Thalhah bin Ubaidillah: Perisai Hidup Rasulullah
Bagaimana rasanya jika seseorang telah dijamin masuk surga, sementara ia masih hidup di dunia? Syahidul hayy atau syahid yang hidup. Itulah gelar mulia yang disandang Thalhah bin Ubaidillah. Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa ingin melihat seorang syahid yang masih berjalan di muka bumi, maka lihatlah Thalhah bin Ubaidillah.”
Gelar itu bukan tanpa sebab. Gelar tersebut diberikan Rasulullah saw kepada Thalhah pada Perang Uhud. Saat pasukan Quraisy berbalik menyerang kaum muslimin yang telah kocar-kacir, keselamatan Nabi Muhammad saw berada dalam ancaman. Bahkan tersiar kabar bahwa Rasulullah telah terbunuh. Mendengar hal itu, Thalhah segera mencari keberadaan Baginda.
Ia menemukan Rasulullah saw dalam kondisi terdesak. Tanpa ragu, Thalhah menghadang musuh dan menjadikan dirinya perisai hidup bagi Rasulullah. Seorang diri, ia berdiri layaknya satu pasukan.
Tangan kanannya mengayunkan pedang, sementara tangan kirinya menopang dan memapah Rasulullah menuju tempat yang lebih aman. Setiap panah dan pedang yang mengarah kepada Nabi, Thalhah halau. Bukan dengan tameng besi, melainkan dengan tubuhnya sendiri.
Ia menerima tujuh puluh hingga delapan puluh luka akibat tusukan pedang dan sabetan tombak. Jari-jarinya terputus. Bahkan ketika sebuah anak panah hampir menyambar wajah Rasulullah, Thalhah menangkisnya dengan telapak tangannya. Sejak saat itu, tangan Thalhah terluka parah dan lumpuh seumur hidup.
Tubuhnya bersimbah darah. Para sahabat mengira ia telah gugur di medan perang. Namun Allah berkehendak lain. Ketika Rasulullah saw yang terluka dan kelelahan kesulitan mendaki Gunung Uhud karena baju besi yang dikenakannya, Thalhah berlutut dan membiarkan Rasulullah naik ke punggungnya. Ia menggendong beliau hingga sampai di tempat yang aman. Di momen itulah Rasulullah saw bersabda, “Wajabat Thalhah (telah wajib surga bagi Thalhah)".
Namun jaminan surga tidak membuat Thalhah lalai. Rasulullah saw memberinya gelar lain: Al-Khair (Thalhah yang baik) dan Al-Fayyadh (Thalhah yang dermawan). Seluruh hartanya ia nafkahkan di jalan Allah, tanpa batas.
Suatu hari, istrinya mendapati Thalhah menangis. Ia menangis karena hartanya terlalu banyak hingga membuat hatinya terasa sempit. Sang istri pun menyarankan agar harta itu dibagikan kepada penduduk Madinah yang membutuhkan. Maka malam itu mereka menyusuri rumah-rumah, membagikan harta hingga pagi, sampai tak tersisa satu dirham pun.
Sungguh besar cinta Thalhah kepada Allah dan Rasul-Nya. Bahkan jaminan surga pun tidak menghentikannya untuk terus berjalan di jalan yang lurus.
Telah pasti keselamatan bagimu wahai Thalhah, namun engkau masih menjalani hidup penuh ketakwaan dan kehati-hatian...
Sungguh celakalah kami...
yang belum tentu mendaptkan surga, namun hidup seolah-olah akan selamanya tinggal di dunia.