Kamu tahu apa yang membuat aku jenuh dengan hidup di kota? Orang-orangnya yang nampak sama. Tapi ini adalah pemandangan biasa dan aku nggak terkejut lagi. Melihat perempuan-perempuan urban muda sebayaku atau yang lebih muda, dengan tas desainer mereka dan rambut mereka yang panjang yang terurai. Aku membayangkan apa jadinya kalau aku seperti mereka--punya tubuh ramping dan penampilan yang umum yang enak dilihat. Enak rasanya pakai celana pendek di hari yang panas kalo punya tungkai kaki yang mulus dan panjang seperti mereka.
Sementara aku, mudah sekali merasa jijik dengan siluet badanku yang terpantul dari kaca etalase yang gelap. Aku memang tidak punya ukuran tubuh yang ideal--tinggi badan 155 cm, berat badan 67kg. Syukur-syukur kalo kepala timbangan masih berkisar di angka 6. Kadang kalo sedang khilaf, berat badanku bisa mencapai 70kg. Setara dengan berat badan ideal laki-laki.
Well, I know, kata Maya Angelou, kalau Anda tidak suka dengan apa yang Anda lihat, berubahlah. Tapi kalau tidak ada yang bisa Anda rubah, maka rubah perspektif Anda. Maka, aku coba merubah perspektif di dalam diriku. Setidaknya aku sedang mencoba.
Kadang seketat apa aku mencoba untuk diet, aku tidak bisa merubah sifat alami tubuhku. Begitu pertama kali aku menstruasi, bukannya aku mengalami peningkatan tinggi tubuh yang signifikan, aku malah ‘melebar’ ke samping. Aku ingat, ada sebuah merek susu pertumbuhan untuk remaja dengan slogan: “Tumbuh itu ke atas, bukan ke samping.”
Saat aku remaja, sungguh aku benar-benar tersindir dengan slogan itu. Dan, mencari cara agar aku kelihatan lebih kurus dan tinggi. Aku rajin berolahraga, terutama main basket. Hanya saja karena tubuh yang tidak begitu tinggi, aku selalu di-anak bawang-kan. Tapi, tidak hanya itu, aku juga mengkonsumsi pil peninggi badan yang dianjurkan saudara. Namun pil yang katanya mujarab itu malah bikin aku muntah-muntah. Juga ironisnya pula, aku mengonsumsi susu tinggi kalsium untuk remaja yang punya slogan nyebelin itu.
Tapi, seiring dengan berjalannya waktu. Aku makin mencoba untuk berdamai dengan keadaan ini. Nggak ada yang bisa aku rubah dengan sifat alami di dalam tubuh. Dan, semenjak aku sudah dewasa dan pernah menekuni profesi sebagai seorang copywriter, I say, to hell with the slogan. Nggak ada yang salah dengan tumbuh ke samping atau ke atas. Itu mungkin sains yang sedikit aneh dan unik. Mungkin genetik. Mungkin juga karena malas berolahraga... ya, tapi itu bukan aku. Aku bisa berlari sejauh 10 kilometer dalam 30 menit di atas treadmill. Ya! Bisa! Itu tiga tahun kemarin.
Anyway, aku sudah berjalan jauh untuk menerima citra tubuhku apa adanya. Namun, pemandangan seperti ini yang selalu bikin aku goyah. Populasi urban seperti ini yang bikin aku makin kecil, minder dan makin menyudut di dalam kotak semestaku yang kecil. Apalagi saat aku melihat pasangan muda yang nampak sempurna.
Sang laki-laki mengenakan celana chino yang pas di kaki dan kemeja yang membingkai tubuh kurus mereka menjadi sedikit berisi. Sang perempuan, mengenakan atasan tunik dan mungkin celana jins berwarna pastel. Mereka punya kulit putih bersih dan bergandengan tangan. Nampak begitu damai dan bahagia. Mereka nampak seperti pasangan muda yang berpose unik di instagram (dengan filter Valencia). Pokoknya nampak ke-kinian.
Sementara aku menangkap bayanganku di cermin sungguhan. Saat ini, aku berada di salah satu toko kosmetik dan riasan wajah ternama--oke, nama tokonya--Sephora, para cewek-cewek pasti tahu.
Aku menatap dan meratapi sedikit bayanganku. Aku menolehkan wajahku ke samping, memeriksa sisi kanan dan wajahku. Bahkan saat aku menyampingkan wajah, tulang rahangku tidak nampak meruncing tajam. Mungkin itu karena rahangku tertutup oleh pipiku yang bundar dan berisi.
