Selamat hari rayaa
Semoga atas segala luka dari manusia, hati kita senantiasa dimampukan untuk lapang memaafkannya
KIROKAZE
Misplaced Lens Cap

Love Begins

Origami Around

titsay
Jules of Nature
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

ellievsbear
Stranger Things
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

izzy's playlists!
Today's Document
Game of Thrones Daily
I'd rather be in outer space 🛸
Keni
trying on a metaphor

❣ Chile in a Photography ❣
Show & Tell

seen from Canada
seen from United States

seen from Sweden

seen from United States
seen from Malaysia

seen from Canada

seen from T1
seen from United States
seen from United States
seen from Brazil

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from T1
seen from Belgium

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Ireland
seen from Sweden
@suzytasya
Selamat hari rayaa
Semoga atas segala luka dari manusia, hati kita senantiasa dimampukan untuk lapang memaafkannya

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
“You cannot always be happy but you can always be brave. And that is the beginning of everything.”
— Unknown
“It hurts every day, the absence of someone who was once there.”
— Marie Lu, Champion
no one appreciate me🙂
I will remove anyone from my life to protect the peace that I've worked so hard for. Nobody took me out of the dark. I did it on my own.
Unknown
For anyone saying that now, because of cutting people off to protect your peace, you're alone - I know that feeling, I was thinking the same, at the beginning you will be sad, you will think that only with people you can be happy but remember that toxic people, and people who don't fight for your happiness are not people you want to be around, you may think that not having people around means being alone, but the true meaning of being alone is being around people who make your life difficult, who don't appreciate your effort, who make you feel little when you should feel like you're at the top of the world, you can feel alone even in the crowd of people. You did what you had to do, you protected your inner child, you protected your older self, you protected something you worked so hard for, don't belittle yourself, you are strong even if the amount of people around you is not the same as it was before. Having even one true friend is like having an army.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
"Aku rindu."
"Pada siapa?"
"Diriku yang dulu."
"Kenapa dgn dirimu yg sekarang? Bukankah dia adalah versi lebih baik dari dirimu yg dulu? Bukankah.. untuk sampai ke titik ini, dirimu yg dulu sudah berkorban dan berjuang begitu keras?"
"Ya. Karena itu, kadang, aku tetap rindu diriku yg dulu. Walau sebenarnya, menjadi aku; dulu ataupun kini, sama saja lelahnya."
Eh, tapi hidup memang lelah kan ya? Hidup ini sejatinya adalah kumpulan dari ujian demi ujian bertujuan surga. Surga itu memang mahal. Tak mungkin dicapai tanpa usaha dan pengorbanan yg melelahkan. Kuat2 yaa kita 😌😌
“Sometimes you have to be silent as no words can express what you’re feeling deep inside.”
— Unknown
“The soul always knows what to do to heal itself, the challenge is to silence the mind.”
— Book of serenity
“We try to hide our feelings but we forget our eyes speak.”
— Unknown
“Tak tergantikan, walau kita tak lagi saling menyapa..” Mungkin kalimat ini, akan selalu jadi kalimat awal, yang memulai air mata terpancing dari sumber terdalamnya.
Ayah.. Beberapa kali aku banyak protes tentang betapa kesulitannya aku menemukan jawaban dari persoalan hidup yang biasanya kita diskusikan tiap sore. Ini bukti betapa aku terlalu manja dan ketergantungan.
“masih banyak yang belum sempat aku katakan padamu.. masih banyak yang belum sempat aku sampaikan padamu masih banyak yang belum sempat aku katakan padamu.. masih banyak yang belum sempat aku sampaikan padamu”
