Zaid bin Tsabit: Pengumpul Al-Qur’an
Izinkan daku memulai cerita sahabat nabi kali ini dengan sebuah curahan hati. Aku memulai tantangan 30 hari menulis sahabat-sahabat nabi dengan jumawa. Aku tidak perlu mencari tema tiap harinya, tidak perlu brainstorming cari judul dan sudah ada buku yang dijadikan referensi. Gampang, tinggal baca dan merangkum.
Namun, di hari pertama ku sudah dibuat insaf bertobat memohon ampun. Ternyata sulit sekali merangkum tulisan berbentuk cerita ke dalam tulisan yang padat dan to the point. Belum lagi ketika malas melanda. Padahal kerja kita ada dua: membaca lalu menulis. Tidak bisa dilewati bagian pertamanya.
Apalagi kalo sedang bad mood. Aku tidak bisa serta-merta menulis asal-asalan. SAHABAT NABI INI COY! Keselamatan dunia, agama dan akherat taruhannya. Sungguh berat tekanan ini. Ada rasa-rasa ingin menyerah tapi kok kayaknya kesulitan yang ku rasa tidak apa-apanya dengan perjuangan rasul dan para sahabat (wow menyandingkan diri dengan orang-orang saleh).
Ku kira, pekerjan menulis perihal sahabat nabi sudah paling susah.
Sampai akhirnya aku membaca perjuangan Zaid bin Tsabit...
Al-Qur’an tidak diturunkan sekaligus, melainkan berangsur-angsur, mengikuti situasi, peristiwa, dan krisis yang terjadi. Demi menjaga kemurniannya, banyak sahabat nabi yang menghafal dan menuliskannya. Di antara mereka ada Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Abbas, dan Zaid bin Tsabit.
Pasca wafatnya rasulullah saw, kaum muslimin disibukkan oleh peperangan menghadapi kaum murtad. Dalam Perang Yamamah, banyak penghafal Al-Qur’an yang gugur syahid. Umar bin Khattab yang khawatir lalu meminta khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk mengumpulkan Al-Qur’an sebelum penghafal Al-Qur’an lainnya gugur semua sebagai syuhada.
Setelah melakukan istikharah dan berunding dengan sahabat lainnya, Abu Bakar lalu memanggil Zaid bin Tsabit. Zaid diminta khalifah untuk segera memulai pengumpulan Al-Qur’an dengan bantuan para ahli.
Bayangkan betapa beratnya tugas tersebut! Ibarat jargon NET tv dulu, zero mistake. Tidak boleh melakukan kesalahan meskipun sangat kecil dalam menuliskan ayat atau menyusunnya menjadi satu surat. Beginilah Zaid menggambarkan betapa sulitnya melakukan pekerjaan tersebut,
“Demi Allah, seandainya mereka memintaku untuk memindahkan gunung dari tempatnya, itu tentu lebih mudah kurasa bagiku daripada perintah mereka menghimpun Al-Qur’an.”
Aku sih setuju ya. Bukan bermaksud menyama-nyamakan diri ya Zaid (akrab luwh), tapi ku menuliskan kembali kisah sahabat nabi aja harus hati-hati sekali apalagi dirimu yang menghimpun firman-firman Allah!
Namun, Zaid tidak mundur dari tugas tersebut. Ia terus bekerja menghimpun Al-Qur’an sampai masa kekhalifan Utsman bin Affan. Berkat kerja keras Zaid dan segenap sahabat yang membantunya, kini kita dapat membaca Al-Qur’an dengan mudah.
Kita tinggal baca. Tidak perlu bersusah-payah kesana kemari mencari mushaf yang terpisah-pisah.
Tapi kenapa ya, kemudahan itu seringnya tidak kita (aku) pergunakan?
Innallāha lā yaẓlimun-nāsa syai`aw wa lākinnan-nāsa anfusahum yaẓlimụn
(Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri). -Q.S Yunus:44









