Hari itu tiba, kembali pada rutinitas awal sebagai pelajar. Rupanya waktu berjalan begitu cepat, hingga nyaris tak terasa.
Sulit rasanya menulis ini dalam keramaian sembari menunggu kereta itu tiba, iya aku naik kereta. Selain menekan biaya pengeluaran, aku juga ingin menemui dia, merayakan anniversary katanya. Hm, sekali lagi kami memutuskan untuk kembali bersama, tak apalah, aku juga masih begitu menyayanginya.
Hari ini, aku meneteskan air mata–ah bukan meneteskan, jikalau rasanya air mata ini turun dengan derasnya.
Mameh, ibuku memelukku di pagi buta, sebab dia tak bisa ikut mengantar akibat harus bekerja, dia memelukku erat, sembari membisikkan kata maaf.
Jika kalian–ah kalian siapa, disini hanya ada aku– membaca isi tumblr ku, mungkin kalian tahu, mameh bukanlah ibu baik-baik. Terkadang mameh juga menyakiti hati kecilku, dan aku pun demikian.
Tapi, tadi pagi–tidak, dari semalam. Mameh terus menerus menggumamkan kata maaf. Beliau bilang, beliau minta maaf kalau bahkan hanya untuk memberi uang sangu untuk aku berangkat kuliah saja ia tak bisa. Ah bahkan mengetik sambil mengingat kejadiaan tadi pagi saja mataku memanas.
Beliau bilang, aku harus jadi sarjana. Aku tak boleh seperti lelaki gila–yang sayangnya adalah abangku itu. Tak boleh. Beliau berkali-kali menggumamkan kata maaf sembari memelukku, dikecupnya kepala dan pipiku. Air mata kami mengalir deras, tak ada yang bersuara selain segukan nafas kami.
Sampai beliau tiba di tempat kerjanya, beliau masih mengirimkan pesan permintaan maaf, beliau tahu aku sebetulnya kesal, namun kami semua bisa apa?
Tak ada yang bisa kami lakukan.
Beliau bilang, aku harus belajar yang benar. Lalu mengubah hidup keluarga ini.
Ah, beban yang berat diberikan lagi. Tapi, jelas saja aku mengerti kenapa aku yang diberi tanggungan sebesar itu.
Aku, gadis kecilnya. Ternyata sudah sedewasa ini.
Ah selain mameh, bapak juga meminta maaf.
Tentu dengan gengsi yang sudah beliau turunkan–meski masih sepatah dua patah kata yang beliau ucap. Hanya meminta maaf sebab beliau tak memiliki uang. Aku bilang, jika nanti kantin yang mama buat sudah banyak barang, jaga kantinnya. Sebab beliau, dengan segala gengsinya yang tinggi tak mau sebelumnya. Beliau bilang iya–entah apa yang beliau maksud iya, mungkin saja hanya sekedar menjawab.
Hari ini, rasanya tak se-semangat tahun lalu. Sebab tahun lalu aku berandai begitu banyak, namun harus dihadapi kenyataan yang begitu pahit.
Hari ini, ingin kembali ke Singaraja, sedih sekali rasanya. Seperti tak selera, tak memiliki gairah.
Hari ini, semoga tak ada lagi ditinggal seperti saat masih disana.
Jakarta, 29 Agustus 2022; 09:39 WIB. Stasiun Pasar Senen.