Jalanan tampak dipenuhi genangan air di beberapa sudutnya. Hujan telah membasahi pinggiran kota dan menyisakan hembusan angin yang basah, siap menggilas kulit hingga ke tulang. Surya kala itu tidak mau menyapa barang sebentar, ia sibuk bersembunyi di balik awan pekat seharian. Dingin turut pula ambil bagian dalam menyelimuti bumi di sore hari yang tak begitu bersahabat.
Suasana ini tak lantas membuat seorang pemuda yang sedang duduk di atas jok sepeda motornya gentar. Hoodie biru membungkus tubuh atasnya dari kedinginan, selagi ia berteduh di emperan ruko sembako seorang diri. Ia tampak sibuk membenarkan letak kaca spion yang miring, sesekali ia curi-curi pandang untuk becermin. Segera merapihkan tatanan rambutnya yang semrawut akibat terpaan angin.
Bola matanya bergulir melihat satu bingkisan yang tergantung di motor matic miliknya. Tangannya membuka sedikit bingkisan itu, menampakkan sekotak bolu pisang yang menggugah selera. Aromanya langsung menguar begitu saja, manis dan gurih. Ia bernapas lega kala bolu yang ia beli tadi masih apik bentuknya, mengingat perjalanan ke sini menempuh banyak jalan yang berlubang. Ia tersenyum tipis membayangkan antusias yang memakan bolu ini nanti.
Tepat di seberangnya, ada bangunan yang baru beberapa bulan berdiri. Catnya masih mengilap dan berbau khas, tercampur dengan bau tanah basah di sekitarnya. Kegiatan ia selanjutnya adalah menggosok-gosokkan telapak tangannya untuk menghalau rasa dingin yang semakin menggerogoti. Ia lakukan itu berulang-ulang sembari menunggu sosok yang akan keluar dari bangunan itu sebentar lagi. Berharap nanti ia akan diberi pelukan hangat dan nyaman setelahnya. Memikirkannya saja sudah membuat ia tidak sabaran.
Sayup-sayup terdengar suara langkah-langkah kaki yang memecah genangan air dan menciptakan cipratan telak. Terlihat segerombol remaja usia awal yang berkejaran dengan gerimis. Mereka menghiraukan bercak lumpur yang memeluk alas kaki mereka. Saling bersahutan dan melempar umpatan satu sama lain selagi kaki mereka terus bekerja. Gurat wajahnya tidak ada rasa khawatir jika nanti tetesan air hujan itu membasahi dan menyerap ke dalam kulit kepala, lalu terserang demam keesokannya. Mereka tampak semakin bersemangat ketika tujuan mereka semakin dekat. Membuat perlombaan dadakan di atas jalan yang cukup basah nan licin ini, sekali lagi mereka tidak peduli. Rasanya, ia rindu ingin bergabung merasakan kebebasan seperti para remaja itu tanpa memikirkan apa itu konsekuensi setelahnya.
Kepalanya langsung berputar pada sumber suara. Memutus bayangan iri dari aksi kejar-kejaran gerombolan remaja tadi. Ia lihat sosok yang ditunggui berdiri di seberang sana sembari melambaikan tangan dengan semangat. Berbanding terbalik dengan raut wajahnya yang kelelahan. Ia balas lambaian itu, tak lupa memasang senyum paripurna yang ia miliki untuk menyambut pemuda bersurai madu tersebut. Pemuda yang telah mencuri semua atensinya di saat pertama kali bertemu, mengubah rasa asing itu menjadi suatu keharusan di mana ia menjadi pusat dunianya.
Tidak ada yang banyak ia lakukan saat tungkai jenjang sosok itu mulai menyebrang. Rasanya matanya hanya bisa menangkap sosok manis itu saja. Hidung mancungnya yang mungil serta surai madunya yang ikut tertiup angin, mempertontonkan celah pada keningnya. Tampak sangat menawan meskipun gumpalan awan kelabu itu asyik bergelantungan di atasnya. Bibir tipis yang merekah itu berkomat-kamit sendiri seperti sedang mengutuk suhu dingin yang memeluknya. Pipi gembilnya ikut bergoyang ketika bibirnya bergerak, terlihat sangat lembut dan empuk seperti bolu pisang yang ia bawa. Tetapi memang benar, serius, ia sering mengecupi pipi tersebut, itu salah satu bagian favoritnya.
"Udah lama nunggunya ya?" Tanya Albi, pujaan hatinya. Tio menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Lantas jemarinya membantu mengeringkan tetesan gerimis yang membasahi rambut lembutnya dengan diusap.
