Selamat Hari Anak Nasional
Sore tadi, obrolan singkat saya cukup menarik. Hal biasa yang juga sering menjadi topik obrolan, cuma kali ini momentnya serasa tepat.
/enak pas udah lulus tho, gaada yang dipikirin lagi/Â
/enggak ya, habis lulus sarjana kamu mesti mikir mau ngapain, kerja dimana, gaenak/Â
/enak itu lah, pas udah lulus terus mau nikah/Â
/enggak lho, itu malah lebih pusing lagi, kamu mesti mikir mapan, terus ngurus anak, bingung ngasi makan anak pakai apa, lebih ribet. udah paling enak itu jadi anak kecil./
/iya bener. kamu makan tinggal disuapin, tidur siang dipaksai, mau apa aja dikasih kalau ga dikasih tinggal nangis, ga mikir apa-apa. paling enak lah itu/---
Ya, saya setuju dengan opini itu. Paling enak memang menjadi anak kecil, apalagi menjadi anak kecil yang pingin cepat dewasa. Seperti saya dahulu.
Kau tahu, anak kecil itu bahagianya sederhana. Manjat keatas kursi saja adalah sebuah pencapaian tinggi, apalagi ketika bisa bicara menyebut “mama” atau “papa”. Seperti itu saja, satu keluarga bahagia. Ya, menjadi anak kecil itu bahagia dan juga dapat membahagiakan.
Saya cukup tertarik membahas permasalahan seputar anak, remaja dan keluarga. Maka jangan heran ketika saya pernah berkomentar pedas untuk hal itu. Alasanya cukup sederhana mengapa saya begitu tertarik dengan masalah itu, karena memori masa kecil saya sangat membahagiakan. Pengalaman pertama saya melakukan segala hal terasa sangat spesial. Dan saya ingin, teman-teman lain dapat bernostalgia dengan bahagia dengan hal itu. Tidak seperti nostalgia ibu atau bapak saya, yang saya rasa tanggung jawabnya jauh lebih besar daripada saya pada umur yang sama.
Remaja, masa-masa ini adalah masa paling rentan, labil dan sensitif. Semua rasa penasaranmu tentang hal-hal buruk memuncak disini. Masa transisi dan juga masa penentuan. Walapun pilihanmu juga bisa berubah seiring berjalannya waktu.Â
Masa remaja saya juga tidak berjalan baik, tapi saya tetap memilih jalan yang baik. Emosi sangat labil, akademis berantakan, dan keluarga juga hampir berantakan. Ketika masa-masa ini rasanya seperti ujian bagi saya, terlebih lagi saya bukan tipe orang yang dapat berbagi masalah pribadi. Menjauh dari keramaian, hanya bisa diam, berpikir, bermimpi dan terus intropeksi. Menghibur diri sendiri rasanya jauh lebih berat daripada sekedar membuat hiburan.Â
Teman saya tidak banyak, kenalan tak terbatas jumlahnya, tapi tak satupun orang tau apa yang saya alami dan rasakan. Mereka hanya bisa menebak dari perilaku keseharian saya “ada yang terjadi”. Tapi saya sangat bersyukur. Sangat bersyukur. Karena kali itu keimanan saya bertambah, hanya Dia yang saya percaya dan hanya kepada Dia saya bercerita. Saya ingat, dulu saya menyebut “ibadah” bukan “solat” tapi laporan. Kalau ada yang tanya “Ping, mau kemana?” saya jawab “laporan bentar” Karena memang benar, saya mengadu segalanya diatas sajadah.Â
Tidak bermaksud pamer atau apa, saya hanya ingin berbagi cerita dan mengutarakan rasa syukur. Saya tidak tahu apa yang terjadi kalau semisal ketika itu saya blame the God, mungkin sekarang saya atheis. Ya, itu mungkin saja terjadi.