Rambutku tidak teurai panjang, namun di potong diatas bahu. Ibuku begitu bangga dengan rambutku yang secara alami nampak seha, lebat dan hitam legam. Dari usia 0 - 20 tahun, aku tidak pernah membiarkan rambutku tumbuh hanya sepanjang bahu. Itu mungkin karena pengaruh Ibu. Di usiaku yang ke 21 tahun, aku memangkas rambutku yang panjang sepinggang hingga sebatas dada. Kemudian, semakin usiaku bertambah, semakin pendek aku pangkas rambutku. Teman-teman berkomentar, “India, rambutmu itu cantik. Kenapa kamu potong pendek. Aku saja mati-matian mau panjangin rambut biar kelihatan tebal dan sehat.” Jawabanku singkat, “umm... bosan?”
Saking bosannya, pada usiaku ke 23,5... saat itu aku masih bekerja di salah satu agensi periklanan multinasional menjadi budak dari skema pemasaran perusahaan besar seperti Unilever dan P&G, tidak hanya aku memotong rambutku pendek sebahu. Namun aku juga menghilangkan hitam dari setengah panjang rambutku, dan memudarkannya hingga jadi kuning pucat. Lalu, aku masukkan warna ungu gelap di bagian rambut tanpa warna tersebut. Sepulangnya dari salon, Ibu tidak mau berbicara kepadaku. Tiga hari.
Oh, ngomong-ngomong, aku sedang belanja lipstik karena aku sadar usia lipstikku sudah cukup tua dan mungkin aku harus membeli yang baru. Hitung-hitung, pernikahan Anika berlangsung minggu depan.
Namun, satu masalahnya. Bukannya tidak punya cukup uang uang beli lipstik. Meskipun begitu, aku merasa menghabiskan uang untuk kosmetik adalah sesuatu yang percuma. Aku rasa lebih baik aku menggunakan uang untuk memesan pizza atau nabung untuk pergi ke San Diego dan datang langsung ke Comic Con.
Lagipula, aku kelihatan seperti anak perempuan usia 12 tahun yang baru belanja pembalut pertamanya. Aku tidak tahu apa-apa soal riasan wajah. Aku hanya biasa menaburkan bedak yang gradasinya tidak begitu lebih cerah dari kulitku dan eyeliner dengan sayap yang berantakan plus, memoleskan pelembap bibir. Kemampuanku dalam merias wajah memang memalukan. Aku bahkan tidak tahu warna yang pas untuk bibirku. Warna peach terasa terlalu benderang di kulitku yang cokelat gelap, warna krem tidak memperlihatkan efek apa-apa. Merah marun, membuat bibirku tebal. Ah, apa ada lipstik berwarna biru donker, mungkin? Biar sama seperti warna kukuku.
Saat aku memeriksa keadaan bibirku, yang warnanya sudah secerah fanta stroberi merah, pikiranku melayang.
Oh, ya, aku pernah kesini. Tepatnya, di Sephora Plaza Indonesia. Bersama Anika. Itu kenapa terprogram di otakku untuk belanja riasan wajah disini, bukan di tempat lain. Aku awalnya juga heran, karena tidak mungkin seseorang sepertiku yang cuek dengan peralatan make-up, bisa mengingat tempat yang menyerupai surga make-up. Hmm... musik pop, pelayan berseragam yang kelewat sopan dan tentu saja wajah model-model yang cerah halus terpampang di layar LED.
Ya, itu adalah kali pertama aku bertemu Anika selepas kami wisuda. Mungkin 2 tahun berselang setelah itu. Ika, begitu aku menyapanya akrab, baru menjalin hubungan dengan calon suaminya--yang aku lupa namanya.
Dulu, Ika ini nggak jauh beda karakternya denganku. Kami sama sama membenci sepatu hak tinggi, riasan wajah dan kami sangat menyenangi sweater bergambar Pizza yang kami beli saat melancong ke Singapura saat libur semester. Namun, ternyata 2 tahun sudah mengubah Ika. Mungkin karena ia bekerja di bidang humas.
Kini rambutnya rapih terikal, wajahnya berseri-seri dengan riasan wajah yang tidak berlebihan bahkan sayap eyeliner-nya rapi dan cantik. Aku sengaja mengenakan sweater Pizza kembar kami yang sudah sedikit usang warnanya, diluar kemeja putihku. Dengan harapan, Ika akan mengenakan sweater yang sama. Namun ia datang dengan gaun putih cantik yang mengemasi badannya yang sekarang nampak ramping dan kitten heels. Ya, aku bisa melihat Ika sangat berhati-hati dengan pilihan sepatunya agar nampak feminin, namun selalu nyaman.
“Ika, kenapa kamu bisa jadi seperti ini? Dimana kaus Joy Divisionmu?” tembakku, sambil menguntitnya berjalan dari bagian bedak ke bagian lipstik. Beginilah aku saat menemani teman-teman perempuanku belanja baju atau kosmetik. Aku tidak pernah berkeliaran dan menikmati waktuku belanja dari satu bagian ke bagian lain. Jadi, masih berpikir cuma para pacar saja yang selalu merasa ‘tersesat’?
