Bumi kepada Ambara
Surakarta, 14 Februari 2025.
Izinkan aku menuangkan perasaan yang selalu memenuhi hati. Perasaan yang acap kali banyak mengelabui debaran hati yang tak pernah ingin berhenti. Kerap kali mendorong untuk berdiri di tepian batas logika dan kenyataan yang diyakini. Inilah sebuah pengakuan tanpa mengenal dosa untuk diampuni.
“Aku mencintaimu lebih dari yang bisa diungkapkan oleh kata-kata, lebih dalam dari lautan yang tak berujung dalamnya, lebih luas dari cakrawala yang membentang luasnya.”
Menghabiskan waktu bersamamu adalah anugerah, setiap detik yang kita lalui adalah kenangan yang tumpah ruah. Aku selalu memujamu, tak peduli fajar hingga petang, dalam sepi maupun riuhnya zaman. Kau ialah keindahan yang tak pernah pudar, pelita yang lahir dari kegelapan layaknya rembulan.
Kau bukan hanya sekadar yang kucinta, melainkan rumah yang memelukku ketika lelah. Tempat dimana aku merasa paling aman dan diharapkan. Menghalau badai yang sedingin pilu dan merengkuh hangat yang sedamai rindu.
Hadirmu bagai melodi merdu dari harap semestaku, mengalun lembut di setiap ruang hati. Tuturmu adalah nyanyian yang menenangkan, tatapanmu adalah ketenangan yang selalu dicari-cari dan aku selalu turut ikut menyelami.
Kau begitu indah, begitu memesona, hingga membuatku bertanya-tanya,
“bagaimana bisa seorang yang seistimewa dirimu sudi hadir untukku?”
Berpuji syukur setiap hari atas hadirmu, atas cinta yang kau suguhkan dengan tulus, atas semua hal kecil yang kau lakukan untuk membuatku menelan suka. Kuingin kau tahu bahwa kau yakni alasan di balik seutas senyum, kau adalah akhir yang selalu ingin kutuju.
Kaulah gemintang malam, cahaya yang tak pernah redup meski badai mencoba menggoyahkan. Kaulah mentari yang tak pernah lelah menghangatkan bumi.
“Dalam genggaman tanganmu, aku menemukan ketenangan, dalam dekapanmu, aku menemukan dunia yang lebih indah dari yang pernah kubayangkan.”
Kaulah tempatku pulang, tempat dimana aku tak perlu takut untuk dihakimi sekawanan angin topan. Denganmu, aku cukup, aku dicintai, dan aku hidup.
Kuingin kau tahu bahwa aku akan selalu ada. Dalam suka maupun duka, dalam tawa maupun air mata, dalam putih maupun jelaga. Aku akan mencintaimu di setiap musim yang ada, di setiap perjalanan yang kita tempuh bersama. Keinginanku menjadi tempat dimana kau bersandar saat zamin terasa berat, menjadi tangan yang selalu siap menggenggam, menjadi hati yang selalu menerima dan mengasihi.
Mencintaimu selayaknya bumi kepada ambara. Kaulah sang rembulan dan mentari yang dicintai bersamaan. Tak ada garis waktu yang terbatas, tak ada masa yang harus tuntas. Sebagai bumi, aku hanya ingin menjaga secercah sinar yang diberikan. Menerimanya dengan keadaan yang paling damai, menjaganya dari tiap pukulan yang menghancurkan. Bumi hanya tahu jika ambara adalah takdir yang dilahirkan bersamanya.
Itulah bumi kepada ambara. Bila pesan ini tiba di ujung angkasa, maka jadilah ambara yang seindah nirmala. Dan bumi akan menjadi hamba yang paling setia.












