like a dessert
Andai boleh memilih, apapun yang terjadi dalam hidup ini pasti kita inginkan berakhir dengan sesuatu yang manis. Apapun episode dalam cerita hidup kita. Sekali atau beberapa kali Tuhan mempertemukan kita dengan banyak orang, beragam manusia dengan segala macam perbedaanya. Kalaupun dalam episode selanjutnya, orang-orang tersebut ternyata hanya singgah sejenak lalu kita terpisah dengan berbagai alasan tentunya kita berharap perpisahan tersebut adalah perpisahan yang manis.
Seperti halnya beribu dongeng pengantar tidur atau cerita-cerita yang sering diceritakan ibu saat kita masih kecil, kita selalu berharap cerita akan ditutup dengan happy ending. Tak peduli betapa memilukan bagian awal dan tengah kisahnya. Tak peduli betapa sedih tokoh utama diceritakan. Kita selalu memiliki kepastian bahwa akhir cerita selalu indah.
Andai boleh menganalogikan hidup semisal hidangan, apapun main coursenya pasti akan ditutup dengan sajian dessert yang manis. Begitu pula dengan hidup yang saat ini sedang kita jalani. Saat ini masing-masing dari kita sedang berjuang pada cerita intinya. Saat ini, masing-masing dari kita sedang berjuang menikmati hidangan utamanya. Apapun sajiannya harus kita nikmati. Beragam rasanya harus kita telan. Namun dalam hidup kita tidak bisa sekedar menerka bagaimana dessert yang akan menjadi ending dalam cerita hidup kita. Karena akhir hidup kita, kitalah yang menentukan. Berakhir baik atau buruk. Berakhir manis atau tidak, kitalah yang menciptakan endingnya. Lalu, sudah seberapa keras usaha kita untuk mempersiapkan akhir yang manis?









