Begitu kau berucap tentang rintik hujan yang membenturi kaca jendela.
Pada detik itu aku hanya mendenguskan geli. Personifikasi yang lucu, batinku. Serdadu hujan. Seolah-olah mereka turun dari langit berbondong-bondong hendak berperang dengan bumi.
Kita berdua tengah berteduh di sebuah kafe karena hujan deras yang turun sebelum kita selesai mencari kado ulang tahun ibuku di bazaar terbuka itu. Oh, kau tidak perlu tahu seberapa kerasnya tawa Aldrich waktu aku memberitahunya tentang ideku. Mengajak seorang gadis mencari hadiah untuk keluarga itu alibi yang kuno katanya. Ketinggalan zaman. Kau lahir tahun berapa? Sembilan puluh?
Tapi bagiku yang terpenting kau tidak menolak. Kau tidak tertawa seolah aku hanya seorang pemuda kaku yang tidak tahu bagaimana cara bersikap di depan seorang gadis yang ia suka. Kau justru nampak bersemangat memilih-milih dan menawarkan ini itu.
“Nanti cokelatmu dingin, Ayden.”
Kau mengintip dari balik cangkir cokelatmu yang masih mengepulkan asap tipis. Matamu nampak menyorotkan geli. Barangkali aku terlalu lama melamun memperhatikan kisi jendela.
“Kau ada acara lain setelah ini?”
Kau menaikkan alis, agak ragu, namun kemudian senyum meretas dan kepalamu menggeleng.
“Bagaimana kalau kita menonton film? Ada film baru diangkat dari buku yang pernah kubaca.”
Binar mata hijaumu sedikit melebar—seolah tidak menyangka aku punya cukup nyali mengucapkan itu. Bukan kau seorang. Aku pun kaget.
Namun kau segera mengedik bahu ringan, “Kenapa tidak?”
Aku tidak bisa menahan sudut bibirku untuk tidak menarik senyum tinggi.
Ketika pada akhirnya kita kembali di depan apartemenmu, bulan hanya menampakkan pendar cahayanya di balik sobekan awan hitam. Untuk beberapa saat kita sama-sama diam, sama-sama khawatir memecah kesunyian berbarengan dan berakibat canggung.
Kau mengangguk dan tersenyum. “Semoga ibumu suka.”
Aku balas mengangguk sementara di dalam sini aku berusaha mengusir bayangan akan Ayden Renoir yang tidak pengecut dari kepalaku. Bagaimana aku melangkah dengan begitu enteng, menghapus jarak dan menyentuh dagumu, lalu menunduk mencium bibirmu.
Kepalan tangan dalam saku mantelku mengerat.
Kau mendaki tiga anak tangga menuju pintu dan tersenyum lagi sebelum menghilang ke balik pintu.
Alih-alih beranjak pergi, aku diam memejam mata dan mendongakkan kepala. Membiarkan rintik-rintik hujan yang baru tercurah dari langit membasahi wajahku. Hujan, entah bagaimana bisa terasa begitu terapeutik kadang-kadang. Seolah mereka dapat menenangkan pergumulan apa pun yang sedang terjadi di benakmu. Membasuh harapan-harapan kelewat tinggi yang kau pendam. Menyadarkanmu bahwa seorang gadis yang tersenyum manis padamu tidak lantas berarti dia juga menyukaimu.
Serdadu hujan—frasa itu kembali, sebab mendadak aku bisa berempati dengannya.
Aku mungkin tak lebih dari setetes serdadu hujan bagimu. Yang eksistensinya begitu singkat. Yang dengan sia-sia mengetuk kaca jendela kamarmu untuk menarik perhatian tapi tak pernah kau gubris. Yang pada akhirnya lebur dan pecah, lalu meleleh jatuh ke tanah. Tak lagi berarti apa-apa. Tak meninggalkan jejak apa pun ketika jendela dan tanah mengering.
Hidupmu terbentang begitu luas, apalah artinya seorang pemuda kikuk yang irit bicara?
Aku membuka mata ketika pintu apartemenmu menjeblak terbuka. Kau nampak agak panik, tapi lega melihatku masih di sini; sekalipun aku memperhatikan ada kernyitan tipis yang mewujud di antara alis. Sudah lamakah aku berdiri di sini? Aku mengenali kantong kertas di tanganmu sebagai bungkus kado syal untuk ibuku. Ah, benar, aku lupa memintanya darimu.
Masih mengenakan pakaian tadi, kau menuruni anak tangga dengan cepat dan tiba di hadapanku sejurus kemudian.
Tubuhku nyaris tidak mengantisipasi ini, kau tahu. Aku bisa merasakan mereka tersentak kaget. Tidak mengira bisa begini dekat lagi. Begini terjangkau. Begini dapat dimiliki.
Namun sekarang mereka meremang dan bergetar.
Aku merangkum wajahmu dalam kedua tanganku yang dingin dan menciummu. Aku menciummmu di bawah rinai hujan tipis yang seakan membelai. Aku mengabaikan keterkejutanmu dan menciummu sampai tubuh defensifmu melemahkan pertahanannya. Aku menciummu hingga kedua tanganmu menjatuhkan kantong kertas dan tergantung lemas di samping tubuhmu. Aku menciummu seolah aku sudah ingin melakukannya sejak dua tahun yang lalu, sejak aku mengantar kepulanganmu di Chatoeil.
serdadu hujan prompt ©peridoteyes || Irene Porust ©peridoteyes