna akan munculnya sesuatu hal di dalam hidup kita.
Padahal munculnya sesuatu di dalam hidup tidak selalu memiliki arti..
Seperti prinsip pendekatan Psikologi Perilaku (Behavioristik) yang menyebutkan bahwa stimulus pada mulanya selalu bersifat netral..
yang artinya stimulus pada dasarnya tidak memiliki sifat atau 'makna' bawaan.
Arti / makna itu tidak penting bagi sebuah stimulus..
Kebanyakan orang malah terlalu fokus untuk mencari tahu arti dari munculnya sesuatu.
Sia-sia sekali orang yang terlalu sibuk mencari tahu arti dari sebuah stimulus.
Orang-orang yang terlalu sibuk mencari arti dari sebuah stimulus, contohnya adalah orang yang selalu bertanya:
'Mengapa ini muncul?', 'Mengapa ini terjadi?', 'Apa maksud dari ini?' dan lain sebagainya.
Alih-alih menganggap sebuah stimulus netral, orang ini malah sibuk bertanya-tanya yang pada akhirnya perasaannya sendiri masuk ke dalamnya..
kemudian menentukan pengambilan keputusan atau respon yang diambil dalam menyikapi munculnya stimulus tersebut..
Karena stimulus bersifat netral, maka yang dapat dimodifikasi adalah respon dari munculnya sebuah stimulus.
Stimulus yang bersifat netral tidak pernah menjadi penyebab kesalahan, tidak pernah membuat suatu kekacauan..
Yang biasanya kurang tepat adalah pemilihan respon yang diambil seseorang dalam menyikapi sebuah stimulus.
Mengapa bisa dikatakan kurang tepat?
Karena respon itu memberikanmu banyak pilihan, multiple choices, bisa jadi sangat beragam opsinya..
dimana setiap dari masing-masing pilihan memiliki konsekuensinya sendiri.
Konsekuensi dari respon yang diambil itulah yang pada akhirnya menentukan apakah respon tersebut tepat atau tidak dalam menyikapi sebuah stimulus.
Seperti dikatakan sebelumnya bahwa penyebab seseorang memberikan respon yang kurang tepat adalah karena orang tersebut sibuk berfokus mencari tahu apa arti dari sebuah stimulus yang muncul.
Mereka salah menilai stimulus itu sendiri.
Mereka tidak paham bahwa stimulus itu bersifat netral, tidak ada yang salah dengan kehadiran sebuah stimulus.
Ketika memberi arti pada sebuah stimulus, sebenarnya mereka telah memberikan respon terhadap stimulus itu sendiri..
yang didasarkan pada perasaan dan pemikiran mereka.
Mengapa memberi arti terhadap stimulus menjadi sebuah respon?
Merujuk pada pernyataan di awal yang menyebutkan bahwa stimulus bersifat netral, yang artinya stimulus itu sendiri tidak memiliki sifat / 'makna' bawaan..
Maka pemberian arti terhadap stimulus menjadi suatu respon terhadap munculnya stimulus tersebut.
Respon tersebut kemudian berdampak pada respon-respon lain setelahnya.
Dan juga konsekuensi yang pasti menyertai setiap respon.
Manusiawi memang saat muncul stimulus yang tidak terduga kemudian kita bertanya-tanya apa arti dari munculnya stimulus ini..
karena munculnya banyak pertanyaan di otak kita seringkali menjadi reaksi yang otomatis.
Hal itu mungkin dipengaruhi pula oleh kita yang sebelumnya tidak pernah dilatih untuk mengendalikan perasaan atau pemikiran yang muncul..
tidak dilatih untuk bersikap objektif dengan diri sendiri.
Sehingga pada akhirnya kita tidak terbiasa dengan menyikapi secara netral segala sesuatu.
Kita terbiasa melekatkan segala sesuatu dengan 'makna', padahal 'makna' itu sangat bersifat subjektif.
Tidak ada keseragaman di dalam 'makna'.
Untuk itu, meyakini bahwa stimulus bersifat netral menjadi sesuatu yang penting.
Dengan demikian kita dapat memberi jarak terhadap segala penilaian yang dilakukan oleh diri terhadap stimulus itu sendiri.
Dan pemilihan respon yang lebih tepat menjadi dapat dilakukan..
karena respon tersebut berdasarkan pertimbangan objektif dari sesuatu yang bersifat netral.
Sesuatu yang netral memang harus disikapi dengan objektif.
Ya, kebanyakan permasalahan mengenai pengambilan keputusan yang kurang efektif adalah karena kurangnya pemahaman mengenai hakikat sebenarnya sebuah stimulus.
Bahwa setiap stimulus yang muncul hakikatnya bersifat netral.