"Capek ya? Tadi kamu ke lapangan?" Hanya dengusan kasar yang ia terima setelahnya. Bisa Tio tebak, kali ini pasti tepat sasaran. Kekasih mungilnya itu sedang menahan kesal setengah mati. Pasti ada cerita menarik yang akan Albi keluarkan. Tentu saja Tio langsung memasang telinganya untuk bersiap-siap mendengarkan keluh kesah yang terlontar.
"Nggak, aku nggak ke lapangan. Tapi aku capek banget! Hah, kamu tahu nggak sih? Sistemnya berubah lagi! Nggak sesuai sama rencana awal dari pusat, bikin bingung dan keteteran. Atasan aku juga kenapa deh marah-marah mulu. Kalau begini terus kerjaan aku makin numpuk, Tio!"
Selanjutnya yang Tio tangkap hanya omelan Albi yang sangat pedas. Ia menggebu-gebu dalam melempar ocehan penuh kekesalan itu. Ia heran mengapa Albi tidak merasa pegal di bibirnya ketika ia terus melontarkan bentuk protes yang tiada henti itu. Alangkah baiknya jika bibir itu menempel dengan miliknya. Alih-alih mendapat pelukan yang diiming-imingi rasa kangen sebagai sambutan, Tio sekarang malah menjadi tempat sesi curhat kekasihnya itu.
Sejujurnya Tio bukanlah seorang yang awam dengan istilah-istilah dalam bidang pekerjaan yang ditekuni oleh Albi. Ia tidak mengerti saat Albi menceritakan semua tentang hasil rapatnya. Ia tidak mengerti apa itu SRO, RO, business leader, dan istilah perbankan lainnya. Yang ia tahu bagaimana cara mengajar, mengoreksi, dan mengolah nilai. Mampu mengurus hewan ternak dan bercocok tanam adalah sedikit bonus yang ia miliki.
Meskipun begitu, Tio tetap menyanggupi dengar dengan saksama dan penuh minat. Ia tidak keberatan sama sekali ikut terjun dalam percakapan itu meski ia belum pernah berkecimpung sebelumnya. Baginya, menjadi pendengar adalah bentuk rasa peduli dan perhatiannya kepada sang pujaan hati. Ia akan menanggapi semampunya, memberikan pengertian kepada Albi bahwa semua pekerjaannya berjalan dengan baik dan tidak sia-sia. Meyakinkan dirinya jika semua itu akan cepat berlalu.
Tio tidak masalah sama sekali, ia cukup senang selama Albi masih mempercayakannya sebagai tempat mencurhatkan isi hati. Selama kehadirannya membuat Albi mampu melepaskan beban itu untuk mengabur terus ke udara, ia akan lakukan.
"Harusnya kamu marahin balik aja. Kamu kan lebih galak dari dia. Habis itu kamu resign, terus ikut aku deh ternak embek. Udah ah, mau nggak? Aku beli tadi sewaktu jalan ke sini." Balas Tio sekaligus mengulurkan bingkisan bolu pisang yang ia gantung.
"Ih kamu mah! Kalau kamu yang jadi embeknya aku baru setuju. Apa nih? Eh bolu?!" Manik kelam itu jadi berbinar-binar.
Dengan segera Albi membukanya, menggeser kotak bolu itu hingga tercium bau harum kue dengan aroma pisang yang menggelitik penciumannya. Ia ambil secuil bolu tersebut, membiarkan kue empuk itu meleleh di mulutnya. Perpaduan rasa manis, gurih, serta harumnya pisang berkawin dengan pas. Bersatu padu mengisi kekosongan lidahnya yang belum mengecap apa pun selepas bekerja. Bibirnya langsung menyunggingkan senyum secerah mentari.
Tio yakin bibir Albi kali ini pasti lebih legit dari biasanya. Bisa ia lihat sekarang, kekasih mungilnya mengambil potongan yang cukup sedang untuk kembali dinikmati. Rasa-rasanya ingin ikut terlibat juga, membiarkan lidahnya turut andil dalam menyesapi rasa manis yang tersisa dari mulut Albi. Membayangkannya saja membuat Tio menelan air liurnya dengan susah payah. Apa ia harus mencium Albi di lampu merah nanti? Pikirnya.
