Jejak Pemikiran Prof. Esposito: Jembatan Dialog Islam dan Barat
Dunia akademik baru saja kehilangan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam kajian Islam modern. Pada 15 Juli 2026, Prof. John L. Esposito meninggal dunia di usia 86 tahun. Kehilangannya menandai akhir dari sebuah era penting dalam studi Islam kontemporer, khususnya dalam upaya membangun dialog antara dunia Muslim dan Barat. Meskipun saya tidak pernah bertemu langsung dengan beliau, saya merasa sangat dekat dengan pemikirannya melalui berbagai karya monumental yang telah ditulisnya. Beberapa buku terkenalnya seperti "Islam: The Straight Path," "The Islamic Threat: Myth or Reality?," "The Future of Islam," "What Everyone Needs to Know About Islam," dan "Who Speaks for Islam?" menjadi bacaan yang sangat penting bagi siapa pun yang ingin memahami Islam secara mendalam, tanpa terjebak dalam prasangka atau simplifikasi. Sebagai seorang akademisi terkemuka di Georgetown University dan pendiri Prince Alwaleed bin Talal Center for Muslim Christian Understanding (ACMCU), Esposito telah menjadikan universitas tersebut sebagai salah satu pusat studi Islam yang paling berpengaruh di dunia. Dari sana, berbagai penelitian lahir yang mengaitkan isu-isu agama dengan politik, demokrasi, hak asasi manusia, dan hubungan internasional. Ia menunjukkan bahwa studi Islam dapat berfungsi sebagai jembatan untuk dialog antar berbagai identitas. Salah satu hal yang paling saya kagumi dari pemikiran Esposito adalah keberaniannya dalam menolak pandangan yang sempit tentang Islam yang sering kali hanya dilihat melalui lensa konflik. Setelah tragedi 11 September, di mana Islam sering kali disamakan dengan terorisme dan radikalisme, Esposito tetap teguh dalam pendiriannya untuk menjelaskan bahwa dunia Islam jauh lebih kompleks daripada yang terlihat. Ia mengingatkan kita bahwa lebih dari satu miliar Muslim tidak bisa diwakili oleh tindakan sekelompok kecil orang. Bagi Esposito, pemahaman tentang Islam harus dimulai dari sejarah, tradisi intelektual, dan realitas sosial umatnya. Pemikirannya juga memberikan dampak yang signifikan di Indonesia. Banyak bukunya diterjemahkan dan dipelajari di berbagai perguruan tinggi Islam, mulai dari IAIN hingga UIN, serta fakultas ilmu sosial dan hubungan internasional. Gagasan-gagasannya mengenai demokrasi Islam, pluralisme, kebangkitan politik Islam, dan hubungan Islam dengan modernitas telah menjadi bagian penting dari diskursus akademik di tanah air. Banyak intelektual Indonesia yang berinteraksi dengan pemikiran Esposito, baik untuk mengembangkan maupun mengkritisinya. Nama-nama seperti Nurcholish Madjid, Azyumardi Azra, M. Quraish Shihab, Bahtiar Effendy, Komaruddin Hidayat, dan Din Syamsuddin, hingga generasi akademisi UIN yang lebih baru, semuanya terlibat dalam iklim intelektual global yang sebagian besar dipengaruhi oleh kontribusi Esposito. Meskipun mereka mungkin memiliki pandangan yang berbeda dalam beberapa isu, mereka berbagi komitmen yang sama untuk memahami Islam melalui penelitian yang serius, dialog yang terbuka, dan penghormatan terhadap keragaman. Esposito mengajarkan bahwa seorang akademisi tidak seharusnya berfungsi sebagai pembela atau penuduh suatu agama. Tugas mereka adalah menjelaskan, meluruskan kesalahpahaman, dan menyajikan pengetahuan yang objektif. Sikap ilmiah semacam ini membuat namanya dihormati baik di kalangan masyarakat Barat maupun di dunia Islam. Selamat jalan, Prof. John L. Esposito. Warisan terbesar Anda bukan hanya sekadar buku-buku dan artikel yang Anda tulis, tetapi juga keberanian intelektual Anda untuk menjembatani dua dunia yang sering kali terpisah oleh prasangka. Di tengah kebisingan politik identitas, Anda memilih untuk berbicara dalam bahasa ilmu pengetahuan. Di tengah benturan peradaban, Anda memilih dialog sebagai jalan keluar. Itulah sebabnya nama Anda akan terus dikenang dalam sejarah pemikiran Islam kontemporer. Semoga semua dedikasi ilmiah yang telah Anda berikan menjadi cahaya yang menerangi jalan bagi siapa pun yang percaya bahwa ilmu pengetahuan adalah fondasi terkuat untuk membangun jembatan pengertian antarperadaban.
Baca selengkapnya di Batuter.Com Link Center : https://tautanku.com/batutercom













