Nalorbo Modnar #2 : kamu mau dianggap sebagai apa?
Seminggu yang lalu, waktu ngerjain sketch buat mural salah satu event malming di salah satu cafe di Bandung, teman saya tiba-tiba bertanya, “mas, sebenernya kamu pingin dikenal sebagai artist yang kayak gimana sih? I mean, pingin dikenal dengan ciri khas yang kayak gimana?”.
Hmm, pertanyaan itu lagi. Mirip pertanyaan sama yang sering banget mampir di pikiran saya, “kamu mau dianggap atau dikenal sebagai apa?”.
Sebagai apa?
Oke, kalau ditanya sebagai apa, jujur saya baru tahu 2 tahun ke belakang ini. Lah sebelum itu ngapain aja? Ya sama kayak kalian lah, sok-sok’an pingin jadi ini itu tapi akhirnya selang bentar aja udah bosen terus nyobain hal lain. Ya kan? Udah, ngaku aja kalo beberapa dari kalian juga ngalamin kayak gitu. Wajar kok, wajaaar :P. Tapi buat saya, keinginan buat jadi seorang graphic designer emang mulai muncul sejak kelas 2 SMA gegara ngeliat kakak temen saya waktu itu yang kuliah desain dan bikin animasi yang keren. Sesimpel itu. Ehehe.
Skip skip. Semakin kesini saya juga semakin ngerti gitu kalo ternyata profesi graphic designer itu luas banget. Apalagi yang berhubungan tentang art dan visual. Sewaktu jama SMA dulu saya kira graphic designer cuma sebatas bikin poster, tipografi, banner, ehehehe. Tapi ternyata lebih dari itu. Apalagi setelah lulus kuliah jurusan animasi, rencana saya malah bertambah. Bukan hanya sebagai graphic designer secara umum, lebih khusus lagi sebagai illustrator atau storyboard artist. *Ini jawaban saya waktu sidang TA sih pas ditanya setelah lulus mau jadi apa. Biar kelihatan punya rencana. halah.* Tapi saya sadar dengan kemampuan saya menggambar karakter yang pas-pasan, saya gak mungkin bisa maksimal sebagai illustrator yang pure bikin ilustrasi karakter yang wah maupun storyboard artist yang bisa bikin angle epic per scene. Gak bisa kayak gitu. So, saya mengerucutkan lagi rencana saya menjadi seorang illustrator motion graphic/infografis dengan style flat design. Ini saya lakukan sewaktu saya kerja sebagai illustrator di Breadnbeyond, Surabaya.
Waktu berjalan, pertemanan semakin luas, wawasan bertambah, cinta juga naik turun, akhirnya saya ketemu sama yang namanya Hand lettering dan calligraphy. And it’s like, wow! Saya merasa menemukan apa yang selama ini saya cari *untuk saat ini*. Jujur, baru hal ini yang bisa konsisten saya tekuni selama 2 tahun ke belakang. Memang sih dari dulu saya selalu tertarik dengan dunia perhurufan. Tapi sempat vakum karena berbagai timbul tenggelam yang tadi itu dan karena masih labil juga kan. Ehehe. Tapi kalo tentang Hand lettering dan calligraphy, mungkin ini yang saya sebut sebagai passion.
Mengutip caption teman saya (abimatha / instagram.com/alfonsusabim), Passion menurut saya bukan hanya mengikuti apa yang kamu sukai. Passion itu tentang waktu. Passion itu tentang proses. Kalo kata Cak Nun, banyak orang salah mengartikan, dan menganggap passion itu sama dengan hobi. Pada kenyataananya passion itu tentang mengerjakan apa yang kamu hadapi, meski awalnya kamu tidak menyukainya, tetapi kamu mengerjakannya terus menerus dan berguna bagi orang lain, sehingga yang kamu kerjakan itu menjadi kesukaanmu, itu jadi passion. Kalo passionmu suka gambar, kamu juga harus banyak berlatih dan jangan berhenti berkarya. Intinya passion itu adalah seberapa banyak waktu dan proses yang kita jalani terhadap suatu hal.
Nah! Sekarang, ketika ditanya “kamu mau dikenal sebagai apa”, saya berani menjawab bahwa saya ingin dikenal sebagai “hand lettering artist”, itu jawaban saya.
Monggo klik disini kalo mau ngeliat karya-karya saya di instagram @dimazfakhr. Promosi bentar ya, ini penting soalnya :P
Tapi, masalah gak berhenti sampai sini ternyata. Setelah satu pertanyaan terjawab, muncul pertanyaan yang seperti di awal tadi saya tuliskan. Karena setiap kita terlahir berbeda dan memiliki ciri khasnya masing-masing. Lalu, ciri khas saya sebagai lettering artist apa? Atau style saya apa? Hmm, nggarai mikir maneh kan. Sebenernya saya males kalo ditanyain hal kayak gini. Karena jujur, saya bukan termasuk mereka-mereka yang pure artist, yang udah nemu stylenya masing-masing. Saya belum seperti Decks dengan raw type-nya, Ilham Herry dengan vintage-nya, Bhima Bagaskara dengan calligraffiti-nya, Alfonsusabim dengan ornamental vintage-nya, Tazkial dan Regalisapertura dengan chalk art-nya, Dekedex dengan tiny masterpiece-ya, Hendry Juanda dengan hand letteringnya, atau Alib Isa dengan ilustrasi + lettering khasnya. Saya belum seperti mereka.
Kalau boleh saya mengidentifikasi style saya sih, saya lebih suka melabeli diri saya applicable style. Ngawur! Hahaha. Entah benar atau tidak ya, tapi kalo dilihat-lihat dari feed instagram saya sih emang kayak gitu. Gak pernah konsisten dengan style tertentu. Brush script, saya ngulik. Hand lettering dengan bergaya vintage maupun ilustrasi, saya juga ngulik. Chak art atau mural, kadang juga suka bikin kalo ada yang minta. Kan, saya juga suka bingung soalnya kalo ditanya soal style. Berasa semacam masih sebagai artist palugada (apapun lu mau gua ada). Ehehhe.
Tapi ada satu poin penting yang ingin saya bagikan tentang karya saya. Seperti yang pernah saya bilang ke beberapa teman saya, bahwa yang saya tonjolkan dalam setiap karya saya bukan hanya tentang visualnya seperti apa, namun juga cerita di belakang karya tersebut seperti apa. Karena menurut saya cara penyampaian visual melalui media huruf, teks, dan tulisan adalah cara yang paling natural. That’s why saya selalu membuat caption yang panjang untuk setiap karya yang saya buat. Jadi anggepannya sih di dalam satu karya, saya sekaligus mengerjakan 2 hal yang menjadi kesenangan saya. Yaitu lettering/calligraphy, as an artist dan bercerita, yang saya wujudkan dalam bentuk tulisan, as a writer.
Itu sih jawaban saya sekarang ini kalo ditanya tentang ‘style mu seperti apa’. Tapi kalo ditanya ‘kamu mau dianggap seperti apa’, jawaban saya ‘as a lettering artist yang selalu menyisipkan cerita di dalam setiap karyanya’. Waksi kan? hahaha. Tapi enggak lah, mau dianggap seperti apa itu terserah kalian semua menganggap saya seperti apa. Yang penting setiap karya yang saya buat bisa dinikmati dan diapresiasi itu sudah sangat menyenangkan buat saya. Beneran. Ah, gitulah pokoknya.
See ya on another nalorbo modnar! Enakin!











