Aku nggak tau harus bilang apa, setiap kata yang kutulis kemarin hilang begitu saja.
Tadi malam aku membuka ruang obrolan antara kita, tak ada yang spesial, hanya sebuah ucapan selamat atas bertambahnya usiamu.
Seperti biasa, dengan nada datarmu, kamu berkata ini bukan hari dimana kamu dilahirkan, katamu ulang tahunmu masih lama, aku mengernyit bingung, berpikir apa aku yang salah menandai tanggal?
Aku bilang padamu, nggak. Aku nggak salah tanggal, tahun lalu 20 mei, tahun ini ulang tahunmu berganti ya? Aku mengeluarkan kalimat sarkas.
Ulang tahunku 365 hari lagi, sahutmu beriskeras, itu satu tahun dari sekarang, haha aku sudah lebih pintar sekarang, tak bisa dibodohi olehmu lagi. Aku menyahut dengan semangat.
Masa? Aku cuma ingin bilang, terimakasih atas ucapannya, dan kamu adalah orang kedua yang mengucapkannya.
Aku tak bertanya, siapa orang pertama yang mengucapkanmu, aku hanya bilang coba kalau aku memperhatikan jam, pasti aku yang pertama mengucapkanmu haha.
Lalu, ternyata setelah aku pasang fotomu di status whatsapp, teman lama kita membalas, dia mengucapkan selamat ulangtahun padamu lewat diriku, katanya dia tak punya nomormu. Aku membalas, bahwa aku akan menyampaikan padamu.
Aku bilang padamu bahwa kamu mendapat ucapan dari teman lama kita, kamu membalas dengan mengirimkan nomormu. Aku meneruskan balasanmu ke teman lama kita. Lalu aku membalas pesanmu, kataku nomor whatsapp mu dan nomor yang kamu berikan kok berbeda? Mana yang perlu kuberikan? Nomor whatsapp atau nomor ini? Tanyaku bingung.
Kamu menjawab, apanya yang berbeda? Jelas-jelas itu nomor yang sama. Aku kembali mengernyit.
Ah iya, ternyata aku yang salah. Bodohnya aku haha, ternyata di penyimpanan teleponku nomormu dimulai dengan kode +62, sedangkan yang kamu berikan 08. Balasku padanya.
Katamu, kamu sudah tidak bodoh, ternyata masih sama. Katamu sarkas.
Membacanya membuatku kesal denganmu,
Itu kesalahan teknis! Sahutku,
Jadi aku sudah tidak bodoh lagi, aku salah karena kesalahan teknis. Sahutku tak ingin kalah.
Sama seperti biasanya, kamu selalu menganggapku gadis bodoh. Kali ini tak apa, tapi selanjutnya aku akan memukul kepalamu!