Mungkin dulu aku terlalu nyaman diselimuti kabut gengsi juga ego, sehingga saat kabutnya hilang, aku malu pada diriku sendiri, betapa kerasnya hati ini sampai-sampai aku tidak pernah memelukmu untuk sekedar berbisik, betapa aku sangat mencintaimu..
Tapi, ayah.. semoga pahalaku yang tidak seberapa ini, serta do'aku yang masih kurang panjang ini, akan tetap jadi pelindung untukmu disana.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
“Some people come into your life just to teach you how to let go.”
— Reyna Biddy
“It’s better to have nobody than someone who is half there, or who doesn’t want to be there.”
— Unknown
Sebuah Catatan Kehilangan: Untuk Mereka yang Tak Pernah Sampai ke Tujuan
Berawal dari perkenalan tidak sengaja, dalam pencarian teman untuk menertawakan dunia. Dan entah menemukan kepingan yang hilang itu terasa menghangatkan.
Bersenda, bersua, berkeluh, berbagi. Bermula biasa saja, tanpa ekspektasi apa-apa.
Sampai suatu hari, ketika menanti di kolom notifikasi, ada gemuruh yang bergetar:
“Aku sudah sampai. Kabari ya kalau sudah sampai”
“Jangan lupa makan, nanti sakit”
Kalimat singkat yang berhasil membuat ruang itu berdebar. Ada seracik senyum kecil yang ikut mengembang lebar.
Kemudian, intensitas sapa mulai semakin mengencang. Banyak hal mulai ditukar: berbicara tentang riuhnya langit Jakarta, berandai tentang rindu yang menggebu, bahkan berimajinasi tentang kehidupan setelah kematian.
Lalu entah mengapa, tiba-tiba di satu malam menjelang penutupan, lidah secara tak sengaja mengucap namanya ke doa, masuk ke dalam daftar permintaan;
-agar bisa menjadi salah satu alasannya bahagia.
Lalu sejak saat itu, sejak bumi terus berotasi, menyebutkan namanya adalah suatu kewajiban. Dihentakkan keras-keras dalam diam, aku mulai memaksa Tuhan untuk menjadikannya bentuk nyata dari menyusun sebuah masa depan adalah tentang berdua- bersamanya.
Hidup terasa begitu menyenangkan. Ada renjana tumbuh di dalamnya, bergelora yang mulai menghantam logika. Inikah akhir penantian?
——-
Namun, lagi-lagi realita membuyarkan cerita indah cinderella. Tuhan seperti mengajak bercanda. Di satu jeda pergantian, dalam dekap telepon genggam, muncul percikan:
Tidak ada kata sepakat.
Tidak ada kata sependapat.
Tidak ada kata mufakat.
Perdebatan kali ini ditutup oleh getir helaan napas panjang, mementaskan sebuah jawaban: -mari merayakan kehilangan.
Walau tak pernah sekalipun memiliki, rasanya patah tetap sama. Kembali berhadapan dimana kalah adalah derana.
Kembali berhadapan bahwa Tuhan hanya sekedar mengajarkan bertemu itu tak melulu harus bersatu.
Bahwa ternyata, bahagia tak pernah tertulis dan tak memilih bersanding setelah kata “kita”.
Bahwa akhirnya, bukan bersama yang menanti di tepian, melainkan isak dan risau kesendirian.
Bahwa sekarang, kehilangan adalah sepatutnya perlu dirayakan.
Sepantasnya.
Sekuatnya.
Merayakan mereka yang tak pernah sampai ke tujuan.
Merayakan mereka yang pernah dekat, yang sekarang hanya berbentuk asa hampa yang di dekap.
Bersorak kehilangan, bersama kesendirian.
Jakarta, 24 Mei 2021.
Francesco Satria
HYTDL #5: Perjalanan Rasa Diantara Hari-Hari yang Penuh Luka
Suatu hari, saya baru saja memulai masa-masa Praktik Kerja Profesi Psikologi (PKPP), dimana saya bertugas untuk mencari dan menangani klien-klien yang memiliki permasalahan psikologis tertentu. Untuk mengawali masa-masa ini, saya membuat sebuah unggahan di Instagram yang menginformasikan bahwa saya sedang membuka layanan konsultasi di bawah pendampingan seorang psikolog senior. Saya pun mencantumkan nomor kontak yang bisa dihubungi agar para calon klien menjadi lebih mudah terhubung dengan saya.