"Enak banget! Bolunya lembut, rasanya manis tapi nggak kemanisan. Terus pisangnya juga berasa banget. Pinter deh Martio beli bolunya, aku kasih empat jempol buat kamu! Kira-kira pakai pisang apa ya ini?" Albi menaruh bingkisan itu untuk kembali tergantung. Yang ia rasakan setelahnya hanya rasa hangat, ketika Tio memakaikan jaket parasut berwarna tosca yang tersampir di kepala motor begitu saja ke tubuhnya. Tak lupa membantunya mengenakan helm di kepalanya yang kecil.
"Nggak tahu, aku kan belum kenalan sama pisangnya. Yuk, cepet naik."
"Hih! Nyebelin kamu tuh. Kok aku doang yang pakai jaket tapi kamu cuma pakai hoodie itu lagi? Emang anget? Jangan sok romantis ya kamu Tio! Kalau kamu sakit aku yang pusing."
Tio hanya tergelak mendengarnya. Omelan Albi sudah bagai lagu dalam album band kesukaannya. Setiap hari akan diputar tanpa diminta. Tio tidak pernah risih, ia tentu sangat memaklumi. Apalagi ia tahu itu hanya salah satu bentuk guyonannya yang diselingi dengan omelan.
"Bawel banget sih kamu. Aku cium nih? Udah yuk kita pulang. Nanti keburu hujan lagi, kasian bolunya." Begitu pula dengan Tio, ia suka sekali menjahili kekasihnya itu. Albi tidak kembali menanggapi setelah ia sudah duduk menjadi penumpang di motor Tio. Langsung melingkarkan kedua tangannya di perut lelaki itu dan menyamankan posisi kepalanya agar tidak berbenturan dengan helm milik Tio. Memilih bahu kiri Tio sebagai sandarannya.
Tio menikmati semuanya. Ia menikmati di kala motor matic jadulnya melenggang pergi meninggalkan lokasi tempat Albi bekerja. Ia menikmati saat pemuda manis ini bersandar di bahunya dengan nyaman. Ia menikmati saat hidung bangir nan mungil itu menghirup aroma tubuhnya sangat rakus dari belakang. Ia menikmati pelukan yang Albi berikan, selagi ia menjadi pengemudi dan Albi penumpang setianya. Seseorang yang sangat berarti dan menempati hatinya di waktu yang cukup lama.
Seolah perjalanan pulang kali ini terasa lebih menyenangkan dan menghangatkan di tengah cuaca yang dingin serta lembap. Ia hanya berdoa agar jarak menuju kos Albi lebih panjang dari biasanya. Ia benar-benar ingin menikmati semua ini lebih lama.
"Tio, kamu wangi sabun, enak! Tapi lebih enak bolu pisang yang ada di cantolan motor kamu. Nanti aku mau makan bolunya dicelup kopi boleh? Kayaknya nikmat banget pas habis hujan begini. Boleh kan, boleh kan?" Anggukan kepala yang Albi terima setelahnya. Tangannya kembali melingkar lebih erat, lalu memasukkan pergelangan tangan kanannya ke dalam kantung hoodie Tio. Menggerakkan telapak tangannya mengusap-usap di sana.
"Kamu mau pakai apa? Kamu nggak boleh ikut minum kopi loh."
"Pakai susu jahe anget aja." Jawab Tio, melirik reaksi kekasihnya pada pantulan spion sebelah kiri.
"Ih udah gede masih minum susu, huuu dasar bayi gede!!!" Ejek Albi dibarengi dengan tubuh yang semakin menempel pada punggung Tio, "bayi gedenya akuuu hihihihi!" Imbuhnya.
Tio ikut bergabung dengan tawanya. Perutnya terasa geli menanggapi celotehan Albi yang menurutnya sangat membangkitkan mood. Albi itu sangat menggemaskan, ia punya cara tersendiri untuk mengekspresikan rasa sayang dan cintanya pada Tio. Seperti itu tadi salah satunya.
Tio menyodorkan telapak tangannya ke arah Albi setelah motornya terjebak di lampu merah. Memerintahkan kekasihnya itu untuk meletakkan dagunya di sana. Albi memejamkan mata, menikmati setiap belaian yang diberikan Tio pada dagunya. Membuatnya semakin mengapit jemari Tio di antara dagu dan lehernya. Tentu saja hal itu mengundang perhatian Tio, membuat ia menahan gemas dengan tingkah Albi. Jika dilihat dari sudut pandang orang-orang di sekitar, mereka bak anak ABG bau kencur yang baru pertama mengenal cinta. Bermesraan tidak tahu tempat dan bermuka tebal. Seolah motor yang ditumpangi adalah bahtera dari dunia mereka sendiri.
