EP-2 #24yoofUna : Ucapan Selamat Ulang Tahun Terbaik
Sebenarnya momen ulang tahun bukan hal yang istimewa bagiku. Hal ini karena aku merasa ulang tahun bukan hal yang terlalu menarik. Momen ini justru membuatku kalut dan gugup karena ini berarti aku semakin menua dan sisa umurnya semakin berkurang. Hal ini mungkin baru aku rasakan dan sadari saat ulang tahun ke-19. Tidak ada perayaan besar, tidak ada kejutan, tidak ada kado, dan hal semacamnya. Aku masih ingat ketika ulang tahun ke-21 aku terpaku di meja belajar menyelesaikan tugas kuliah Metodologi Penelitian di kamar kosan bersama dua orang teman. Tiba-tiba dua teman SMA datang membawakan kejutan berupa kue ulang tahun dan balon, sayangnya aku tidak bereaksi yang seharusnya, sehingga mereka bilang, “Ah, ga asik.”. Aku cukup sedih dengan reaksiku sendiri mengingat aku sebenarnya orang yang cukup ekspresif. Tapi saat itu pikiran dan tenagaku sudah cukup terkuras karena tekanan tugas sehingga aku tidak cukup bagus bereaksi menerima kejutan dari mereka. Maaf ya, Yal, Ocha! Thanks a lot for spending your busy time for preparing my birthday surprise. I’d definitely appreciate your sincerity!
Tepat tanggal 13 Desember 2019 aku menginjak usia ke-24 tahun. Ucapan pertama justru datang dari teman semasa SMA yang tidak aku duga. She’s had birthday on same month as me, so i assume that she’s just remember it. No special case. Pukul 05.00 telepon datang dari Ibuk. Tidak kuangkat, hanya karena malas. Aku baru saja memejamkan mata pukul 03.00. Aku tahu beliau mungkin akan mengucapkan selamat, tapi dengan berpura-pura aku mengetik pesan ke beliau pukul 09.00 menanyakan perihal apa menelponku. Tidak diangkat. Well, as a daughter-mother relationship, i can’t deny that we are not as sweet as others. Pukul 09.30 Ibuk kembali menelponku. Benar saja, Ibuk mengucapkan ucapan selamat dengan gaya biasa-dan-terkesan-tidak-tulus nya hahaha.
Sebagai anak bungsu, aku menyadari bahwa memang sejak kecil aku tidak sepintar anak-anak beliau yang lain. Aku adalah anak dengan biaya pengeluaran terbanyak baik untuk kesenangan pribadi maupun kepentingan sekolah. Bisa dipastikan biaya sekolahku adalah yang terbesar, apalagi masa studi sarjanaku yang paling tidak tepat waktu diantara anak-anak Ibuk dan Bapak yang lain. Lalu apa hubungannya dengan ucapan selamat dari Ibuk?
As you all know, umumnya usia para wisudawan berkisar antara 22 hingga 23 tahun. Saat ini usiaku sudah menginjak 24 tahun dan aku masih berkutat dengan tugas akhirku. Jika aku adalah anak dari orang tua lain, mereka setidaknya akan mengucapkan do’a agar aku segera menyelesaikan kuliahku. Tapi tidak dengan Ibuk, beliau berbeda.
Ada dua kemungkinan kenapa beliau tidak banyak menyinggung masalah masa studi sarjanaku.
Ibuk tidak pernah mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi karena beliau harus merelakan usia belianya untuk menikah dan menjadi ibu rumah tangga penuh. Ibuk tidak tahu bagaimana sistem perkuliahan, berapa nilai IPK yang dianggap baik,dan berapa lama masa studi sarjana yang seharusnya. Cukup mengherankan ya, mengingat semua anak-anak Ibuk yang lain pun kuliah tepat waktu. Mungkin Ibuk bukan orang yang terlalu ambil pusing apalagi di usia beliau yang sudah berkepala 6.
Ibuk tahu kemampuan dan kapasitasku. Ibuk tahu kalau anak bungsunya tidak terlalu baik di bidang akademis, tidak cukup pandai dibanding anak-anak seusianya, dan tidak cukup lihai mengatasi masalahnya sendiri.
Sejauh ini dua kemungkinan itulah yang mendasari keyakinanku mengapa Ibuk tidak banyak berkomentar mengenai keterlambatan masa studi sarjanaku selama ini.
Lantas, ucapan selamat apa yang beliau sampaikan?
“Selamat ulang tahun, ya. Yang rajin sholatnya.. Jangan lupa ngaji setiap hari.”
Dari sekian banyak target dan impian yang belum terwujud, do’a ini yang terucap sama beliau. Rasanya kayak aku minta beberapa es krim di indomaret tapi Ibuk ngasih aku satu pabrik es krim yang paling gede sedunia. Rasanya ngga kebayang... Sama sekali bukan hal yang diduga.
Ucapan ini sebenarnya tidak asing karena tiap Ibuk menelepon pun, pasti ada sepenggal kalimat itu yang di ucapkan, entah di tengah atau akhir percakapan. Satu hal yang meyakiniku mengapa Ibu memilih ucapan tersebut (selain karena beliau juga tidak pintar merangkai kata) adalah Ibuk lebih suka anaknya tumbuh sebagai manusia yang taat kepada Tuhan, melebihi apapun. Ibuk tahu kalau manusia yang taat dan beradab akan jauh lebih berbahagia di kehidupan selanjutnya. Ibuk pun mencoba berinvestasi karena lewat do’a dari anak-anaknya, Ibuk bisa mendapatkan tunjangan tak terhingga di kehidupan yang kekal. Ibuk peduli terhadap kehidupan dan kebutuhan duniaku, tapi Ibuk berdedikasi menjadikanku anak yang taat dan bermoral untuk kehidupan kekalku yang lebih baik.
Aku baru kenal Ibuk selama 24 tahun ini, jauh dibandingkan anak-anak beliau yang lain. Ibuk bukan sosok wanita hebat dan istimewa. Ibuk bukan wanita berpendidikan tinggi seperti ibu pada umumnya, Ibuk bukan wanita super cantik seperti ibu-ibu sosialita, Ibuk juga bukan tipe ibu yang manis dan penyayang ke anak-anaknya seperti ibu-ibu yang lain. Beliau hanya ibu rumah tangga penuh yang sama sekali tidak ada penghasilan mandiri. Beliau melakukan tugasnya sebagai istri dan ibu dengan gayanya sendiri. Aku tidak akan bilang bahwa Ibuk adalah Ibu terbaik di dunia ini. Aku hanya akan bilang bahwa Ibuk adalah ibu yang hebat dan istimewa bagi anak-anaknya sendiri, bukan terhadap orang lain.
Terima kasih atas ucapan dan do’anya ya, Buk.