Tanpa diduga, ada banyak calon klien yang kemudian menghubungi saya dan menyampaikan keluhan-keluhan yang mereka hadapi. Meski sudah mempersiapkan diri, nyatanya saya tetap merasa kaget membaca keluhan-keluhan yang masuk, terutama jika keluhan tersebut saya anggap sebagai sesuatu yang besar, rumit, atau tidak masuk akal. Sesekali bahkan saya jadi berpikir, “Masalah seberat ini ternyata ada, ya, di dunia ini.”
Permasalahan-permasalahan hidup yang sebelumnya hanya saya ketahui dari sinetron, film, atau cerita-cerita fiksi nyatanya bisa benar-benar nyata dan sedang dihadapi oleh orang-orang di luar sana. Mendapati hal ini, tentu ada banyak perasaan yang kemudian saya rasakan. Di satu sisi, saya khawatir tidak bisa membantu orang lain yang masalahnya tidak pernah saya hadapi. Namun di sisi lain, saya juga sangat bersyukur karena saya merasa seperti sedang dilatih oleh Allah untuk melihat hidup dan permasalahan kehidupan dari berbagai sisi lain yang belum pernah saya cermati sebelumnya.
Begitulah. Setiap orang ternyata punya hari-hari penuh lukanya sendiri, yang tentu akan berbeda dengan hari-hari penuh luka yang dihadapi oleh orang lain. Apakah saya juga mengalaminya? Tentu saja! Sepuluh tahun yang lalu, saya terkaget-kaget dengan takdir yang sama sekali tidak pernah saya bayangkan, yaitu wafatnya ayah. Sebagai anak kesayangan yang juga sangat sayang kepada ayah, perpisahan dengannya adalah sesuatu yang paling saya hindari untuk saya bayangkan. Pasalnya, saya tidak pernah mau jika hari itu terjadi. Namun ternyata, memang di dunia ini tidak ada yang abadi. Mau tidak mau, suka tidak suka, hari dimana saya harus berpisah dengan ayah untuk selamanya pun ternyata tiba juga.
Di hari-hari selanjutnya, ternyata hidup tanpa sosok ayah bukanlah sebuah perkara mudah. Kenyataan seolah menuntut diri saya untuk cepat bertransformasi menjadi anak yang mandiri, baik itu secara emosi maupun ekonomi. Awalnya, saya limpung sebab merasa kehilangan sandaran. Rasa limpung itu pun kemudian bertambah-tambah dengan adanya permasalahan-permasalahan di dalam keluarga yang harus saya hadapi, termasuk juga masalah merosotnya ekonomi.
Dalam keadaan seperti itu, saya pun harus berhadapan dengan hal lain yang tak kalah membuat saya merasa terluka, yaitu hinaan yang datang dari orang-orang terdekat, sebab katanya ayah wafat tanpa meninggalkan warisan apa-apa. Keluarga kami pun direndahkan, sampai saya tidak lagi bisa menilai apakah mereka yang melakukan semua ini melakukannya dengan penuh kesadaran atau ketidaksadaran.
Di atas langit masih ada langit. Saya percaya bahwa bagaimana pun, saya tidak akan pernah menjadi orang yang paling menderita. Hal ini terbukti setiap kali saya mendengarkan cerita hidup orang lain. Selalu saja ada orang-orang yang memiliki masalah yang lebih berat. Hingga pada akhirnya, saya pun menyadari bahwa luka-luka yang saya hadapi masih jauh lebih ringan jika dibandingkan dengan luka yang dihadapi oleh orang lain. Meskipun demikian, beberapa kali sempat terlintas sebuah pertanyaan di benak saya,
“Mengapa hidup manusia ini seolah penuh dengan luka? Apakah kita memang hidup untuk terluka? Apakah kita memang ditakdirkan untuk menjalani hari-hari yang berpotensi untuk membuat kita terluka?”
Dulu, ketika luka-luka yang sedang saya alami sedang sakit-sakitnya, saya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan penuh tendensi emosi. Saya menyalahkan Allah sebab memberi saya hari-hari yang sama sekali tidak ingin saya jalani. Di sisi lain, saya pun marah, sebab merasa tidak diberi keleluasaan untuk hidup dengan tenang dan nyaman. Namun, Alhamdulillah, atas seizin-Nya saya tidak pernah sampai berpikir untuk berhenti dalam menjalani hidup ini.
