Sebab yang Pertama Selalu Tak Terlupa
Ada istilah yang berbunyi "tak akan bisa terlupa begitu saja untuk setiap yang pertama, karena tepat kena rasa yang merasuk ke dalam jiwa." Mungkin memang benar adanya. Seperti kisahku satu tahun silam.
"Ay, lu seriusan ngga pacaran lagi setelah terakhir kali putus sama raffi?" Kata rara, temenku satu kantor yang juga temen zaman masih jadi anak kuliahan.
"Iya nih ra aku ngga ada minat. Udah 4 tahun berlalu yak." Jawabku santai sambil menimang hape yang tiba-tiba berbunyi karena ada panggilan dari nomer yang tak dikenal.
"Dari siapa ay??" Tanya rara penasaran.
"Ntah nih aku juga ngga tau, sudah 4 hari ini nomer itu dengan intens menelpon, takut dari penipuan atau yang mau nawarin asuransi kali, males banget angkat begituan." Jawabku asal, namun ada yang aneh dengan nomer itu, seperti tak asing bagiku.
Malam harinya, setelah pulang dari kantor, saat hendak membersihkan diri, tiba-tiba nomer yang sama menghubungiku kembali. Karena risih, akhirnya aku memberanikan diri untuk mengangkat telponnya, sampai aku sadar, siapa seseorang dibalik suara pertama yang terdengar saat aku menjawab telponnya.
"Hallo Ay, apa kabar? Masih ingat aku?" Ucap suara laki-laki di telpon yang ternyata tak asing.
"Hallo, aku baik alhamdulillah, ini Septian ya?" Balasku sambil mengira apakah sosok dibalik suara itu benar si septian. Septian, pacar pertama, mantan pertama dan terakhirku saat SMP dulu.
Dan setelah itu percakapanku dengannya mengalir begitu saja. Hingga ditutup dengan obrolan akan janji temu pada sebuah cafe langganan kita dulu sewaktu SMP. Septian hendak menjadikanku model di Movie Clip terbarunya, dia vokali di salah satu band indie malang yang tak pernah aku sadari sebelumnya.
Seminggu kemudian, hari pertemuan kami pun tiba. Aku benar-benar bertemu dengan septian setelah sekian lama kita tak bersua ketika kejadian perpisahan itu terjadi, mungkin 8 tahun yang lalu atau 10 tahun yang lalu, sudah sangat lama sekali. Tapi meski tak jumpa, kita masih bertegur sapa di medsos walau tak sering. Dan tak kusangka pertemuan pertama itu menjadi pembuka untuk pertemuan-pertemuan selanjutnya di luar rencananya untuk menjadikanku model movie clipnya.
Hingga, rasa yang sebelumnya telah sempat mati terkubur dalam-dalam, kini hidup kembali dan hadir memenuhi ruang kosong dihatiku. Aku tak pernah mengira rasa yang dulunya hanya dibilang sebagai cinta monyet, kini tumbuh kembali bersama kehadirannya yang tak terduga. Nostaligia yang tak ada habisnya membawaku dengan septian pada pertemuan yang makin intens, perasaanku dan perasaannya yang semakin nyata, sampai pada permintaan khususnya kepadaku untuk berkunjung ke rumah, menemui orang tuaku. Tak kusangka secepat itu jika dihitung dari pertemuan kita yang masih bisa menggunakan jari kaki dan tangan.
Aku masih saja bertanya? Apakah ini nyata? Dan pernyataan papakulah yang menjadi jawaban nyata atas segala pertanyaanku selama berlangsungnya setiap pertemuan kami. Jika dibilang aku sama septian jadian kembali, aku rasa bukan, papa dan septianlah yang jadian, mengikat hubungan yang tentunya ada aku di dalamnya.
Bersama segala impianku dan impian septian, serta restu kedua orang tua kami, aku melangkahkan kakiku bersamanya menuju jenjang yang lebih serius. Sungguh Tuhan sangat adil telah mempertemukanku kembali dengan sosoknya yang dulu hanya sebatas cinta pertama, dan harus kandas karna urusan pendidikan yang wajib kita tempuh seserius mungkin; dulu.
Tak kusangka dia tumbuh dengan begitu baik. Agamanya baik, sopan, fokus dengan pekerjaan dan impiannya. Dia bukan hanya seorang vokalis band, tapi dia juga punya usaha dibidang pakaian yang sudah tak bisa dianggap remeh, karena brandnya sudah dikenal di mana-mana. Dan tentunya bisa mencukupi kebutuhan kami kedepannya. Dan dia berjanji tak akan membuatku kesusahan bersamanya. Aku bersyukur akan semua yang terjadi. Aku benar-benar mencintainya kembali, persis seperti dulu, malah rasa ini semakin bertambah besar.
Setahun sudah berlalu, saat reyhan hadir dalam kehidupan kami. Aku masih mencintai septian dan terus mencintainya seperti pertama kali aku merasakan jika aku mencintainya kembali seperti dulu. Debar itu tak pernah berhenti kurasakan setiap kali bertatap mata, melakukan aktivitas atau bahkan melihatnya tertidur di sebelahku dengan lengan yang memelukku erat. Sebab yang pertama, selalu tak terlupa, dia adalah cinta pertamaku, mantan pertamaku serta suami dari anak-anakku. Aku sangat mencintainya dan selamanya akan seperti itu.














