Ekspetasi? Memang Banyak Yang Tak Sesuai
Setelah memang ke makam Papa bersama diri seorang wanita itu, diriku pun di hancurkan secara halus, tidak berlebihan juga tapi memang diri ini sudah siap untuk semua. Sudahlah lupakan, maafkan dirinya, lalu tinggalkan semua yang jadi sesal.
Seiring berjalanannya hari, ada seorang yang ku sapa, ramah sekali caranya membalas sapaanku melalui pesan singkatnya. Dia berharap aku ada di Jogja bersama para muridnya dalam rangka perpisahan sekolahnya. Ya dia seorang Guru, Guru dari Sekolah Menengah Pertama dan guru mata pelajaran Fisika. Aku sangat membenci pelajaran itu, tetapi mengapa tidak pada guru pengajarnya sekarang?
Sudah sebuah lagu balada ku ciptakan tanpa sengaja untuk dirinya, emote peluk selalu terlampir disaat malam sebelum tidur kami, dan obrolan ngelantur saling hujat otak kiri juga otak kanan lengkapi harmonisasi kami disini. Aku merasa menemukan seorang yang tak kaku untuk candaan serta apapun yang kami obrolkan. Semuanya nyambung saja rasanya.
Tapi lihatlah disaat pertemuan, kami rasanya langsung tertawa disaat berjabat tangan di restoran cepat saji di kawasan yang tak jauh dari tempatnya mengajar. Kami saling melihat dalam lalu berbicara apa saja yang ada di sekeliling. Ternyata dia punya ketakutan hahahaha. âBis aku takut kalo nanti ada Murid heheâ ternyata itu. âYa kalo ketauan kan nantinya makin jadi selebriti di sekolah kamuâ sambil tersenyum sipit kepadanya dia pun tertawa dan memukul pundakku. Selang 5 menit aku menjelaskan mengenai pekerjaanku aku memesan makanan âKamu pesan makan sana Bisâ.
Big Mac yang dipaketkan, bersama Spicy Chiken Bites, serta 2 air mineral jadi bahan santap siangku bersamanya. Sambil membawa nampan ternyata diriku dikagetkan dengan segerombolan anak laki-laki remaja yang mengerubungi si guru fisika ini, ya ya ya ketakutannya jadi kenyataan, muridnya memergoki dirinya bersamaku yang dibilangnya âEngga ini teman ibu dari salah satu online shop lagi survey para buyyernya mengenai bagaimana berbelanja disanaâ. Tawa kami pecah, dan aku hanya tersenyum melihat para muridnya yang menyalami dengan mencium tangan dirinya. Lalu dia berbisik kepadaku âAneh ya muka ku kan juga bisa dibilang seumuran mereka terus tanganku dicium gitu hihihiâ sambil melihat tawanya aku merasa sangatlah manis Ibu Guru ini yang bisa konyol bersama diriku dan jokes bawaanku.
Sambil memakan hidanganku, aku menunjukan bagaimana caraku membanting gitar karena kesal jika manggung, dengarkan lagu Ed Sheeran, lalu Teddy Picker Arctic Monkyes yang jadi iringan kami. Lalu matanya mencoba fokus ke satu hal lalu dia bilang kepadaku âBis aku minus 3 nih, kamu ngeliat ga tuh ada dua orang merhatiin ke arah kitaâ aku jawab âYa dua orang anak perempuanâ. Lalu dia melihatku kemudian menjulurkan tangan memanggil ke arah dua anak perempuan SMP itu, Dan astaga, kembali muridnya pergoki kami hahaha. âCiieee Ibu lagi sama siapa mesra banget...â goda satu anak perempuan yang dikuncir rambutnya. âEngga kok ini temen Ibu dari online shop, dia lagi survey Ibuâ jawabnya kembali sama. âEngga bu saya pikir ini suami Ibu lohâ celetuk teman anak perempuan ini yang berkacamata. Aku dan Bu Guru ini hanya saling menatap heran dan tertawa. Kemudian muridnya pun duduk satu meja di depan meja kami.
