Beratnya Al-Ma'un
Materi penutupan Madrasah Sirah Nabawiyah Ust. Asep Sobari hafidzahullah.
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka, binasalah orang-orang yang shalat, yaitu orang yang lalai dari shalatnya; orang-orang yang riya’ dan enggan memberikan al-ma'un.” (QS al-Maun: 1-7)
Surah ini menceritakan tentang karakteristik orang-orang yang mendustakan agama yakni:
Menghardik (mengeksploitasi) anak yatim >> menindas orang yang tidak punya 'back up' atau orang yang lemah
Tidak memberi makan orang miskin
Ayat 2 & 3 menekankan kepedulian terhadap orang yang lemah dan tidak bisa memenuhi kebutuhan dasarnya (rasa aman, sandang, pangan).
Yang mengingkari risalah (lalai dalam shalat | yang tidak shalat sudah pasti termasuk pendusta agama). Shalat dalam Al Qur'an itu dibarengi dengan kata "wa aqiimu" (dirikanlah). Artinya bukan hanya sekedar shalat secara fiqih, namun juga sepaket dengan value-nya >> sehingga shalat dapat menjauhinya dari segala kemunkaran.
yang berbuat riya'
yang enggan (tahu tapi sengaja tidak mau) memberi bantuan.
Kalau kita telisik lagi, isi dari surah ini sejalan dengan tujuan pendidikan menurut Prof. Majid `Irsan al-Kilani. “Dua tujuan besar pendidikan Islam adalah merealisasikan ketahanan hidup manusia (baqaan-nau al-basyari) dan peningkatan kualitas hidup manusia (ruqiy an-naualbasyari) sehingga manusia dapat menjalankan penghambaan diri yang susungguhnya kepada Allah SWT (ibadatullah).”
Mewujudkan ketahanan hidup manusia adalah memastikan terpenuhinya kebutuhan dasar semua umat manusia. Kalau menurut Maslow yang paling bawah itu adalah memastikan tidak ada satupun manusia yang kelaparan, kehausan, kedinginan, kepanasan, kesakitan, atau terluka >> dan saat ada yang enggan berkontribusi/membantu saudaranya yang kesusahan dalam basic need, maka ia belum mengamalkan al ma'un, walau ia muslim yang taat.
Peningkatan kualitas hidup manusia hanya dapat terjadi jika basic need terpenuhi. Hingga manusia bisa melakukan penghambaan terbaik dirinya pada Allah swt.
Kalau kita tadabbur sirah nabawiyah, hal ini sudah Rasulullah saw praktekkan saat beliau dan para muslim Mekkah hijrah ke Madinah. Dari Abdullah bin Salam ra, ucapan pertama Rasulullah Saw yang aku dengar adalah: “Wahai segenap manusia, sebarkanlah salam, berilah makan, jagalah hubungan baik dengan keluarga (silaturrahim), dan shalatlah di malam hari saat manusia terlelap tidur, maka kalian akan masuk surga dengan damai.” (HR. Tirmidzi, Ibn Majah, Ibn Hibban & al-Baghawi)
Rasulullah saw mempersaudarakan muhajirin dan anshar, anjuran silaturahim, dan menggerakkan wakaf.
Silaturahim itu bukan hanya berkunjung. Zaman Nabi, yang dimaksud silaturahim adalah terkait ekonomi. Memberikan uang kepada saudara yang kekurangan/kesulitan, bahkan bermilyar-milyar dan itu bukan pinjaman. Tidaklah mengapa jika ada agenda kumpul keluarga tahunan, kita memberikan rezeki kepada sanak saudara kita. Karena itulah silaturahim..
Tolong-menolong saudara semuslim zaman itu juga didorong dari sikap zuhud para sahabat.















