Psikologi UI; Finish Line
Sejak kapan sih saya berhenti bercerita tentang pendidikan psikologi? Kalau saya gak salah, kayaknya tulisan tentang sidang HIMPSI ini yang terakhir. Padahal itu udah hampir satu tahun lalu ya. Apologize for the break. So, Why did it happeeen? Why? why I stoped writing about psychology for a while? Nih saya ceritain! Pasca sidang HIMPSI, mahasiswa profesi HARUS menyelesaikan tesis. Jadilah kusibuk menulis tesis dan rasanya berat sekali untuk update di tumblr. Nah sebenarnya tesis saya sudah mulai digarap di awal semester 4 (bulan Januari). Which is memungkinkan sekali untuk lulus 4 semester. Tapi namapun manusia hanya berencana, Tuhan (dan dosen (?)) juga yang tentukan. Proses feedbacknya cukup lama karena satu dan lain hal. Akhirnya saya kembali mengambil tesis di semester 5 untuk meneruskan progres di semester sebelumnya. Gampang? enggak! setelah berjalan 3 bulan, di ujung semester 5.....tesisnya harus di ulang! yessss, baby. I should start again from the begining. Sebabnya apa? Orangtua klien mengundurkan diri ikut terapi (yang diangkat dalam tesis) karena beragam pertimbangan kondisi keluarganya. Karena tesis disusun spesifik by case, maka kalau di kliennya mundur kita harus cari klien baru. Kalau beruntung terapinya bisa sama (tapi untuk nyarinya butuh waktu lama.karena kamu nyari-nyari case). Kalau mau lebih cepat tapi lebih ribet, pick up klien baru, assesmen, tentuin terapi, susun ulang tesis. Saya tentu saja malas nunggu lama lagi dan pilih pilihan kedua dengan azzam "Pokoknya gue harus selesai secepat-cepatnya dan sebaik-baiknya!". Waktu itu saya ingat, tanggal 20 November sedangkan dead line pengumpulan tesis itu 7 Januari. Berarti ada waktu sekitar 1 bulan lebih. Semua sudah bilang, usahain aja yang terbaik. Gak ada satupun yang berani menjamin saya bisa lulus di semester 5. Termasuk diri saya sendiri, udah pasrah tapi tetep pengen lulus. Haha. Singkat cerita, kegiatan intervensi tesis dan penulisannya selesai di penghujung dead line. Setelah dosen pembimbing meloby-loby manager pendidikan Fakultas, akhirnya saya diizinin juga untuk sidang. Setelah semua temen-temen selesai sidang hari Senin, saya baru dapat jadwal untuk hari Selasa. Satu-satunya yang sidang hari itu dengan syarat revisi diselesaikan sehari setelahnya. Kalau gak selesai? Ulang ujian semester 6. Ditegaskan dengan surat pernyataan bertanda tangan di atas materai. MasyaAllah~ Akhirnya gimana? Sidang selesai, revisi selesai. Bonusnya ini! Setelah selesai semua, sidang-wisuda-sumpah profesi psikolog, akhirnya selesailah pendidikan S2 Profesi Psikologi-nya.Finisssh! Psikolog! Nah, jadi dari semua proses pendidikan di UI menurut saya ada beberapa tips dan trick selesaikan pendidikan tepat waktu. 1. Bikin timeline 2 tahun Perhatiin kapan kalian harus selesai 10 kasus, kapan harus sidang HIMPSI, kapan harus kumpulkan tesis sedari awal semester 1. Karena di UI sangat mungkin lulus dalam 2 tahun, hal-hal seperti ini bisa kita usahakan sendiri. Kalau faktor dosen dan klien, serahin sama Allah. Satu yang penting; diri kita selalu siap. 2. Disiplin Disiplin terhadap timeline yang dibuat. Ya gak perlu sampai stres banget juga. Stres yang bikin ganggu kedisiplinan pasti ada. Sekali-kali cari kesenangan, tapi jangan lupa balik lagi lihat timeline. 3. Jangan berhenti kerja dalam waktu yang lama apapun alasannya. Entah ini keterlaluan atau enggak, tapi ini penting. Ketika kalian selesein laporan kasus atau selesein tesis, jangan berhenti dalam waktu yang lama. Susah lagi deh mulainya. Kerjain aja sedikit-sedikit tapi jangan berhenti. Kalau merasa stuck cari udara segar, diskusi dengan teman-teman, dan bawa hasil kamu ke supervisor atau dosen pembimbing. Bilang: saya mandeg.Pasti dibantu, apapun cara mereka :p Anyway, jangan juga berhenti terlalu lama karena menikah, hamil, atau kejadian apapun. Sedih dan senang karena kejadian lain sah-sah aja. Tapi ketika kalian milih profesi psikologi, lebih baik seimbangkan semua perasaan itu supaya ga ninggalin proses pendidikan (yang cost-nya mahal banget itu) terlalu lama. Kabar terbaru sih, profesi psikologi sekarang 20juta/semester. Nah loh. 4. Berdoa, main, doa, main, cari uang! Selain tiga hal tadi, komponen berdoa jadi hal yang paling penting. Bisa jadi karena doa-doa, sekolah kita jadi lebih lancarrrr. Ohya, jangan lupa juga main dan.....cari uang!. Cari uang bukan hanya karena uangnya, tapi supaya mental juga lebih sehat. Kadang-kadang, selama pendidikan kita suka stres karena temen-temen lain sudah "menghasilkan" sedangkan kita cuma bisa ngabisin uang. Makanya, dengan dapat penghasilan...rasa bersalah dan beban di hati akan sedikit berkurang. Kalau bisa cari uang, hati senang (sekecil apapun jumlahnya). Kalau hati senang, belajarpun nyaman! :D Itu aja sih tips trik nya. Next post saya ceritain deh alur pengurusan keprofesian pasca lulus. Goodluck bagi yang mau berjuang dalam keprofesian psikologi!