Aku lalu membisiki Ibu Guru âAaaamiiiinnn kalo kita bener bisa jadi kayak yang disangkaâ dirinya tertawa sambil memukul pundakku. Ya Allah, manis sekali Bu Guru ini. Kemudian kami melanjutkan obrolan apa saja, apapun itu, yang pasti kami selalu tertawa dan tak lupa mengingatkan untuk Curhat KepadaNya secara 5 waktu. Lalu setelah itu kami kembali melanjutkan apa yang harus kami lakukan di akhir pekan ini yaitu nonton. Kembali ke pembahasan kami soal Incidious 3 yang belum sempat kami tonton akhirnya kami putuskan untuk menonton walau disini Bu Guru keluhkan soal jarak pandangnya nanti, dia memutuskan apabila kaca matanya tak tertinggal nonton pun ga jadi soal, tapi kalo tertinggal lebih baik tidak. Akhirnya dirinya tak menemukan kacamatanya setelah di carinya itu dengan merangsek ke seluruh bagian tas. Ya ya ya, tapi progres untuk nonton tetap jadi-jadi aja tuh hahahaha! Tak lama berselang dua anak yang sempat menuduh kami Pasutri pun izin pamit pulang âBu saya pulang dulu ya Bu, semoga langgeng, langgeng temenannya dehâ goda muridnya sinis sambil tertawa, aku pun terus menjaga karisma dengan hanya tersenyum dengan kedua muridnya. Lalu mereka mencium tangan bu Guru ini dan pulang. âMereka baru kelas 8 Bis, wah bisa heboh nih yang ada di sekolahâ sambil mengeluh dia pun juga tertawa, bodohnya.
Sempat ada ulah konyol dariku yang ku pertontonkan kepada Bu Guru ini, melempar Spicy Chicken Bites ini ke udara lalu aku memakannya langsung saat di lempar. Dia tertawa sangat geli karena kelakuan minus ku itu, dia memberikan ku nilai setengah baik karena gagal 3 kali dalam melempar dan memakan ayam kecil itu. Kemudian dia bertanya padaku âBis, kamu bisa kan naik kendaraan?â. âjelas bisalah, kan aku cuma di larang dokterâ spontan aku menutup mulutku sambil tergagap-gagap menjelaskan âIya, jadi udah boleh sebenernya. Cuman akunya aja yang bandel hahahaâ Dia akhirnya percaya kepadaku dan saat kami berada di parkiran dirinya menantangku âCoba tuh motorku di keluarin dulu, kalo gak bisa ngeluarin motor kita gak jadi ya!â Aku cuma tersenyum sambil jawab âIYAâ lalu ku keluarkan motor itu tanpa hambatan.
Menaiki sepeda motor berdua dengannya dengan aku sebagai pailet nya, ceee elaaahh pailet! Pilot kali! Telusuri daerah Bekasi sampai ke Summarecon Mall Bekasi dengan posisi pengendara nakal tanpa satu helm si penumpangnya, lantas dirinya mengarahkanku ke jalan tikus bebas hambatan tapi rawan lubang di jalannya. Kecepatan kami tidak sangat cepat karena diriku sangat berhati-hati dengan sepeda motor matic milik bu guru ini sangat tidak nyaman karena sering menghantam lubang, agak kagok karena sering berbelok ke kiri otomatis, tapi adapatsi ku hanya 15 menit berkendara lalu langsung sangat terbiasa. Ke POM Bensin untuk mengisi bensin, melihat sekumpulan anak menceburkan diri di kali yang meluap dengan kulit gesang mengkilap, juga menceritakan seorang mantan teman Gurunya di sekolahnya yang anaknya diberi nama AXL tapi ditulisnya EXCEL seperti program Microsoft Windows. Akhirnya hampir setengah jam kurang lebih lamanya, pukul 15:20 kami sampai juga di Summarecon Mall Bekasi.
Berjalan kembali setelah memarkirkan motor, bercerita ngalor-ngidul sampai memerhatikan orang dan mulai ku gunjing konyol satu persatu membuat kami tertawa tak karuan. Sesampainya di bioskop kami mulai memilih apa yang harusnya kami tonton, target awalnya sih Incidious 3 tapi melihat Jurassic World jadi opsi berikutnya. Di antara film yang terpampang di list, ada Jurassic World, Incidious 3 dan aku melihat satu daftar lagi yang akan di putar di Teather 4 adalah San Andreas! Karena saat mengantri itu ada bejubel orang yang haus akan Jurassic World sedangkan Jurassic World itu baru bisa di tonton kembali pukul 19:00, sedangkan dirinya ngga bisa tuh pulang kemaleman dan kasian juga nantinya. Akhirnya aku menjalankan Plan C dengan meyakinkan dirinya jika film San Andreas itu lebih asyik di tonton ketimbang Incidious 3 karena mengenai bencana alam dan akhirnya dirinya pun sepakat untuk itu. Film San Andreas sendiri di putar pukul 16:20 sedangkan kami memesan tiketnya pada pukul 15:45 Â hhmmm masih lumayan lama untuk itu.