Bahkan ketika itu, rumah yang selalu saya nantikan serasa dingin dan asing. Seperti bukan rumah yang saya kenal selama 15 tahun. Dibalik tembok kuning dan loteng rumah adalah tempat kesukaan saya. Saya bisa melakukan segala yang saya inginkan dibalik tembok kuning, termasuk merusaknya, bebas. Tapi saya terlalu menyayanginya, jadi saya hanya merusaknya dengan lukisan, tulisan, tempelan dan segala hal yang saya inginkan, hasilnya tidak mengecewakan. Loteng, naik keatas dan menikmati bintang. Hampir setiap malam kalau tidak hujan.Â
Bayangkan saja, SMA saya masuk kelas akselerasi yang artinya belajarnya sangat ditekan dan dirumah pun saya merasa tertekan. Hasilnya, berantakan. Pada awalnya saya hanya diam saja, membiarkan semuanya terjadi karena saya rasa itu bagian dari cerita hidup. Tapi, semakin lama saya diam saya makin merasa bersalah. Saya semakin merasa tertekan dan saya merasa semakin takut. Takut hal yang sangat saya tidak inginkan terjadi juga saya takut “tanggung jawab” saya merasakan masa kecil yang buruk. “tanggung jawab” yang saya maksudkan adalah adik saya. Ya, saya sangat takut ia memiliki kenangan yang buruk, saya takut psikis nya terganggu dan sangat banyak lagi ketakutan yang saya pikirkan saat itu.Â
Karena semua itu, saya tidak tahan lagi dengan kondisi rumah. Saya tidak ingin masalah itu diketahui orang lain, dan saya tidak ingin masalah itu menimbulkan mudarat lainnya. Lalu, saya ikut campur pada masalah itu. Saya turun dari loteng rumah, bicara dengan nada yang dibuat setenang mungkin diantara teriakan-teriakan dan tangisan yang sangat saya benci. Saya katakan semua yang ingin saya katakan, saya jawab semua sanggahan itu, dan saya ajukan beberapa permohonan. Awalnya semua itu ditolak, semua itu disanggah, dan semua itu dibantah.Â
Dan akhirnya negoisasi itu semakin mengarah pada hal-hal yang saya anggap sangat nekat. Kami menyetujui-nya, dan sekarang suasana rumah yang dulu kembali. Kehangatan kami semakin terasa, dan semuanya membaik. Salah satu hal yang sering membuat saya sedih adalah ucapan adik saya. Entah apa yang membuat saya sangat menyayanginya, bahkan ketika melihatnya sedang tidur saja saya bisa sedih. Mungkin saya yang cengeng. Ya, karena menurut saya dia anak yang sangat blak-blakan. Dan menurut saya sepertinya dia menjadikan saya sebagai contoh dan panutan. Entah
Bahkan ucapan ulangtahun yang saya berikan ke dia, sampai saat ini ditempel pada meja belajarnya. Oya, cerita sedikit tentang adik saya. Saya pernah menemukan tulisan tangan dia yang berisi doa agar dia mendapat peringkat pertama, kedua atau ketiga di kelas yang sampai saat ini belum terkabul. Tapi satu hal, yang membuat saya cukup sedih adalah ketika dia memberi penilaian kepada anggota keluarganya, saya ditaruh di nomor satu dengan emoticon senyum. /ah, menulis ini saja membuat saya menitikkan air mata/ udah lah, saya tidak ingin menangis.
Masa anak-anak saya sangat membahagiakan, masa remaja saya diberi ujian. Tapi bersyukur saya masih memilih jalan yang baik. Saya ingin anak-anak lain juga dapat bernostalgia tentang kebahagiaan masa kecilnya, juga saya ingin anak-anak yang juga mengalami hal yang sama seperti saya dapat melaluinya dengan baik dan benar.Â
Kepada anak-anak Indonesia, disini saya tidak bermaksud menyombongkan diri atau bahkan menggurui kalian karena sejatinya saya juga manusia yang belum tentu lebih baik dari kalian semua. “Ingat Agamamu, Ingat Orangtuamu, dan Ingat Harga Dirimu”Â
Dan kepada orangtua, saya ingin berpesan yang mana pesan ini juga sering saya sampaikan kepada orang tua saya. Biarkan anak-anak berkembang sesuai keinginannya, namun tetap diawasi dan selalu dalam pengarahan dan pengawasan. Kurangi perlakuan kasar terhadap anak, baik secara verbal dan fisik. Ingat! anak bukan lawan yang sepadan. Jaga hubungan dengan anak, santai tapi bertata krama. Anak akan bertumbuh dewasa, dan setua apapun anakmu ia tetap anakmu yag selalu butuh kasih sayang, bimbingan, doa dan restu orang tua.