Hamdan lillah atas segala hidayah-Nya.
Berprestasi, siapa yang tak menginginkan satu kata itu? Setiap orang berlomba menjadi yang terbaik, pun ajang olimpiade bagaikan pasar yang terbuka setiap saatnya. Bahkan, seorang muslim diperintahkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Ada apa?
Sedari kecil saya bukanlah pemilik jiwa antusias untuk meraih hal yang satu ini. Entah didikan apa yang orang tua tanam dalam diri. Yang saya ingat, saya selalu diikutsertakan perlombaan, dan nama saya dipanggil naik ke atas panggung untuk menerima piala. Saya belum paham makna ‘juara’ waktu itu. Pun saya belum merasa 'bahagia’ di kala orang-orang bertepuk tangan memberiku selamat. Ada apa?
Jangankan berprestasi, melanggar peraturan saja saya ahlinya. Ini yang saya rasa di masa menengah pertama. Zaman paling 'asik’ bagi labil yang masih mencari-cari jatidiri. Tentu di waktu itu, rasa penasaran terhadap karakter manusia begitu tinggi. Saya hanya ingin tahu, bagaimana manusia melalui hari-harinya? Bagaimana bergaul dengan si sanguin, pleghma, koler dan melan?
Syukur nilai-nilai akademik masih menyatakan saya lulus. Meski nilai matematika waktu itu nyaris menjerumuskan. Bagi saya, hari-hari itu hanya sekedar mengharap 'lulus’ dari sekolah dan lanjut sekolah, udah. Tak ada kompetisi. Yang penting banyak teman, banyak cerita, banyak petualang. Cukup.
Tibalah pikir mulai memainkan perannya. Tugas demi tugas mulai menghampiri pribadi ini. Hey, saya tak tahu kenapa saya sangat menikmatinya? Seru sekali rasanya mengurusi ini itu, memikirkan ini itu, mengatur ini itu. Orang-orang bilang itu 'amanah’. Apa itu? Yang saya tahu, sekolah jauh membuat saya lebih bersungguh. Bersungguh untuk menjadi hamba yang utuh. Namun sayang, kesungguhan saya bukan untuk sebuah prestasi. Bagaimana berkeinginan prestasi? Sedang terhadap rapot dan peringkat saja saya tak peduli. Sangat tak peduli. Ada apa?
8 tahun meniti hidup di lingkungan homogen. Berjumpa, bersapa, bekerja dengan orang-orang yang sama.
Kini tapak mulai memasuki langkah sesungguhnya. Beragam tujuan hidup saya temukan di sini. Kalau di SMP tahu karakter manusia hanya 4, sekarang rasanya ingin saya cetuskan lagi ilmu psikologi terkait penambahan karakter manusia. Unik.
Ini yang ingin saya pertanyakan, apa rencana Allah untuk kehidupan saya saat ini?
Jika boleh saya simpulkan, dengan tak lupa syukur kepada Allah yang memberi beribu-ribu nikmat. Alhamdulillah, saya dari masa ke masa adalah sebuah perbaikan. Ya, semakin dan semakin menuju tingkat lebih baik. Itu yang saya renungkan. Dan yang menjadi peer terbesar adalah, bagaimana saya bersyukur atas nikmat Allah selama ini? Bagaimana saya harus melangkah agar kiranya masa ini (lagi-lagi) menjadi masa yang membaikkan saya dari hari kemarin?
Setelah sekian lama saya anti kompetisi, Allah takdirkan saya menduduki jajaran Awail (IPK tertinggi di satu semester LIPIA). Tanpa antusias. Tanpa ambisi. Tanpa target sebelumnya untuk menjadi bagian dari mereka. Ada apa?
Sempat menganggap itu 'juara’ dan 'bahagia’. Tapi nanti dulu. Itu hanya bertahan satu semester dan kini saya dapati diri sangat sangat jauh dari itu. Bingung? Pasti. Sedih? Tentu. Nangis? Otomatis.
Bukan, bukan masalah saya tak mendudukinya lagi. Tapi lebih dari itu; saya merasa syukur saya dipertanyakan. Itu aja T_T
Rasanya ingin singkap rahasia Allah izinkan saya mencicipi Awail. Akankah Allah menginginkan diri ini gemilang dalam akademik? Ataukah akan Allah jadikan diri ini mengabdi fokus pada ilmu tanpa terganggu dengan kesibukan-kesibukan lain? Lalu kenapa Allah tak lagi menghadiahkan itu pada saya? Ataukah akan Allah didik jiwa ini agar senantiasa besar? Ataukah ini bimbingan agar kerap ikhlas tanpa mengharap pandang sesama manusia?
Terlepas dari tanya yang semoga tak mengeluarkan saya dari meyakini-Nya, satu yang saya dapat dari perenungan panjang ini. Usaha. Ya, usaha.
Rasanya ingin kembali ke masa kecil dulu. Mengikuti banyak perlombaan. Dan harus disadari bahwa hidup hakikatnya adalah perlombaan. Agar senantiasa diri beringin tuk menjadi yang lebih baik.
Rasanya ingin kembali ke masa kecil dulu. Yang kali ini baru saya ingat, meski mengikuti banyak lomba, semua tak lepas dari yang namanya latihan. Orang tua tidak serta merta menyetujui saya ikut perlombaan. Di sana ada kursus setiap harinya. Ada bimbingan khusus setiap waktunya.
Sesungguhnya apa yang diberikan Allah berupa Awail adalah hadiah bagi diri ini. Dan untuk meraihnya kembali, bukan berarti Allah tak mampu memberikannya lagi. Tapi ada usaha yang harus diperlebih, ada niat yang harus diperkuat.
Pada akhirnya, segala kisah dan gelisah yang tertumpah bukan semata berbagi. Tapi tentu masih tersimpan tanya dalam diri, sudahkah saya berprestasi untuk agama ini? Adakah ridho Allah dalam langkah saya kini?
Sederas tangis,
Jakarta, 28 April 2016