Kami berjalan mencari letak arah teather 4 itu dimana, tapi si Ibu Guru yang minus 3 ini menujuk arah âItu kali ya Bis...â dan itu arah penunjuk toilet setelah lebih ddi pertegas di perdekat. Ya aku hanya bisa tertawa lepas saja dengan dirinya, sampai kami terduduk dan melihat promo film TED 2 yang masih Coming Soon. Ditengah-tengah obrolan âBis, masih lama ya? Ashar dulu yuk...â ajak Bu Guru itu, baiklah kami langsung bangun dan menuju ke musholla mall. Setelah sampai di musholla pria akhirnya kami memutuskan untuk berpisah dan akan bertemu di depan outlet Shafira di lantai 2 persis di sebelah Musholla pria,
Hanya bisa bersyukur dengan semuanya,apapun itu yang terjadi, dari manis sampai pahit aku hanya bisa tuangkan melalui sujud syukurku. Ya, semoga semua ekspetasi ku bisa jadi nyata. Tidak ada yang tau bukan bagaimana ke depannya?
Seselai keluar dari musholla, aku menunggu Ibu Guru di bangku yang letaknya 50 meter kurang lebih dari Shafira. Tapi ternyata ibu Guru sudah menungguku disitu hahaha. Kami kembali berjalan dan menuju ke teather 4. Film segera di mulai memang dengan kami duduk di deretan B di urutan 05-06. Baiklah pertunjukan di mulai.
Nikmati semua deru film yang memang menegangkan dan ada drama di dalamnya, Sok menjadi pengkritisi film juga menkait-kaitkan ilmu fisika dengan adegan terjun payung di dalam film tersebut. Dua kali telepon sempat berbunyi dan bu guru pun mengangkatnya, aku sempat khawatir bila dirinya disuruh pulang cepat padahal film pun belum mencapai klimaksnya. Tapi ternyata tidak, kami tetap melanjutkan sampai film itu selesai. Setelah itu tak lupa kami saling mengingatkan untuk Curhat di kala Maghrib kepadaNya selesai melakukan kewajiban barulah kami bergegas untuk pulang.
Menuju parkiran ada saja yang membuat diriku merasa sangat keheranan, dengan wajah paniknya Bu Guru berujar âYahh! STNK nya di tas yang satu lagi! Gimana dong!â Di Summarecon Mall Bekasi STNK harus ada, jika tanpa STNK memang dilarang masuk, karena kami tidak saling sadar soal STNK yang tertinggal terlebih diriku baru pertama kali kesana jadi aku tak ketahui soal ini. Diriku cuma bisa tenangkan diri dulu baru setelah itu coba tenangkan Ibu Guru satu ini. kemudian bagaimana? Ibu Guru sempat salahkan ku dengan nada bercanda, tapi ya memang lagi keadaan begini wajar jika candaan harus ada agar semua tak makin terbawa emosi. Akhirnya diriku dengan nada diplomatis bilang âYa udah biar aku yang maju nantiâ. Kemudian makin mendekatlah kami ke penjaga parkir dan bilang sambil nyengir âMaaf Mas STNK nya tertinggal karena memang tadi terburu di tas yang satu lagiâ ujarku, kemudian bu guru dengan mengorek tas dan isi dompetnya berkata ke pada si penjaga parkir âYah Mas KTP aja ya Mas, fotocopy-an gak apa ya?â 100km per jam aksara yang di keluarkan Bu guru dalam kepanikannya lalu si Mas penjaga parkir mengiyakan yang di maksud Bu Guru. Lega lah dirinya karena memang selalu persiapkan fotocopy KTP di dalam dompetnya. Akhirnya kami menuju ke daerah Mall Metropolitan untuk diri Bu Guru yang hendak mengantarku naik Mayasari lagi disana.
Lalu? Ada lagi kekonyolan berikutnya. Dua orang Polisi sudah memantek di kawasan lampu merah sebelum MM, nah nah! Makin deg-degan lah kami dan aku pun bilang âJangan diliatin, udah biasa aja, jangan di suggest si Bapak Polisi bakal kemari hahahaâ tak lama berselang ada dua orang pemuda di garis depan lampu merah yang di pinggirkan. Yah, lampu merah masih menyisahkan 50 detik lagi, tapi kemudian di detik ke 38 Pak Polisi sudah menghijaukan. Pertanda baik agar lolos! Dan akhirnya kami pun lolos!  Tanpa tertilang! Hahahaha!
Seratus meter dari lampu merah aku meminggirkan motor dan Ibu Guru mengambil alih pailetnya sekarang kemudian diriku lagi-lagi agak kesulitan untuk membuka helm si Ibu yang rempong bila sampai di tekan âklikâ saat dikenakan, Ibu Guru membantuku untuk melepaskan itu, dan pada akhirnya dirinya juga diriku saling berucap âHati-hati di jalan, kabar-kabari kalo udah sampe rumahâ Aku pun menyebrangi jalan menuju ke arah tol Bekasi Barat dan menunggu patas 9B ke Kampung Rambutan. Hari yang melelahkan, tapi sangat menyenangkan. Apa yang akan terjadi berikutnya? Aku tentu tak tahu rencana Tuhan.