Mengapa ragu ?
Semua perjalanan pasti menemu paling tidak satu persimpangan. Arah mana yang akan kita pilih, sesuai dengan petunjuk kata hati. Apakah jalan di depan membawa ke sebuah jurang atau justru alam yang memanjakan pandang. Masing-masing jalan tentu ada konsekuensi yang mengikuti, tinggal seberapa kuat kita bertaruh dengan berbagai spekulasi.
Persimpangan yang akhir-akhir ini mengusik pemikiran adalah :
Pengalaman atau modal untuk makan
Digaji atau mengabdi
Merantau lagi atau menikmati kota sendiri
Menaklukkan kota yang baru atau menemani ortu
Tak perlu diperdebatkan atau dibingungkan. Setiap orang punya alasannya tersendiri dalam memilih, kan? Tak ada pilihan yang salah. Syaratnya tau dan mau menjalani konsekuensi dari sebuah pilihan. Yang salah bukanlah pilihannya, melainkan lalai terhadap konsekuensi.
Bukankah Tuhan adalah pengatur skenario terbaik? Bahkan dalam pilihan jalan yang salah (menurut kita) pun, Tuhan masih menyuguhkan destinasi yang lebih indah. Jika tidak saat ini, kita akan merasakan destinasinya nanti.
Seringkali Tuhan memberi diluar ekspektasi. Membenturkan kenyataan dengan skenario manusia dalam hati. Karena beginilah cara-Nya menyayangi. Tidak mengabulkan semua doa, tapi menggantinya dengan yang lebih baik menurut-Nya.
Kini aku mulai meyakini, mengapa takut menemu persimpangan jika hanya kepada Tuhan lah semua digantungkan.
Mengapa resah menemu persimpangan jika kekuasaan Tuhan tak pernah diragukan.
dan
Mengapa ragu memilih jalan yang salah, jika di depan sana terbentang pemandangan indah.
Pasuruan, 220118


