Ika hanya tersenyum sambil memoleskan lipstik merah jambu tipis di tangannya. “Harus, India. Kadang dihidup ini kita harus merelakan apa yang kita suka. Karena kita nggak bisa hidup se-ideal yang kita mau.” ucapnya.
Aku terus menguntitnya hingga ke bagian maskara. “Maksudmu apa?”
“Ya, kita bukan anak kuliah lagi. Kita nggak di Sydney lagi, dimana kita bisa hidup semau kita. Kita nggak bisa secuek dulu. Kembali pulang berarti kita menyesuaikan dengan keadaan yang ada, toh.”
“Well,” aku mengangkat bahuku, namun Ika belum selesai dengan pidatonya.
“Jujur aja, sehabis Sydney, aku nggak bisa kuliah jauh-jauh lagi. Aku ingin jadi mandiri dan nggak mau merepotkan orangtuaku lagi. Melihat keadaan kantor-kantor di Jakarta, aku memutuskan untuk mencari mata pencaharian stabil. Dan tampil rapi adalah salah satu dari syarat tertulis... Dan, aku sekarang 23 tahun. Aku seharusnya sudah menikah sekarang,” aku bisa mendengar nada patah hati dari suaranya.
“Kita 23 tahun, berarti kita sudah dewasa dan kita nggak bisa seperti anak kecil lagi. Nggak bisa terlihat seperti anak kecil. Dan, kalau aku nggak kelihatan ‘cewek’ seperti ini, kalau aku nggak bisa kelihatan ‘baik-baik’ seperti ini, Kamal nggak akan menyapaku di elevator dan mengajakku kencan. Semua cowok sekarang mencari cewek yang ‘baik-baik’. Dan sekarang orangtuanya, mau melihatku pasang jilbab biar kelihatan lebih ‘baik-baik’.” lanjutnya getir.
Oh, ya. Sebuah motivasi yang bagus kepada gadis yang baru mengukirkan kutipan Rumi di punggung kanannya. Aku merasakan denyut nyeri disana dan sekarang aku merasakan denyut yang sama. Daripada aku menghabiskan uang untuk beli lipstik, aku bergerak ke bagian perawatan tubuh dan membeli gel lidah buaya impor yang harganya nyaris seperempat juta. Sama saja.
Aku bergerak ke kasir. Seiring dengan itu aku menangkap bayangan diriku sendiri yang terpantul dari dinding hitam licin di balik kasir. Apa aku tidak mencerminkan ciri-ciri cewek yang baik-baik? Apa sih definisi dari baik-baik itu?
Apa sering beramal tapi nampak seperti preman? Atau nampaknya seperti orang yang rajin beramal tapi hatinya seperti preman? Tapi, preman juga manusia. Ah, sudahlah.
“Hai, kamu disini rupanya.” sapa seseorang dari balik punggungku.
Reza disana. Kencanku hari ini. Ya, tapi aku nggak mau menganggapnya sebagai kencan juga. Entahlah. Aku merasa biasa saja. Namun, melihat dua anting permata yang ia kenakan di kedua telinganya dan kalung bling-bling yang melingkar di lehernya, aku mulai merasa Reza menganggap ini lebih dari kencan--mungkin fashion show?
Entah kenapa tiap kali Reza berada di dekatku, pikiranku langsung memutar lagu hip-hop yang punya lirik tak senonoh dengan kata “hoe” dan “bitch” di dalamnya. Mungkin hanya perasaanku saja. Dan, Iyon sudah mengingatkanku untuk tidak langsung memberi stereotip ke orang yang baru aku kenal. Dipikiranku, ia menyukai Star Wars. Oke. Aku bisa mengerti.
“Apa itu?” ia melihatku memegang botol 500ml berisi subtansi cair di tangan.
“Oh, ini... Aloe vera. Buat tatoku.”
Barisan makin maju, dan kami akhirnya berada di muka kasir. Tiba-tiba, Reza mengeluarkan dompetnya dan dengan gesitnya mengeluarkan lempengan mengkilat dari sana.
“No,” hardikku, terlihat berlebihan tapi aku menepis tangan dan juga kartu kreditnya. “Biar aku yang bayar.”
Karena, tidak mungkin aku membiarkan seorang asing membelikanku krim aloe vera seharga 250 ribu di kencan pertama.
Reza menatapku dengan pandangan heran. “Oke.”
“Kamu tunggu di depan saja.”
Ia mengangguk dan berlalu dengan tertunduk lesu. Aku melanjutkan transaksi di kasir. Beribu pertanyaan terlintas di benakku dan juga termasuk salah satunya: “Apa aku ini termasuk mereka yang baik-baik?”