Tentu saja Tio tidak ambil pusing. Bodoh amat, pikirnya. Selagi tidak merugikan orang lain, Tio akan tetap acuh tak acuh. Ia menyukai ketika tangannya mampu merasakan lembutnya kulit Albi, sangat lembut persis kulit bayi. Sekarang siapa yang bayi gede sebenarnya di sini? Niat untuk mencium Albi di lampu merah pun tiba-tiba terlintas, namun dengan cepat ia tepis. Sudah dicap bermuka tebal, ingin jadi sinting pula? Oh tidak, kasihan Albi harus menanggung malu memiliki kekasih yang agresif seperti ini.
"Mau mampir dulu atau langsung pulang, hm?" Tanya Tio yang sudah menarik tangannya kembali dan berpindah untuk menyentuh lengan yang masih setia melingkar di perutnya.
"Mau pulang dulu aja, Tio. Aku mau cepet-cepet makan bolunyaaa." Jawabnya, "tapi kalau nggak hujan lagi, habis itu kita jalan-jalan ya. Pahamkan prajuritku?"
Tepat ketika lampu sudah menyala hijau, motor mereka kembali melaju. Tio lantas mengiyakan permintaan tersebut sambil berkata 'Siap laksanakan komandan!'
Biarlah, apa pun yang membuat pujaan hatinya senang akan selalu ia turuti. Cuma perkara jalan-jalan itu tidak sulit untuknya, bahkan sampai tangki bahan bakar miliknya mengering pun ia sanggupi. Ia percayakan semuanya pada sepeda motor kesayangannya, kemana pun roda itu berputar membawa mereka. Melintasi berbagai persimpangan, lampu-lampu merah yang tersebar di kota, bahkan dari jalan aspal berubah menjadi bebatuan juga tetap ia patuhi.
Semua terasa mudah, terasa sangat berarti meskipun nantinya sinyal GPS tidak berfungsi lagi. Asalkan ada sosok manis ini yang selalu mengisi jok belakangnya. Sudah ia katakan kan? Albi sangat berarti baginya. Pusat segala dimensi yang ia punya. Berada di sisinya, menemani setiap langkahnya, menjadi sosok yang dapat merangkul jemarinya, serta bagian dari tokoh yang ada di setiap ceritanya, adalah keinginannya, harapannya. Selagi Tuhan mengizinkan, selama itu pula ia menaruh segala kasihnya pada yang tercinta.
"Selamat ulang tahun ya."
Entah Albi mendengarnya dengan jelas atau tidak. Suara bising kendaraan berlalu-lalang di sekitar mereka membuat Tio harus sabar bila Albi tidak terlalu mendengar apa yang ia ucapkan.
"Kamu ingat? Kirain udah saingan sama mbah-mbah, pikunan." Ternyata Albi mampu mendengarnya. Renyah tawanya memanjakan telinga Tio yang sudah memerah gemas ingin membawa tubuh itu ke pelukannya. Ditambah wajah mungil itu semakin ditenggelamkan pada bahunya, menahan semburat merah muda di pipinya.
"Kalau kata orang-orang di Twitter, terima kasih kepada dinosaurus yang telah punah akibat hujan meteor. Lalu tertimbun, menjadi minyak bumi dan diolah untuk dijadikan bensin yang digunakan mobil ambulans menghantar Mamah pergi ke rumah sakit. Terima kasih kepada seluruh petugas medis yang memperlancar proses persalinan Mamah hingga lahirlah Albi ke dunia. Terima kasih juga buat bidan posyandu yang setia memberikan imunisasi kepada Albi, sampai Albi tumbuh jadi anak yang sehat hingga sekarang. Bisa ketemu cowok ganteng macem Martio pula. Terima kasih semuanya, terima kasih ya Tuhan."
Tidak ada ucapan terima kasih kembali maupun kata sama-sama sebagai balasannya. Tetapi ia menangkap gelak tawa yang terdengar cukup geli sampai terbahak-bahak. Membuat dirinya mau tidak mau turut terlibat di dalamnya. Selanjutnya hanya gigitan main-main yang ia terima di bahunya, sudah pasti pelakunya adalah orang yang sudah mencuri semua perhatiannya.
Gerimis yang sempat menemani perjalanan mereka kini telah berhenti, meskipun mendung masih ada. Sepertinya doa Tio dikabulkan. Dengan begini ia dapat mengurangi kecepatan laju motornya. Ingin lebih berlama-lama menikmati kebersamaan dengan cintanya. Bercerita serta menertawakan hal-hal kecil bersama, bahkan setelah lampu jalan mulai menyala dan menyoroti kepergian mereka.