A: "Hehehe kelapa gading."
Biasanya tanggapa si Q nggak jauh-jauh dari “ jauh bangeet ya”, “ wih kuat ya” dan sebangsanya
.
Awalnya emang kerasa beraat banget perjalanan pulang-pergi kantor apalagi kalau tiba-tiba muncul masalah; entah itu bus TJnya lama jadi penumpang bertumpuk di halte, keterlambatan kereta sehingga masuk pun sudah Alhamdulillah wa Syukurillah, atau ketemu orang-orang yang hmmm... sulit dijelaskan dengan kata-kata yang sopan wakwak.
Tapi semenjak udah ada Bus Feeder Transjakarta Depok-Cawang UKI (thank you TJ :D) sehingga nggak perlu umpel2an di kereta pagi dan udah tau cara nge-hacked perjalanan pulang, Alhamdulillah, PP pun menjadi lebih mudah.
Semenjak naik Bus Feeder juga, aku jadi sadar. Bahwa bukan aku aja (dan teman sekantorku dulu yang samasama orang Depok) yang menjadi pejuang Depok ke Kelapa Gading. Ada. Banyak. Dan bahkan, berdasar hasil obrolan sembari menunggu bus datang, mereka sudah bekerja hampir 3 tahun atau bahkan ada yang sudah 10 tahun. Jadi, aku mikir, masih pantes nggak ya aku ngeluh? Alhamdulillahnya juga, aku kan belum berkeluarga (single yah, not jombloh!), jadi sampai di rumah aku masih bisa lebih santai. Nggak ada tanggung jawab ini-itu. Ibu juga kadang masih memaklumi, kalau misal aku nggak ngerjain tugas beres-beres rumah :p #janganditiru
Alhamdulillah,, sekarang emang udah terbiasa juga PP Depok-Kelapa Gading, tapi kalau dipikir-pikir mungkin yang bikin terbiasa bukan hanya karena aku mengalaminya hampir tiap hari, tapi faktor terbesarnya adalah aku (in sya Allah) lebih nrimo. Nrimo kalau nggak dapet tempat duduk, nrimo kalau diserobot orang, nrimo kalau kereta bermasalah, nrimo kalau tiba-tiba ada yang nyalip bus TJ, sehingga bus TJnya ngerem dadakan, dan penumpang bus (terutama yang berdiri) merasakan dahsyatnya gaya inersia ;p. Soalnya sekarang (loh, dulu?) aku jauuh lebih yakin, kalau yang aku alami semuanya atas izin Allah, semua kejadian yang terjadi udah Allah yang ngatur. Jadi seandainya aku marah-marah bin stress dengan keadaan yang nggak bisa aku kontrol seperti angkutan umum atau manusia-manusia commuter lainnya, sebenarnya saya sedang marah sama yang membuat keadaan-keadaan itu terjadi, hedeuh ngerih.
.
Walaupun, nggak bisa dipungkiri kalau Depok-Kelapa Gading-Depok itu jauh dan memakan waktu yang cukup banyak diperjalanan, yang padahal waktu tersebut bisa digunakan untuk sesuatu yang lebih produktif semisal; beresberes rumah, makan pagi dengan nikmat (?), me time, ngobrol sama Ibu atau Idat, baca buku yang udah mulai debu-an di lemari (tinggal nunggu mereka bikin konser #jayus), and many more.. (lah, yang produktifnya kayaknya cuma yang pertama ya? Wk)
Bekerja di Kelapa Gading juga lebih ngebuat aku lebih menghargai waktu Sabtu dan Minggu, yang biasanya di dua hari itu aku pergunakan untuk bobok cantique, sekarang udah mulai dikurangin karena sayang waktunya yah, daripada buat tidur mending aku ngelakuin kegiatan yang aku anggap produktif tadi.
.
.
Tapi teteep aku niat banget untuk nyari tempat kerja yang lebih deket atau misalpun jauh ya jauh sekalian jadi bisa ngekos (tsaah gayaa). Tapi aku sangaat berharap (semoga diijabah oleh Allah, kalau ada yang baca tolong doain juga yak) biar aku bisa kerja di rumah ajah.