Apakah yang saya pikirkan itu benar? Apakah pola pikir demikian adalah pola pikir yang dapat dibenarkan? Tentu saja tidak! Dilihat dari sisi manapun, pemikiran seperti itu tetaplah sesuatu yang salah. Saya pun menyadari, pemikiran itu hadir sebab saat itu saya tidak benar-benar mengenal dan memahami tentang siapa diri saya di hadapan Allah, sehingga saya merasa berhak untuk menentukan hidup seperti apa yang ingin saya jalani. Saya juga sadar bahwa saat itu saya tidak benar-benar mengenal siapa Allah bagi hidup saya, sehingga saya merasa boleh bersandar pada diri saya sendiri. Tidak hanya itu, kurangnya ilmu juga membuat saya merasa sangat paham tentang hakikat hidup, padahal sebaliknya, sehingga saya pun tidak terima ketika Allah menghadiahi saya dengan ujian dan luka yang harus saya hadapi. Padahal,
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” — QS. Al-Baqarah : 155
Ah! Bagaimana bisa saya menolak diuji dan terluka sementara ujian adalah sesuatu yang niscaya? Bagaimana pun, nyatanya ujian dan luka adalah sesuatu yang kehadirannya tidak dapat ditolak. Namun, apakah dengan menghadirkan luka maka itu berarti bahwa Allah berniat menyakiti kita dan membiarkan diri kita terluka? Tentu saja tidak! Sebab Allah adalah Rabb, yang sayang dan cinta-Nya kepada kita melebihi sayang dan cinta siapapun orang yang ada di dunia, sekali pun itu adalah orangtua atau pasangan kita. Kalau begitu, mengapa Allah menghadirkan luka?
“Allah make sure that you are grow up!”
Selain ingin membuat kita membuktikan keimanan yang kita miliki, nyatanya, seperti yang disampaikan oleh ustadz Nouman Ali Khan dalam kajian Understanding Al-Fathihah, ujian dan luka pun hadir sebab Allah menginginkan kita bertumbuh. Maka, diantara hari-hari yang penuh luka dan seluruh perjalanan rasa yang menyertainya, sejatinya kita sedang diberi medan tumbuh yang seluas-luasnya. ___
Picture: Pinterest
Mengakhiri Oktober
masih ada sisa dua bulan untuk mendefiniskan secara utuh bagaimana usia setahunmu berjalan, namun Oktober terlalu muram untuk digambarkan,
Oktober yang memaksamu menulis elegi di buku catatan atau menyusun sebuah playlist lagu tentang kehilangan,
Oktober lahir dari rahim penyair yang kesulitan membaca perasaan atau menyusun kata tolong, ia memaksamu mengunci diri di bawah kolong tempat tidur di mana sering ditakuti orang-orang.
Oktober memberi isyarat bahwa musim sudah mulai menangisi tahun yang penuh duka dan kesakitan, ia membawamu ke hari-hari yang mendung namun tak pernah bertemu basah.
Oktober sebagai hitungan kesepuluh dianggap sebuah akhir bagi seorang yang ingin mengakhiri cerita hidupnya dalam satu tahun dan melanjutkan tidur panjang hingga sisa usia dibakar habis kembang api.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
I have risen from the sea.
Hello.
I’m back.
I had sent various messages regarding my blog to Tumblr and I see that many of you had reached out as well and made noise. I have no idea what on Earth happened, but I finally received an e-mail about the issue being fixed some hours ago. Nothing was really explained to me so I have no clue why my blog was deleted. Therefore I must assume it was because Tumblr does not approve of vampires or the undead.
Also, can you all believe that one year ago I predicted my own blog deletion somehow? I am obviously clairvoyant.
Back to the positive, It looks like due to our combined handiwork I am undead yet alive once more. I do not think that without everyone’s assistance and outreach to Tumblr my blog would be back. I had sent quite a few messages and support requests, so I mean it. I wanted to say Thank You. Not just for my blog, because I would have made another eventually.. But Thank You all, my Brides and Castle Dracula, and the friends of Castle Dracula, for showing to be such supportive and superb friends. All of you who helped and made your noise: Really, Thank you. I’m not certain how active I’ll be, though you all know this by now, but I’m glad to be back, and I hope everyone is well.
Goodbye…. Midnight…
“You realize the value of one only after its gone.“
I completed this in 5 minites through a haze of tears and I can say I haven’t done her justice :(